Hewan endemik ini mempunyai suara seperti nyanyian panjang bergema meliuk, mengalun, suaranya hingga memenuhi lembah. Suara tersebut dari fauna bernama owa Jawa abu-abu (Hylobates moloch), primata berbulu perak yang seluruh hidupnya bergantung pada tegaknya hutan hujan tropis di Pulau Jawa.
Bagi banyak kawan, owa Jawa abu-abu mungkin tidak sepopuler harimau atau orangutan. Namun, keberadaannya memiliki peran penting bagi keseimbangan lingkungan. Primata ini membantu penyebaran biji berbagai tumbuhan hutan sehingga mendukung regenerasi vegetasi alami. Karena itu, keberadaan owa Jawa sering dijadikan indikator kesehatan ekosistem hutan tropis.
Siapa Sebenarnya Owa Jawa (Hylobates moloch)?
Owa Jawa abu-abu merupakan salah satu jenis kera kecil dari keluarga Hylobatidae. Satwa ini sering disebut sebagai silvery gibbon atau owa Jawa karena warna bulunya yang didominasi abu-abu keperakan.
Berbeda dengan monyet, owa Jawa tidak memiliki ekor. Tubuhnya ramping dengan lengan panjang yang memungkinkan mereka berpindah dari pohon ke pohon menggunakan teknik brachiation atau berayun di antara kanopi hutan.
Hal unik lainnya hanya spesies wanita owa Jawa yang secara rutin melantunkan nyanyian yang sangat kompleks dan keras di pagi hari, yang disebut "lagu besar" (great call). Setelah dimulai dengan nada rendah dan berkembang menjadi lengkingan panjang, suara unik ini dapat didengar dari jarak 1,5 km.
Sebaran Habitat Owa Jawa Abu-Abu
Habitat alami owa Jawa abu-abu hanya berada di Pulau Jawa, khususnya wilayah Jawa Barat, Banten, dan sebagian Jawa Tengah. Mereka hidup di hutan hujan tropis yang memiliki kanopi rapat dan pepohonan tinggi.
Beberapa kawasan yang menjadi rumah penting bagi spesies ini mulai dari:
- Taman Nasional Gunung Halimun Salak
- Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
- Taman Nasional Ujung Kulon
- Kawasan Pegunungan Dieng di Jawa Tengah.
Kapan Owa Jawa Bernyanyi dan Beraktivitas?
Waktu terbaik untuk mendengar suara hylobates moloch (owa Jawa abu-abu) adalah pagi hari. Mereka biasanya bernyanyi dari pagi hingga siang. Dalam kehidupan sehari-hari mereka, mereka mencari buah-buahan, daun muda, bunga, dan sesekali serangga. Sangat jarang turun ke tanah karena sebagian besar waktu dihabiskan di atas pohon.
Spesies ini dijuluki sebagai primata penyanyi hutan karena mereka sering bernyanyi di pagi hari. Para peneliti bahkan menggunakan suara untuk mengetahui berapa banyak kelompok yang masih hidup di suatu wilayah hutan.
Mengapa Owa Jawa Sangat Penting bagi Lingkungan?
Kehadiran owa Jawa abu-abu memengaruhi lingkungan secara signifikan. Fauna endemik ini sebagai arsitek hutan yang tak tergantikan sebagai frugivora (pemakan buah), Hylobates moloch menyebarkan biji pohon di area luas melalui kotorannya. Tanpa jasa ekologis ini, regenerasi alami hutan pegunungan Jawa akan terganggu secara signifikan.
Owa Jawa sebagai lokomotor kanopi sejati dengan bergerak menggunakan teknik brachiation. Teknik ini mmebuat owa Jawa berayun dari dahan ke dahan hanya dengan lengan dan tanpa ekor. Ini juga kelemahannya, karena jika kanopi hutan terputus, ia tidak bisa menyeberang, sehingga fragmentasi hutan menjadi ancaman yang fatal.
Owa Jawa juga mewakili keadaan hutan. Jika populasi mereka menurun, itu bisa menunjukkan bahwa tekanan pada ekosistem disebabkan oleh aktivitas manusia atau perubahan lingkungan.
Bagaimana Upaya Menyelamatkan (Hylobates moloch) Owa Jawa Abu-Abu?
Untuk menjaga hylobates moloch, primata penyanyi hutan, yang merupakan owa Jawa abu-abu, semua kolaborator harus bekerja sama. Beberapa tindakan akan dilakukan hingga 2026, seperti:
- Perlindungan wilayah primer dan sekunder hutan
- Memberhentikan perdagangan satwa liar ilegal
- Pentingnya konservasi diajarkan kepada program pelepasliaran dan rehabilitasi masyarakat.
Untuk memantau populasi, metode pemetaan habitat.
Habitat yang terfragmentasi masih merupakan ancaman besar bagi keberlangsungan spesies ini, meskipun penelitian terbaru menunjukkan populasi tertentu terus meningkat.
Saat ini di Indonesia khususnya pulau jawa mempunyai tempat rehabilitasi khusus owa Jawa bernama Javan Gibbon Center (JGC) di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan fasilitas pusat penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa (Hylobates moloch) yang sangat aktif.
Pusat rehabilitasi ini dikelola melalui kolaborasi antara Balai Besar TNGGP, Conservation International (CI) Indonesia, dan Yayasan Owa Jawa. Mereka berfokus untuk merehabilitasi owa jawa hasil sitaan dari perdagangan ilegal maupun yang sebelumnya dipelihara masyarakat, guna memulihkan kesehatan fisik dan psikologis mereka agar siap dilepasliarkan kembali ke alam liar.
JGC sukses memulihkan dan memasangkan owa jawa untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Puluhan individu owa Jawa telah berhasil dilepasliarkan berkat fasilitas ini.
Owa Jawa bukan hanya hewan langka; mereka juga merupakan indikator biologis kesehatan ekosistem hutan pegunungan Jawa. Hilangnya owa Jawa menunjukkan bahwa hutannya sendiri telah hancur. Dan ketika Hutan Jawa runtuh, jutaan orang kehilangan udara bersih, tangkapan air, dan perlindungan dari longsor.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


