praktis tapi bisa bikin boncos fakta dompet digital dan mobile banking di kalangan mahasiswa - News | Good News From Indonesia 2026

Praktis tapi Bisa Bikin Boncos: Fakta Dompet Digital dan Mobile Banking di Kalangan Mahasiswa

Praktis tapi Bisa Bikin Boncos: Fakta Dompet Digital dan Mobile Banking di Kalangan Mahasiswa
images info

Dokumentasi Pribadi


Coba jujur deh, berapa kali Kawan GNFI buka Gopay, Dana, atau ShopeePay hanya untuk melihat ada promo apa hari ini? Atau scroll mobile banking pas tanggal tua, terus kaget sendiri lihat saldo sudah menipis padahal baru tanggal 15? Kalau iya, Kawan tidak sendirian.

Di satu sisi, dompet digital dan mobile banking emang bikin hidup mahasiswa jauh lebih praktis. Bayar listrik, beli pulsa, pesan makanan, sampai nabung bisa dilakukan lewat satu aplikasi di HP. Tapi di sisi lain, kemudahan ini ternyata punya "harga" yang tidak murah, yaitu uang jajan yang lebih cepat ludes dari biasanya. Penasaran kenapa bisa begitu? Yuk, kita bahas pakai data dari beberapa penelitian.

baca juga

Mahasiswa Semakin Lengket sama Dompet Digital

Penelitian yang dilakukan oleh Auliya Ahmad Suhardi, Saparuddin Siregar, dan Budi Dharma (2024) terhadap mahasiswa Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan mengungkapkan bahwa dompet digital sudah menyatu dengan rutinitas anak kuliahan.

Pemanfaatannya cukup beragam, mulai dari belanja online yang mencapai 40 persen, membayar tagihan listrik dan pulsa sebesar 20,8 persen, memesan ojek online sebanyak 12 persen, hingga melakukan top up game sebesar 3,2 persen. Dari sisi pilihan platform, Dana tercatat sebagai aplikasi yang paling banyak digunakan dengan persentase 40 persen, diikuti oleh ShopeePay, Gopay, Ovo, dan LinkAja di posisi-posisi berikutnya.

Promo dan Cashback, Si Dalang Utama

Ditanya soal alasan betah memakai dompet digital, jawaban mahasiswa rata-rata seragam: praktis, cepat, dan menggiurkan dari segi promosi. Faktor kepraktisan menjadi alasan terbesar, penelitian tersebut juga mencatat sekitar 68 persen mahasiswa mengaku sering tergoda diskon dan cashback yang besarnya bisa hingga 30 persen.

Hasil senada juga ditemukan dalam penelitian kualitatif Hizbul Hadi Nawawi (2020) terhadap mahasiswa di Kota Makassar. Sejumlah informan dalam studi tersebut mengaku kerap ditegur oleh keluarga maupun teman karena dianggap boros setiap kali ada promo menarik.

Uang Jadi "Tidak Terasa" karena Serba Digital

Salah satu penyebab dompet digital bisa membuat boncos adalah uang yang berkurang terasa kurang “nyata” dibandingkan memegang uang tunai secara langsung. Kemudahan bertransaksi memang menjadi keunggulan paling diunggulkan dari e-wallet. Namun di sisi lain, kebiasaan belanja yang jadi “sulit terkendali” juga menjadi salah satu kelemahan.

Penjelasannya cukup sederhana. Ketika membayar dengan uang tunai, seseorang biasanya lebih mudah menyadari jumlah pengeluaran karena dompet fisiknya ikut menipis. Sebaliknya, transaksi melalui e-wallet membuat sensasi "kehilangan uang" jadi jauh lebih samar. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa yang tanpa sadar sudah mengeluarkan uang lebih banyak dari yang direncanakan.

Tidak Semua Mahasiswa Jadi Boros

Menariknya, ditemukan juga mahasiswa yang justru mengaku lebih hemat setelah menyimpan uangnya di e-wallet. Salah satu informan dalam riset tersebut menjelaskan bahwa memegang uang tunai justru membuatnya lebih mudah menghabiskan uang, sedangkan menyimpan saldo di dompet digital malah membantunya menahan diri dari kebiasaan belanja impulsif.

Dengan begitu, dompet digital sejatinya hanyalah sebuah alat. Untuk mengatur keuangan secara lebih rapi atau justru berubah jadi sumber pemborosan, semuanya kembali pada bagaimana penggunanya mengelola dirinya sendiri.

baca juga

Tips Biar Dompet Digital Tetap Jadi Sahabat

Agar kepraktisan sistem informasi keuangan digital ini tidak berbalik menjadi jebakan pemborosan, ada sejumlah langkah yang bisa Kawan coba terapkan:

  • Kelompokkan saldo berdasarkan kebutuhan. Manfaatkan fitur "kantong" atau sub-akun khusus untuk pos-pos wajib seperti makan, transportasi, dan tagihan, supaya dananya tidak terpakai untuk keperluan lain.

  • Tetapkan batas transaksi harian maupun bulanan. Sebagian besar aplikasi dompet digital dan mobile banking saat ini sudah menyediakan fitur pengaturan limit, gunakan fitur ini untuk membantu mengendalikan pengeluaran.

  • Hindari tergoda promo yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Diskon memang menggiurkan, tapi coba tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah ini benar kebutuhan atau sekadar dorongan sesaat karena tergiur potongan harga.

  • Periksa riwayat transaksi secara berkala. Sisihkan waktu sekali seminggu untuk meninjau ke mana saja uangmu mengalir, agar Kawan-kawan semakin paham pola belanjamu sendiri.

  • Terapkan prinsip menabung dulu, baru membelanjakan sisanya. Begitu uang bulanan cair, segera alokasikan sebagian ke tabungan sebelum keduluan habis lewat transaksi-transaksi kecil yang sering tidak disadari.

  • Pada dasarnya, kehadiran sistem informasi keuangan digital seperti dompet digital dan mobile banking ditujukan untuk mempermudah kehidupan mahasiswa, bukan untuk membuat kondisi dompet semakin menipis menjelang akhir bulan.

    Selama dibarengi dengan kesadaran dan kemampuan mengontrol diri yang baik, teknologi ini sebenarnya bisa menjadi alat yang sangat membantu dalam mengatur keuangan pribadi secara lebih tertata. Jadi, gimana, Kawan GNFI? Sudah siap menjadi mahasiswa yang melek literasi finansial digital?

    Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

    Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

    ZT
    KG
    Tim Editorarrow

    Terima kasih telah membaca sampai di sini

    🚫 AdBlock Detected!
    Please disable it to support our free content.