Program transmigrasi kini memasuki babak baru. Selama puluhan tahun identik dengan perpindahan penduduk, kini Indonesia mengarahkan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, investasi, dan penguatan komoditas unggulan.
Beberapa kampus negeri, termasuk IPB University, akan menugaskan 150 orang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan alumni ke enam kawasan transmigrasi di Indonesia dalam program Tim Ekspedisi Patriot 2026.
Ekspedisi Patriot merupakan program Kementerian Transmigrasi yang dijalankan bersama IPB University dan sembilan perguruan tinggi mitra. Tahun ini, program difokuskan pada 53 kawasan transmigrasi dengan melibatkan 246 tim dan 1.476 personel.
“Pendekatannya sekarang lebih praktis, bukan lagi sekadar teori,” kata Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi, di IPB University, Selasa (21/7). Menurutnya, hasil kajian pada Ekspedisi Patriot 2025 kini ditindaklanjuti menjadi program pengembangan komoditas unggulan dan industrialisasi di kawasan transmigrasi.
Perpindahan Penduduk untuk Pembangunan Kawasan
Viva Yoga menjelaskan bahwa berdirinya Kementerian Transmigrasi pada era Presiden Prabowo Subianto dilandasi perubahan paradigma. Transmigrasi tidak lagi dipandang sekadar memindahkan penduduk dari wilayah padat ke wilayah yang jarang dihuni, melainkan sebagai instrumen pembangunan kawasan.
“Orientasi Kementerian Transmigrasi sekarang bukan lagi sekadar perpindahan penduduk, tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat empat tujuan utama kebijakan tersebut, yakni memperkuat persatuan nasional, mengurangi kemiskinan, mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai sentra produksi nasional, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Karena itu, pelaksanaan transmigrasi kini menggunakan pendekatan desentralisasi dan bottom-up, di mana pemerintah daerah mengusulkan kawasan yang telah memiliki lahan berstatus clean and clear.
Perubahan pendekatan itu juga tercermin dalam tema Ekspedisi Patriot 2026. Program dibagi menjadi TEP Investasi, yang difokuskan pada kawasan transmigrasi yang telah siap berkembang melalui penguatan ekonomi, nilai tambah, dan kolaborasi investasi, serta TEP Bakti Transmigrasi, yang menitikberatkan pada penguatan masyarakat, kelembagaan, dan layanan dasar di kawasan yang masih berkembang.
IPB Turunkan SDM Terbaik dan Inovasi Pertanian
Dari seluruh peserta nasional, IPB University mengirimkan 150 personel yang terdiri atas 25 ketua tim dan 125 anggota tim. Komposisi ketua tim mencakup tiga profesor, 18 doktor, dan empat magister, sedangkan anggota tim terdiri atas 24 magister, 77 sarjana, dan 24 sarjana terapan. Sebanyak 20 tim akan ditempatkan di Salor, Merauke, Papua Selatan, sementara lima tim lainnya bertugas di Aceh, Sumatera Barat, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Inovasi IPB University, Dr. Handian Purwawangsa, mengatakan seluruh peserta telah mengikuti pembekalan mengenai kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi, pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan ekonomi, konsep One Village One Product (OVOP), manajemen risiko, hingga komunikasi sosial.
Ia mengingatkan peserta untuk menjaga profesionalisme selama bertugas. “Kami berpesan agar seluruh tim menjaga nama baik IPB University, menghormati budaya lokal, bekerja secara profesional, serta mengutamakan kesehatan dan keselamatan selama berada di lapangan,” ujarnya.
Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa keikutsertaan kampus tidak berhenti pada pengiriman mahasiswa. Menurutnya, Ekspedisi Patriot menjadi ruang untuk menerapkan hasil riset agar memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Komitmen kami adalah menyediakan solusi riset dan inovasi yang dapat meningkatkan produktivitas, nilai tambah, pendapatan, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat,” kata Alim.
IPB juga membawa sejumlah inovasi pertanian ke lokasi penugasan, di antaranya padi IPB 9G, varietas amfibi yang dapat tumbuh di sawah maupun lahan kering dan akan diuji di Papua, serta cabai Patriot yang tengah memasuki proses pendaftaran varietas.
Bagi peserta, penugasan selama empat hingga lima bulan dipandang sebagai kesempatan belajar sekaligus mengabdikan ilmu. “Saya excited menjadi bagian dari Ekspedisi Patriot 2026. Sebelum berangkat kami dibekali mengenai kondisi kawasan, cara berkomunikasi dengan masyarakat, manajemen survei lapangan, hingga kesiapan fisik dan mental,” ujar peserta Ekspedisi Patriot 2026 IPB University, Ludia Artha Pramesthi.
Bagi pemerintah, keberhasilan program tidak lagi diukur dari banyaknya laporan yang dihasilkan, melainkan sejauh mana inovasi yang dibawa perguruan tinggi mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan transmigrasi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


