Kawan GNFI, fenomena ini cukup ironis. Di hampir seluruh dunia, perempuan kini lebih banyak mengenyam pendidikan tinggi dibanding laki-laki. Tapi begitu masuk ke ruang rapat dewan direksi atau kursi CEO, jumlah mereka justru menyusut drastis. Apa yang sebenarnya terjadi?
Pertanyaan ini dijawab cukup gamblang dalam laporan terbaru World Economic Forum (WEF) berjudul Closing the Gender Gap in Senior Leadership, yang dirilis pada 2026 sebagai bagian dari inisiatif Global Gender Parity Sprint, hasil kolaborasi dengan LinkedIn Economic Graph Research Institute dan firma konsultan kepemimpinan global Egon Zehnder.
Data yang Mengejutkan: Makin Tinggi Jabatan, Makin Sedikit Perempuan
Laporan ini secara khusus menyoroti satu pola yang konsisten di berbagai negara: semakin dekat suatu posisi dengan otoritas tertinggi perusahaan dan kewenangan teknologi, semakin tipis pula representasi perempuan di sana.
Data dari LinkedIn menunjukkan perempuan memegang 24,6 persen posisi C-suite secara global. Namun, hanya 19,1 persen di antaranya yang benar-benar menduduki posisi CEO.
Ketimpangan serupa juga terjadi di level dewan direksi. Berdasarkan data Egon Zehnder, lebih dari sembilan dari sepuluh dewan direksi kini memiliki setidaknya satu anggota perempuan, dan perempuan memegang 29,3 persen kursi dewan di perusahaan publik terbesar dunia, hampir dua kali lipat dibanding satu dekade lalu.
Namun, perempuan hanya mengisi sekitar satu dari sepuluh peran dewan eksekutif, dan sekitar 5 persen posisi ketua dewan.
Dengan kata lain, representasi memang sudah membaik, tetapi pengaruh dan kekuasaan riil masih jauh dari setara.
Tren yang Justru Melambat, Bukan Makin Cepat
Yang lebih mengkhawatirkan, laporan ini mencatat momentum positif yang sempat terjadi justru mulai melambat, bahkan menurun. Proporsi perempuan di antara perekrutan baru posisi C-suite naik dari 20,2 persen pada 2015 menjadi 26,6 persen pada 2022, tetapi sejak saat itu stagnan di kisaran 27 persen.
Pola serupa terlihat lebih jelas pada posisi CEO. Proporsi perempuan dalam perekrutan CEO meningkat dari 15,3 persen pada 2015 menjadi 20,1 persen pada 2022, dengan laju pertumbuhan tahunan 3,9 persen. Namun antara 2022 hingga 2025, angka ini hanya naik tipis menjadi 21,1 persen, dengan laju pertumbuhan melambat jadi hanya 1,7 persen per tahun.
Bahkan data terpisah dari WEF menunjukkan, proporsi perempuan dalam penunjukan posisi kepemimpinan senior baru sempat mencapai puncaknya di angka 34,8 persen pada 2022. Namun, kemudian menurun tiga tahun berturut-turut hingga menyentuh 32,8 persen pada kuartal pertama 2025.
Penunjukan anggota dewan direksi pun mengalami pola serupa, turun dari 17,2 persen pada 2020 menjadi 14,2 persen pada 2024.
Mengapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Laporan WEF mengidentifikasi beberapa faktor struktural di balik fenomena ini. Salah satunya adalah perbedaan jalur karier. Perempuan cenderung menempati peran yang berorientasi pada manusia dan pasar, seperti posisi Chief Human Resources Officer atau Chief Marketing Officer, dibanding posisi-posisi strategis yang langsung berhubungan dengan kewenangan operasional dan teknologi seperti CEO atau CTO.
Durasi menjabat pun berbeda. Data menunjukkan CEO perempuan rata-rata menjabat selama 3,7 tahun, dibanding 5,2 tahun untuk CEO laki-laki.
Pola serupa terjadi pada posisi CFO, di mana perempuan rata-rata menjabat 3,4 tahun dibanding 4,1 tahun untuk laki-laki. Sementara itu, anggota dewan perempuan rata-rata berusia lebih muda, yakni 59,8 tahun dibanding 62,3 tahun untuk laki-laki.
Faktor lain yang turut disorot dalam laporan ini termasuk jalur karier yang tidak linear, jaringan profesional dan sistem sponsorship yang masih timpang, jeda karier akibat tanggung jawab pengasuhan, sistem evaluasi kinerja yang bias, hingga kebijakan dan institusi yang membentuk jalur kepemimpinan secara keseluruhan.
Mengapa Ini Bukan Sekadar Soal Keadilan?
Kawan GNFI, penting dipahami bahwa kesenjangan ini bukan semata persoalan moral atau keadilan gender belaka, melainkan persoalan ekonomi yang nyata. Penelitian terpisah dari McKinsey menunjukkan perusahaan dengan keberagaman gender di kuartil teratas memiliki kemungkinan hingga 25 persen lebih besar untuk mengungguli kompetitor secara finansial.
Sementara riset BCG menemukan startup yang didirikan perempuan menghasilkan pendapatan per dolar investasi yang lebih tinggi sembari mempertahankan efisiensi modal yang lebih baik.
Bahkan riset dari International Finance Corporation (IFC) menemukan, dana investasi dengan tim senior yang setara gender menghasilkan return 10 hingga 20 persen lebih tinggi dibanding dana yang didominasi laki-laki, sementara perusahaan portofolio dengan kepemimpinan setara gender mengungguli kompetitor dalam pertumbuhan valuasi hingga 25 persen.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Laporan WEF menawarkan kerangka kerja untuk mendorong kesetaraan kepemimpinan senior yang lebih nyata, salah satunya dengan memperhatikan apa yang disebut sebagai peran "umpan" atau feeder roles, yakni posisi-posisi strategis seperti tanggung jawab atas laba-rugi, penugasan transformasi bisnis, integrasi merger dan akuisisi, hingga eksposur ke dewan direksi.
Posisi-posisi inilah yang sesungguhnya menjadi gerbang utama menuju kepemimpinan senior. Namun, seringkali tidak terdistribusi secara adil antara laki-laki dan perempuan.
Organisasi disarankan melacak siapa saja yang mendapatkan kesempatan-kesempatan yang mempercepat karier ini dengan kedisiplinan yang sama seperti mengelola modal finansial.
Selain itu, penting juga untuk meninjau daftar suksesi sebelum posisi benar-benar kosong, serta menjadikan sponsorship sebagai bagian eksplisit dari deskripsi pekerjaan eksekutif, bukan sekadar inisiatif sukarela.
Pendidikan Saja Tidak Cukup
Kawan, fenomena ini menjadi pengingat penting bahwa kesetaraan pendidikan ternyata belum cukup untuk menjamin kesetaraan kepemimpinan. Perempuan telah membuktikan diri unggul secara akademis di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Namun, jalur menuju kursi pengambil keputusan tertinggi ternyata masih dipenuhi hambatan struktural yang jauh lebih kompleks dari sekadar soal kompetensi atau kualifikasi.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi "apakah perempuan mampu memimpin", karena jawabannya sudah jelas dari berbagai bukti yang ada.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah, seberapa serius organisasi dan institusi di seluruh dunia, termasuk Indonesia, mau membongkar sistem yang selama ini secara diam-diam menahan laju mereka menuju puncak.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


