Pada awal 1942, saat pasukan Jepang bergerak cepat menguasai Hindia Belanda, ada satu komoditas yang membuat markas besar Sekutu di Washington dan London jauh lebih cemas daripada minyak atau karet. Komoditas itu adalah kina, obat satu-satunya yang efektif melawan malaria pada masa itu. Sumbernya nyaris seluruhnya berasal dari perkebunan di dataran tinggi Jawa Barat, sekitar Bandung dan Garut.
Malaria adalah salah satu ancaman terbesar bagi pasukan yang bertempur di wilayah tropis selama Perang Dunia II, kadang menyebabkan korban lebih banyak daripada pertempuran itu sendiri. Satu-satunya obat yang efektif melawan penyakit ini saat itu adalah kina, dan hampir seluruh pasokan dunianya berasal dari satu tempat: perkebunan di dataran tinggi Jawa Barat. Ketika sumber ini terputus akibat pendudukan Jepang, dampaknya terasa jauh melampaui Indonesia, hingga ke laboratorium militer Amerika dan medan tempur di Pasifik.
Monopoli Tunggal di Pegunungan Jawa
Pohon kina bukan tanaman asli Indonesia. Bibitnya diselundupkan dari Amerika Selatan pada pertengahan abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda, setelah upaya serupa oleh Inggris di anak benua India gagal total. Kondisi tanah vulkanis dan ketinggian di Priangan ternyata jauh lebih cocok untuk pohon kina dibandingkan habitat aslinya di Andes. Dalam beberapa dekade, perkebunan di sekitar Bandung berkembang menjadi produsen kina terbesar di dunia.

Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Foto Tropen Museum
Menjelang Perang Dunia II, perkebunan Jawa memasok sekitar 90 hingga 95 persen kebutuhan kina dunia. Pabrik pengolahan kina terbesar di dunia, Bandoengsche Kininefabriek, berdiri di Bandung, dan seluruh distribusi kuinin olahan dikendalikan oleh kartel bernama Kina Bureau yang berkantor pusat di Amsterdam. Negara mana pun yang menguasai Jawa, secara otomatis menguasai pasokan obat antimalaria dunia.
Fakta ini tidak luput dari perhatian militer. Malaria bukan sekadar penyakit tropis biasa bagi tentara yang bertempur di Pasifik, Papua Nugini, dan Afrika Utara. Di banyak front, jumlah tentara yang dirawat karena malaria jauh melebihi jumlah korban tembakan musuh.
Ketika Pasokan Terputus
Ketika Jerman menduduki Belanda pada Mei 1940, kartel Kina Bureau di Amsterdam beserta seluruh stok kuinin olahannya jatuh ke tangan Nazi. Ketika Jepang menduduki Jawa pada Maret 1942, sumber baku cinchona pun ikut terputus. Amerika Serikat dan sekutunya kehilangan akses ke satu-satunya sumber utama obat antimalaria di dunia, tepat saat ratusan ribu tentara mulai dikirim ke Pasifik.
Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Military and Veterans' Health mencatat betapa dekatnya Sekutu dengan krisis ini. Kolonel N. Hamilton Fairley dari layanan medis militer Australia sempat membayar di muka seratus ton kulit kayu kina, yang dimuat ke kapal barang di pelabuhan Surabaya pada Februari 1942. Namun keruntuhan kekuasaan Belanda di Hindia Belanda terjadi lebih cepat dari perkiraan. Muatan itu tidak pernah sampai ke Australia, dan pasukan Sekutu di Papua Nugini, salah satu medan pertempuran paling ganas untuk malaria, tertinggal dengan cadangan kina kurang dari satu tahun.

Perkebunan kina di dataran tinggi Jawa pada masa kolonial Belanda, dengan pekerja mengolah kulit kayu di antara barisan pohon dan hamparan kebun di lereng bukit. (Foto: Wereldmuseum Amsterdam)
Studi yang sama mencatat tragedi yang lebih besar di Filipina. Sekitar seratus ribu kilogram kulit kayu kina yang tersimpan di perkebunan Mindanao tidak pernah bisa diolah menjadi obat untuk pasukan yang bertahan di Luzon. Kegagalan logistik ini kelak dikaitkan dengan tingginya angka kematian akibat malaria dalam peristiwa Bataan Death March, saat sekitar seperlima dari hampir 30 ribu tentara Amerika dan Filipina yang tewas diperkirakan meninggal karena malaria, bukan karena kekerasan langsung.
Lahirnya Obat Sintetis
Kekurangan pasokan ini memaksa Amerika Serikat menggenjot dua jalur sekaligus. Pertama, mengirim ekspedisi pencarian sumber cinchona alternatif ke Amerika Selatan, dikenal sebagai Cinchona Missions, yang berlangsung dari 1942 hingga 1945. Kedua, dan ini yang berdampak lebih besar dalam jangka panjang, mempercepat riset obat antimalaria sintetis di laboratorium militer dan universitas.
Program riset ini membawa atabrine, obat sintetis yang terbukti efektif melawan malaria falciparum pada akhir 1943 dan kemudian diwajibkan penggunaannya bagi tentara Amerika di front Pasifik, meski efek sampingnya membuat banyak prajurit enggan memakainya. Riset antimalaria masa perang inilah yang menjadi fondasi bagi pengembangan klorokuin, obat yang dipakai luas hingga puluhan tahun setelahnya, bahkan sempat kembali menjadi sorotan dunia pada 2020 karena diduga keliru dianggap efektif melawan virus corona.
Dampak Jangka Panjang
Terputusnya pasokan kina dari Jawa mengubah cara dunia memandang ketahanan obat-obatan strategis. Setelah perang, negara-negara besar mulai membangun cadangan farmasi dan mendiversifikasi sumber bahan baku obat penting, kebijakan yang sebagian besar lahir dari trauma kehilangan akses ke satu titik pasokan tunggal di Jawa.
Bagi Indonesia sendiri, era kejayaan kina Bandung berangsur meredup setelah perang. Obat sintetis yang lahir dari keterpaksaan Sekutu perlahan menggantikan kuinin alami, dan pusat produksi kina dunia bergeser ke wilayah lain. Namun jejak sejarahnya tetap ada. Kebun Raya Cibodas dan sejumlah perkebunan tua di kawasan Bandung Selatan masih menyimpan sisa-sisa pohon kina dari masa ketika daun dan kulit kayunya pernah menjadi salah satu penentu jalannya perang terbesar dalam sejarah manusia.
Referensi:
Shanks, G. D. (2024). Antimalarial drug supply issues during the Second World War. Journal of Military and Veterans' Health, 32(3). https://jmvh.org/article/antimalarial-drug-supply-issues-during-world-war-ii/
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


