Muhammadiyah membangun pondok pesantren di Banyumas. Bukan sebagaimana ponpes kebanyakan yang bertujuan untuk mencetak santri berprestasi atau penghafal Al-Qur'an. Di Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Ajibarang membangun pondok khusus untuk perempuan dengan gangguan jiwa, atau yang lebih dikenal dengan istilah ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa).
Namanya Pondok Putri Lembah Pintar Muhammadiyah. Pondok ini bukan dalam artian sempit—tempat mengaji dalam arti konvensional, melainkan pusat rehabilitasi yang dirancang untuk merawat, mendampingi, dan memulihkan martabat perempuan-perempuan yang selama ini kerap terpinggirkan.
Peletakan batu pertama pembangunan telah dilakukan pada Senin, 6 Juli 2026, di RT 04 RW 06, Desa Pandansari. Acara ini dihadiri langsung Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, KH Tafsir, M.Ag, bersama Camat Ajibarang Rojiun, Danramil Ajibarang Kapten Inf Syukur, Kepala Desa Pandansari Teguh Utomo, hingga unsur kepolisian.
Pondok ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 1.000 meter persegi, dengan total kebutuhan dana pembangunan mencapai Rp 2,9 miliar. Informasi soal rencana pembangunan pertama kali muncul lewat unggahan Instagram Lazismu Banyumas pada 24 Juni 2026, yang menyebut proyek ini sebagai sesuatu yang spesial karena secara khusus menyasar ODGJ perempuan.
Sosok di Balik Tanah Wakaf
Nama Andayanti tercatat sebagai sosok yang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan pondok tersebut. Ia menghibahkan sebagian harta karena dirinya merasa sangat terbantu dengan layanan publik yang disediakan Muhammadiyah.
Makanya, ia ingin turut terlibat dalam kebermanfaatan yang diberikan oleh Muhammadiyah, sekaligus—secara tidak langsung—mempercayakan organisasi ini bisa mengelola tanah tersebut.
"Alhamdulillah, menurut saya Muhammadiyah luar biasa. Saya pribadi pernah dibantu oleh ambulans Muhammadiyah. Karena itu, saat mewakafkan tanah ini, saya yakin akan dikelola menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat," katanya.
Andayanti percaya jaringan Muhammadiyah yang luas, mulai dari rumah sakit hingga fakultas kedokteran di berbagai universitas Muhammadiyah, akan mempermudah sinergi pondok ini dengan tenaga medis profesional.
"Pondok khusus perempuan ODGJ ini tidak bisa lepas dari penanganan medis. Nantinya, tempat ini tentu akan didukung oleh dokter spesialis jiwa, perawat kesehatan jiwa, dan tenaga profesional lainnya. Saya rasa ini adalah jalan yang sudah diatur oleh Allah Swt," tambahnya.
Mengapa Perempuan ODGJ Butuh Ruang Khusus?
Pertanyaannya, mengapa harus pondok khusus perempuan? Perempuan dengan gangguan jiwa adalah subjek yang menghadapi kerentanan berlapis. Selain bergulat dengan kondisi kesehatan mentalnya sendiri, banyak dari mereka juga menghadapi risiko penelantaran, kekerasan fisik, hingga eksploitasi seksual di ruang publik maupun domestik.
Kondisi ini diperparah oleh skala persoalan kesehatan jiwa di Indonesia yang sebenarnya jauh lebih besar dari yang terlihat sehari-hari. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan laporan Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada lebih dari 19 juta penduduk berusia di atas 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional di seluruh Indonesia.
Dari jumlah itu, ratusan ribu di antaranya berjuang melawan gangguan jiwa berat, dan mayoritas belum mendapatkan penanganan yang layak. Minimnya fasilitas rehabilitasi kerap membuat keluarga mengambil jalan pintas yang keliru dan melanggar hak asasi manusia: pemasungan.
Di sinilah letak urgensi kehadiran Pondok Putri Lembah Pintar. Fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu ikhtiar memutus rantai pemasungan, dengan menawarkan penanganan yang memadukan pendekatan ilmiah dan religius sekaligus.
Tiga Pilar Pemulihan yang Diusung
Pembangunan pondok ini dirancang tidak sekadar menyediakan atap dan tempat tidur. Ada tiga pilar pemulihan yang hendak diintegrasikan sekaligus, yakni medis dan psikologis, spiritual, serta kemandirian.
Lewat pilar medis dan psikologis, pondok ini menyediakan layanan pendampingan intensif oleh tenaga kesehatan dan psikolog untuk kontrol obat serta terapi emosional.
Lalu, sebagai organisasi keagamaan, Pondok Putri Lembah Pintar Muhammadiyah juga menghadirkan pendekatan secara keagamaan yang menenangkan untuk memulihkan ketenangan jiwa warga binaan.
Tak hanya itu, para penyintas akan mendapatkan pelatihan keterampilan vokasional ringan agar para penghuni siap berdaya dan bisa kembali ke masyarakat setelah dinyatakan pulih.
Pendekatan tiga pilar ini sejalan dengan prinsip rehabilitasi psikososial yang umum digunakan dalam penanganan kesehatan jiwa modern, di mana pemulihan tidak hanya soal mengendalikan gejala, tapi juga memulihkan fungsi sosial dan kemandirian seseorang agar bisa kembali diterima di lingkungannya.
Pembangunan Pondok Putri Lembah Pintar Muhammadiyah kini tengah berjalan di Pandansari. Warga dan siapa pun yang ingin terlibat dalam gerakan kemanusiaan ini terbuka untuk memberikan dukungan, baik doa maupun bantuan lain, demi mempercepat berdirinya rumah harapan bagi para perempuan yang tengah berjuang menjemput kembali masa depan mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


