intip masa depan literasi digital tim peneliti um eksplorasi hubungan otonomi belajar digital wellbeing dan kemampuan membaca bahasa arab - News | Good News From Indonesia 2026

Intip Masa Depan Literasi Digital: Tim Peneliti UM Eksplorasi Hubungan Otonomi Belajar, Digital Wellbeing, dan Kemampuan Membaca Bahasa Arab

Intip Masa Depan Literasi Digital: Tim Peneliti UM Eksplorasi Hubungan Otonomi Belajar, Digital Wellbeing, dan Kemampuan Membaca Bahasa Arab
images info

Universitas Negeri Malang


Era digital telah mengubah total lanskap pendidikan tinggi, tak terkecuali dalam pembelajaran bahasa asing yang kompleks seperti Bahasa Arab. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti lintas disiplin dari Universitas Negeri Malang (UM) menginisiasi riset berskala nasional yang berfokus pada dinamika belajar mahasiswa di era modern.

Penelitian yang berlangsung sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2026 ini bertajuk "EKSPLORASI PERAN OTONOMI PEMBELAJARAN BERBASIS DIGITAL DAN DIGITAL WELLBEING SEBAGAI PREDIKTOR HASIL BELAJAR KETERAMPILAN MEMBACA MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA ARAB".

Riset ini membidik mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di berbagai universitas di seluruh Indonesia sebagai objek penelitian utamanya.

Proyek riset tersebut dikomandoi langsung oleh akademisi senior UM, Dr. Kholisin, M.Hum. selaku ketua tim peneliti. Langkah strategis ini juga diperkuat oleh jajaran pakar kenamaan, antara lain Dr. Wahib Dariyadi, M.Pd. dan Prof. Bambang Budi Wiyono, M.Pd.

Tidak hanya digerakkan oleh para ahli di bidangnya, penelitian ini juga melibatkan energi dan inovasi dari para peneliti muda berprestasi, yaitu Farika Riskiyah, Muhammad Ahsan Thoriq, dan Nia Zahrotul Fadiyah.

Kolaborasi antara pengalaman makro para profesor dan perspektif segar para mahasiswa/ peneliti muda ini diharapkan mampu melahirkan analisis yang tajam, relevan, dan aplikatif bagi dunia akademis.

baca juga

Mengapa Otonomi Belajar dan Digital Wellbeing Penting?

Di era sekarang, mahasiswa tidak lagi hanya mengandalkan buku teks fisik dan tatap muka di kelas. Mereka dituntut memiliki otonomi pembelajaran berbasis digital artinya kemampuan mandiri untuk menyaring, memilih, dan memanfaatkan teknologi demi memperdalam kemampuan berbahasa.

Namun, kebebasan digital ini membawa pisau bermata dua. Paparan layar yang berlebihan dan distraksi internet sering kali memicu stres digital.

Di sinilah pentingnya digital wellbeing (kesejahteraan digital), yaitu bagaimana mahasiswa menjaga keseimbangan mental dan kesehatan psikologis mereka saat berinteraksi dengan teknologi.

Tim peneliti UM ingin melihat sejauh mana kedua faktor ini kemandirian digital dan kesehatan mental di dunia maya mampu memprediksi kesuksesan mahasiswa dalam menguasai keterampilan membaca (Maharah Qira'ah) Bahasa Arab, yang dikenal memiliki tingkat kompleksitas tinggi dalam struktur morfologi dan sintaksisnya.

Mendukung Agenda Global: SDGs 3 dan SDGs 4

Penelitian skala nasional ini tidak sekadar menjadi pemenuh tugas akademik, melainkan sebuah kontribusi nyata terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Secara spesifik, riset ini mendukung dua poin krusial:

• SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera/ Good Health and Well-Being): Melalui penekanan pada aspek digital wellbeing, penelitian ini berupaya merumuskan pola interaksi teknologi yang sehat agar mahasiswa terhindar dari burnout dan gangguan kecemasan digital.

• SDG 4 (Pendidikan Berkualitas/ Quality Education): Dengan memetakan prediktor hasil belajar yang akurat, hasil riset ini dapat menjadi kompas bagi para dosen dan pembuat kebijakan kurikulum untuk merancang metode pembelajaran Bahasa Arab berbasis digital yang jauh lebih efektif dan adaptif.

baca juga

Dampak untuk Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia

Dengan mengambil sampel mahasiswa PBA dari berbagai penjuru nusantara, data yang dikumpulkan oleh tim peneliti UM akan memberikan potret makro mengenai kesiapan digital mahasiswa Indonesia.

Hasil akhir dari riset ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis, model pembelajaran baru, hingga panduan praktis bagi institusi pendidikan tinggi dalam mengelola integrasi teknologi tanpa mengorbankan kesejahteraan mental mahasiswa.

Gerakan riset dari bumi Malang ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi pembelajaran bahasa harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan aspek kemanusiaan dan kesehatan mental para pembelajarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.