Warta harian Tjahaja mengabarkan bahwa akan digelar sebuah kompetisi segitiga yang diinisiasi oleh IGB (Ikatan Gerak Badan) di bawah pimpinan S. Tirtosoepeno bersama pengurus Persib Bandung sebagai bagian dari perayaan Tentyosetsu. Dalam turnamen tersebut, Persib berkesempatan menghadapi dua tim lain, yakni Perses Soemedang dan Persidja Jakarta.
Seluruh pertandingan dijadwalkan berlangsung di Lapangan Azuma (Tegallega) pada 29 dan 30 April serta 1 Mei 1943 sebagai laga penentuan juara. Tim yang berhasil menjadi pemenang berhak membawa pulang piala yang disediakan oleh surat kabar Tjahaja.
Surat kabar Asia Raya edisi 1 April 1942 menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia diwajibkan memperingati Tentyosetsu setiap 29 April sebagai hari kelahiran Kaisar Jepang (Tenno Heika), Hirohito. Ia mewarisi takhta dari ayahnya, Taishō Tennō, setelah wafat pada Desember 1925. Dalam sejarah Jepang, Hirohito kemudian menjadi salah satu kaisar dengan masa pemerintahan terlama, yakni dari 1926 hingga 1989.
Pada turnamen ini, Persidja Jakarta menurunkan skuad A. Klub tersebut membagi kekuatannya untuk mengikuti dua kompetisi berbeda. Tim pertama dikirim ke Bandung, sedangkan tim kedua bertanding pada perayaan Tentyosetsu sekaligus ulang tahun pertama surat kabar Asia Raya. Mereka menghadapi Persis Solo dan Persipo Poerwakarta di Lapangan Al Foetoewah, Jakarta. Komposisi skuad Persidja A terdiri atas Simorangkir, Sidaboetar, Waas, Sanger, Iskandar, Sahertian, Tetelapta, Titaley, Besoes, Anakotta, dan Matita.

Susunan pemain Persib dan Persidja pada pertandingan ini.Sumber: Surat kabar Tjahaja, 3 Mei 1943.
Persidja pada masa pendudukan Jepang memang dikenal memiliki kedalaman skuad yang sangat baik. Mereka kerap membentuk "dua tim" untuk bertanding di berbagai daerah di Pulau Jawa. Bahkan, beberapa klub internalnya juga dikirim ke luar Jakarta. Salah satunya adalah Kesebelasan Chung Hwa yang menerima undangan Gerakan 3A Sukabumi untuk bertanding pada 29 dan 30 Agustus 1942. Selain itu, HBS berhasil meraih sebuah piala dari perusahaan A. Gaos Semarang setelah mengalahkan PSIS.
Pertandingan pembuka digelar pada 29 April 1943 dengan mempertemukan Persib dan Perses. Skuad Maung Bandung tampil dominan dan menang dengan skor 4–1. Sehari kemudian, Perses kembali menelan kekalahan setelah dibungkam Persidja dengan skor telak 7–1.
Laga penentuan juara akhirnya mempertemukan Persib dan Persidja. Di hadapan publik Bandung, Persib mendominasi jalannya pertandingan meskipun tim tamu beberapa kali memberikan tekanan. Pada akhirnya, Persib berhasil menutup pertandingan dengan kemenangan 5–2 dan keluar sebagai juara turnamen sekaligus membawa pulang Piala Tjahaja.
Ada momen menarik pada laga final tersebut. Saat jeda babak pertama, pengurus IGB, pegawai Pos, dan pegawai Syūchō (setingkat karesidenan) memainkan pertandingan hiburan menggunakan nama tim Djago Kolot. Kesebelasan dadakan itu dibagi menjadi dua tim yang mengenakan seragam putih dan hijau. Tujuannya semata-mata untuk menghibur penonton sambil menunggu babak kedua dimulai.
Skuad Djago Kolot diperkuat oleh Oto Iskandar Dinata, Niti Soemantri, Adiwinata, Gondokoesoemo, Soegeng, H. Alexa, Oenoes, Sain, Takabatake, Drs. Yap, Koesoemah, Sibarani, Tadenuma, Soele, Oide, Didi, Makmoen, Inding, Sonda, Hasan, dan Soemadi.

Para pemain yang hadir di Gedung Tjahaja mendengarkan sambutan P. T. J. Aneka.Sumber: Surat kabar Tjahaja, 3 Mei 1943.
Pada malam hari setelah pertandingan usai, seluruh pemain dari ketiga kesebelasan dijamu di Gedung Tjahaja yang beralamat di Postweg-Oost (kini jalan Asia Afrika) 54–56, Bandung. Acara tersebut dihadiri berbagai tokoh dan dimeriahkan oleh pertunjukan orkes angklung yang dimainkan murid-murid Sekolah Rakjat Bandoeng Shi di bawah pimpinan Tuan Oteng.
Dalam sambutannya, Ketua Persib Anwar serta Oto Iskandar Dinata sebagai perwakilan IGB berharap agar turnamen ini mampu mempererat persatuan masyarakat pada masa peperangan. Setelah rangkaian pidato selesai, Satja, pemain Persib, menerima piala utama dari Tjahaja, sedangkan dua tim lainnya memperoleh bingkisan sebagai penghargaan.
Turnamen ini menjadi pertandingan terakhir Persib pada masa pendudukan Jepang. Setelah PSSI dilebur ke dalam GELORA (Gerakan Olahraga Rakjat) pada Mei 1943, seluruh klub sepak bola di Pulau Jawa diwajibkan menggunakan nama daerah masing-masing. Persib pun berganti nama menjadi Bandoeng Shi. Sebulan kemudian, Anwar S. Pamoentjak, Ketua Persib, ditunjuk sebagai pimpinan GELORA wilayah Priangan Syū (Karesidenan Priangan).
Sejak awal berdirinya, Persib memiliki hubungan yang erat dengan Lapangan Tegallega. Sejumlah pertandingan penting mereka dimainkan di stadion tersebut sebelum akhirnya berpindah ke Lapangan Sidolig pada dekade 1950-an.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


