Sebelum manusia mengenal kehidupan bercocok tanam, ada satu masa penting sebelum menuju ke masa tersebut, yaitu zaman Mesolitikum atau Zaman Batu Madya. Pada periode ini, cara hidup manusia purba mulai mengalami perkembangan.
Pada zaman ini mereka mulai mengenal cara memperoleh makanan secara lebih terencana sambil menetap di suatu wilayah. Manusia pada zaman Mesolitikum juga mulai memilih tempat tinggal yang dekat dengan sungai, hutan, maupun perbukitan. Sebab, kawasan tersebut menyediakan sumber air dan bahan pangan.
Jejak perkembangan tersebut dapat diketahui melalui beragam temuan arkeologi yang masih dipelajari hingga kini, mulai dari tempat tinggal, tumpukan sisa makanan, hingga berbagai perkakas batu yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Lantas, apa saja peninggalan khas zaman Mesolitikum dan apa fungsi masing-masing bagi kehidupan manusia purba? Yuk, simak penjelasannya, Kawan GNFI!
Abris Sous Roche

Abris Sous Roche | Wikimedia Commons | Hugo Soria
Salah satu peninggalan penting pada zaman Mesolitikum adalah abris sous roche. Istilah yang berasal dari bahasa Prancis ini secara harfiah berarti "ceruk di bawah batu". Jika didefinisikan, abris sous roche merujuk pada ceruk batu atau gua dangkal yang dimanfaatkan manusia purba sebagai tempat berlindung sekaligus hunian.
Berbeda dengan gua yang tertutup sepenuhnya, abris sous roche umumnya memiliki bagian depan yang terbuka sehingga memungkinkan cahaya matahari dan sirkulasi udara masuk ke dalam.
Kondisi tersebut membuatnya menjadi lokasi yang cocok untuk ditempati karena mampu memberikan perlindungan dari cuaca yang tak menentu maupun ancaman binatang buas.
Abris sous roche memiliki fungsi yang sangat penting. Selain sebagai tempat tinggal, lokasi ini menjadi ruang untuk menyimpan peralatan dan mengolah hasil buruan. Hal ini diketahui karena di dalam abris sous roche ditemukan berbagai artefak perkakas yang digunakan pada zaman Mesolitikum.
Kjokkenmoddinger

Sampah Kerang Kjokkenmoddinger | Wikimedia Commons | Museum Deli Serdang
Selain abris sous roche, peninggalan khas zaman Mesolitikum lainnya adalah kjokkenmoddinger. Istilah ini berasal dari bahasa Denmark, yaitu kjokken yang berarti dapur dan modding yang berarti sampah. Sesuai namanya, kjokkenmoddinger merupakan tumpukan sampah dapur yang sebagian besar terdiri atas cangkang kerang dan siput hasil konsumsi manusia purba.
Secara tampilan, kjokkenmoddinger berbentuk gundukan cangkang kerang yang mengeras dan dapat mencapai ketebalan hingga sekitar 7 meter. Gundukan tersebut terbentuk secara bertahap akibat aktivitas manusia yang terus membuang sisa makanan di lokasi yang sama selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Di Indonesia, kjokkenmoddinger pertama kali diteliti oleh Dr. P. V. van Stein Callenfels pada tahun 1925. Temuan ini terdapat di sepanjang pesisir timur Pulau Sumatra, mulai dari Aceh hingga wilayah Medan.
Besarnya tumpukan cangkang kerang yang ditemukan menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sangat bergantung pada sumber daya pesisir, terutama kerang dan siput, sebagai salah satu sumber makanan utama.
Kapak Genggam (Pebble)

Kapak Genggam (Pebble) | Wikimedia Commons | Didier Descouens - Muséum de Toulouse
Salah satu perkakas yang paling banyak ditemukan pada peninggalan zaman Mesolitikum adalah kapak genggam atau pebble.
Kapak genggam umumnya dibuat dari batu kali atau batu kerakal (pebble) yang dipangkas pada satu sisi hingga menghasilkan bagian yang tajam, sementara sisi lainnya dibiarkan tetap kasar agar nyaman digenggam.
Bentuknya cenderung lonjong atau oval dengan ukuran yang bervariasi, tergantung kebutuhan pembuatnya. Teknik pembuatannya yakni hanya dengan memukul batu menggunakan batu lain hingga menghasilkan sisi tajam.
Kapak genggam di Indonesia sering disebut sebagai Sumatralith atau kapak genggam Sumatra. Nama tersebut diberikan karena banyak ditemukan di kawasan pantai timur Sumatra bagian utara, terutama di tempat-tempat kjokkenmoddinger.
Alat ini digunakan untuk memotong dan menguliti hewan buruan, memecah tulang, mengolah kayu, hingga menumbuk biji-bijian atau bahan makanan lainnya. Selain untuk mengolah bahan makanan, kapak genggam juga dimanfaatkan sebagai senjata untuk berburu dan juga alat bertahan diri dari ancaman binatang buas.
Kapak Pendek (Hachecourt)
Selain kapak genggam, manusia pada zaman Mesolitikum juga mengenal kapak pendek atau hachecourt. Istilah ini berasal dari bahasa Prancis yang berarti "kapak pendek".
Sesuai namanya, kapak pendek memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan kapak genggam (pebble). Panjangnya diperkirakan hanya sekitar setengah dari ukuran kapak genggam, sehingga lebih ringan dan mudah digunakan.
Bentuknya menyerupai setengah lingkaran dengan bagian tajam berada pada sisi yang melengkung, sedangkan bagian lainnya dibiarkan lebih tebal sebagai tempat untuk menggenggam.
Kapak pendek dibuat dari batu yang dibentuk melalui teknik pemangkasan atau pemecahan (flaking). Berdasarkan bentuk dan bekas penggunaannya, alat ini diduga dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas, seperti memotong buah dan tumbuhan, menggali tanah untuk mengambil umbi-umbian, mengolah kayu, menguliti hewan buruan, hingga memotong daging.
Batu Pipisan

Batu Pipisan | Wikimedia Commons | Ahmadrizky0102 (dengan sedikit perubahan)
Alat ini merupakan batu datar yang digunakan bersama batu penggiling atau gandik untuk menghaluskan berbagai bahan.
Secara fisik, batu pipisan umumnya berbentuk persegi panjang dengan permukaan yang rata sehingga dapat digunakan sebagai landasan menggosok. Di atas permukaan tersebut, batu penggiling digerakkan atau digesekkan hingga bahan yang diolah menjadi lebih halus.
Alat ini digunakan untuk menghaluskan bahan makanan, seperti biji-bijian, umbi, maupun tumbuhan liar agar lebih mudah diolah dan dikonsumsi.
Fungsi lainnya adalah menghaluskan oker, yaitu pigmen berwarna merah yang berasal dari tanah atau batuan yang mengandung mineral besi. Para arkeolog menduga pigmen tersebut digunakan sebagai perlengkapan praktik kepercayaan masyarakat pada masa itu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


