Sejak pandemi melanda beberapa tahun lalu, cara kita bekerja berubah total. Model kerja jarak jauh atau kerja remote yang awalnya dianggap sebagai tren sementara, kini telah menjadi gaya hidup baru yang sangat diminati.
Banyak orang bermimpi bisa bekerja sambil rebahan di kamar atau nongkrong di kafe tanpa perlu merasakan drama kemacetan jalan raya.
Namun di sisi lain, tidak sedikit perusahaan yang mulai mewajibkan karyawannya untuk kembali ke sistem konvensional, yaitu Work from Office (WFO) alias kerja dari kantor.
Bagi masyarakat awam, perdebatan ini sering kali hanya berputar pada masalah efisiensi waktu dan ongkos. Padahal, ada taruhan yang jauh lebih besar di balik pilihan ini, yaitu kesehatan fisik (raga) dan kesehatan mental (jiwa) kita sendiri.
Model kerja WFO sudah lama dikeluhkan karena kerap menguras energi fisik dan mental pekerja akibat stres kemacetan lalu lintas, polusi, serta waktu perjalanan yang panjang.
Namun, sistem kerja remote yang awalnya dipuja-puja sebagai solusi ideal ternyata juga mulai menunjukkan sisi gelapnya. Banyak pekerja remote yang mengeluhkan rasa kesepian yang mendalam hingga stres karena waktu kerja yang menjadi tidak keruan.
Akibatnya, baik di rumah maupun di kantor, keluhan seperti kelelahan kronis (burnout) dan penurunan kesehatan fisik tetap saja mengintai para pekerja.
Lantas, di antara keduanya, mana sebenarnya sistem kerja yang paling sehat untuk jiwa dan raga kita? Kenyataannya, tidak ada pemenang mutlak. Pilihan yang paling sehat sangat bergantung pada bagaimana kita mengatur waktu pribadi dan seberapa besar kelonggaran yang diberikan oleh tempat kerja.
Sisi Gelap Kerja Remote, ketika Rumah jadi Kantor Tanpa Jam Pulang
Bekerja dari rumah sekilas terdengar sangat menyenangkan karena menawarkan kebebasan fisik. Kita tidak perlu mandi pagi-pagi buta atau berdesakan di kereta. Namun tanpa disadari, sistem ini sering kali membuat batas antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesional menjadi kabur.
Ketika meja makan atau kasur yang harusnya menjadi tempat istirahat berubah fungsi menjadi meja kerja, otak kita akan kesulitan untuk beristirahat.
Tanpa adanya perjalanan pulang kantor sebagai penanda bahwa tugas hari itu sudah selesai, pekerja remote cenderung terus membalas pesan, mengecek email, dan menyelesaikan tugas hingga larut malam.
Terkait fenomena ini, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) bersama Eurofound dalam laporan riset bersama berjudul "Working anytime, anywhere: The effects on the world of work" yang diterbitkan resmi pada tahun 2017, mencatat sebuah fakta penting:
"Pekerja remote memiliki kecenderungan untuk bekerja dengan durasi yang lebih panjang dan mengalami kesulitan untuk benar-benar lepas dari urusan pekerjaan di luar jam operasional, jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja di kantor secara fisik."
Kebebasan yang ditawarkan oleh kerja remote akhirnya bisa berubah menjadi bumerang yang merusak mental jika kita tidak tegas dalam membuat batasan waktu.
Tanpa kedisiplinan untuk menekan tombol off, rumahmu tidak lagi menjadi tempat berlindung yang nyaman, melainkan kantor kedua yang menjajah waktu istirahatmu selama 24 jam penuh.
Dilema WFO: Stres di Jalanan vs Hangatnya Interaksi Sosial
Bagaimana dengan kubu WFO? Sisi buruk dari bekerja di kantor sudah sangat jelas bagi masyarakat urban: kelelahan fisik akibat macet yang parah dan polusi udara yang otomatis memotong waktu tidur kita. Bangun lebih pagi dan pulang lebih malam demi menembus jalanan kota jelas bukan hal yang sehat bagi raga kita dalam jangka panjang.
Namun, WFO punya satu kelebihan psikologis yang sangat besar dan sering dirindukan oleh pekerja remote: adanya pemisah yang jelas antara dunia kerja dan dunia rumah. Saat kamu melangkah keluar dari pintu kantor dan pulang, secara mental pekerjaanmu sudah dianggap selesai.
Selain itu, WFO memberikan ruang untuk interaksi sosial secara langsung. Mengobrol santai dengan rekan kerja di kubikel, makan siang bersama, atau sekadar bercanda di pantry adalah obat alami yang sangat ampuh untuk mengusir rasa kesepian digital yang sering melanda pekerja remote. Hubungan antarmanusia yang nyata inilah yang menjaga jiwa kita tetap membumi.
Menemukan Jalan Tengah demi Keseimbangan Jiwa dan Raga
Melihat risiko dari kedua kubu, apa solusi terbaiknya? Kuncinya adalah penyesuaian gaya hidup dan ketegasan diri sendiri.
Bagi Kawan yang saat ini bekerja secara remote, kamu wajib menetapkan jam kerja yang ketat. Buat ritual kecil, misalnya berpakaian rapi saat mulai bekerja di pagi hari dan langsung menutup laptop saat jam kerja habis. Jangan lupa untuk meluangkan waktu keluar rumah, sekadar mencari sinar matahari atau berolahraga agar fisik tetap aktif bergerak.
Bagi kamu yang bekerja WFO, siasati waktu perjalanan yang melelahkan dengan melakukan relaksasi ringan, seperti mendengarkan musik favorit atau podcast edukatif di kendaraan umum agar tingkat stres tidak melonjak sebelum sampai di kantor. Jaga juga pola makan dengan mengurangi jajan sembarangan di sekitar tempat kerja.
Jika memungkinkan, sistem hybrid yaitu kombinasi beberapa hari kerja di kantor dan beberapa hari di rumah—saat ini dinilai sebagai jalan tengah terbaik yang bisa menjembatani kebutuhan jiwa dan raga kita.
Tempat Kerja Sehat adalah Tempat yang Kita Kendalikan
Pada akhirnya, tidak ada jawaban tunggal yang menyatakan kerja remote lebih sehat daripada WFO, atau sebaliknya. Tempat kerja yang paling sehat untuk jiwa dan raga bukanlah soal lokasinya, melainkan tentang seberapa besar kendali yang kita miliki atas waktu kita sendiri.
Kuncinya bukan pada di mana kita membuka laptop, melainkan pada bagaimana kita menjaga batasan agar pekerjaan tidak menjajah seluruh ruang kehidupan pribadi kita. Mari , ebih bijak mengatur ritme hidup: pastikan raga tetap dijaga kebugarannya, dan jiwa tetap dirawat ketenangannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


