istana kadriah bangunan yang kental makna milik masyarakat pontianak - News | Good News From Indonesia 2026

Istana Kadriah, Bangunan yang Kental Makna Milik Masyarakat Pontianak

Istana Kadriah, Bangunan yang Kental Makna Milik Masyarakat Pontianak
images info

Istana Kadriah | Wikimedia Commons | Zhilal Darma


Provinsi Kalimantan Barat yang beribukotakan Pontianak memiliki posisi tepat berada di garis khatulistiwa (equator), menjadikannya punya opsi destinasi wisata yang beranekaragam.

Sebenarnya tidak hanya itu saja, provinsi ini juga menawarkan aspek kebudayaan yang asyik untuk kita pahami bersama.

Pada kali ini, ada satu konstruksi dengan kandungan nilai sejarah hingga budaya yang bakal kita ulik di sini. Pernahkah Kawan GNFI mendengar tentang Istana Kadriah?

Berkenalan Dengannya

Berdasarkan alamatnya, dikutip dari berbagai sumber, Istana Kadriah terletak di Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak.

Bangunan ini menampilkan pigmen kuning khas yang melekat pada setiap jengkal dindingnya. Pembentukan Pontianak—yang sudah lama terjadi sejak kurang-lebih 239 tahun silam—tidaklah luput dari sejarah pendirian Istana Kadriah yang secara geografis berada di persimpangan sungai, yaitu Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, serta Sungai Kapuas.

Catatan sejarah mengatakan bahwa hadirnya Istana Kadriah berawal dari kedatangannya penyebar agama Islam dari tanah Jawa (Semarang) bernama al-Habib Husein. Kala itu, ia mengunjungi Kerajaan Matan (kini masuk wilayah Kalimantan Barat).

Selanjutnya, Husein diangkat menjadi mufti kerajaan (sejenis hakim agama). Disebut ia mempersunting salah seorang putri sultan, yaitu Nyai Tua. Mereka lalu dikaruniai seorang putra bernama Syarif Abdurrahman.

Dalam konteks sejarah Istana Kadriah, bangunan ini didirikan oleh Syarif Abdurrahman Al-Kadrie yang telah berpetualang dan banyak bertemu dengan para saudagar, pada hari Rabu, 23 Oktober 1771.

Selama proses pendirian, dikisahkan Al-Kadrie menyisiri Sungai Kapuas sepanjang 1,1 kilometer. Dalam penyisiran itu, ia diperhadapkan pada tantangan yang diberikan oleh para hantu kuntilanak yang kerap menghalanginya tatkala hendak membuka lahan hutan di sepanjang sungai.

baca juga

Menurut mitologi masyarakat setempat, dari nama kuntilanak itu yang nanti menjadi cikal bakal kota Pontianak berasal. Alasannya karena rakyat di sana sering menyebut kuntilanak sebagai hantu Puntianak.

Guna menentukan lokasi istana yang akan dibangun, Al-Kadrie kemudian melepaskan tiga kali tembakan meriam ke udara.

Tiga titik jatuhnya tembakan itulah yang saat ini merupakan lokasi pendirian Istana Kadriah, Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman serta lokasi pemakaman anggota keluarga Kesultanan Pontianak.

Dominan dengan Unsur Melayu

Patut diakui, Istana Kadriah boleh disebut sebagai istana Melayu terbesar yang berdiri di Kalimantan Barat. Kondisinya sendiri terbilang masih baik untuk zaman modern, cukup terawat.

Di dalam istananya, Kawan akan menemukan pelbagai dokumentasi sejarah dengan foto-foto yang ikonis.

Beberapa ruangan pribadi milik keluarga kesultanan terbuka untuk umum, meski dengan disertai larangan dan/atau peraturan yang ketat bagi barangsiapa yang ingin memasukinya.

Di area istana, Kawan juga akan menjumpai sejumlah meriam kuno buatan Portugis dan Prancis. Terdeteksi ada 13 buah meriam terletak di depan Istana Kadriah.

baca juga

Konon kabarnya, Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie menggunakan juga meriam tersebut untuk mengusir kuntilanak yang mengganggu proses pembangunan.

Selain itu, adanya meriam juga difungsikan sebagai bentuk pertahanan jikalau bajak laut menyerang wilayah istana. Pasalnya, lokasi pusat pemerintahan yang strategis, sebagaimana yang telah dijelaskan secara geografisnya, membuat Istana Kadriah sejatinya rawan terhadap ancaman yang muncul dari laut.

Beberapa koleksi bersejarah di Istana Kadriah adalah sebagai berikut:

  • Beragam foto sultan Pontianak dengan keluarga
  • Lambang kesultanan
  • Lampu hias
  • Keris
  • Meja giok
  • Singgasana sultan dan permaisuri
  • Busana milik sultan dan permaisuri
  • Beberapa senjata
  • Cermin pecah seribu

Sistem pemerintahan Kesultanan Pontianak diketahui berjalan cukup lama. Sayangnya, kekacauan sistemis mulai terasa ketika bala tentara Jepang datang pada tahun 1924.

Bermula dari hal tersebut, tragedi pembunuhan sultan dan keluarganya terjadi pada tanggal 28 Juni 1944. Hingga akhirnya, sekitar tahun 1952, Kesultanan Pontianak secara resmi bergabung dengan Republik Indonesia, menutup lembaran histori yang telah lama disusun.

Adapun Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman sendiri berlokasi sekitar 200 meter dari istana. Masjid ini masih aktif digunakan oleh masyarakat setempat dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan.

Bagi yang barangkali penasaran ingin langsung menyaksikan kemegahan Istana Kadriah, Kawan GNFI yang melalui jalur darat dapat menggunakan bus umum, sepeda motor atau mobil. Untuk jalur perairan, disediakan akses dengan sampan atau speed boat dari Pelabuhan Senghie.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.