Di tengah riuhnya pembicaraan soal kecerdasan buatan, ada kekhawatiran yang dialami para pekerja, pelaku usaha, bahkan penggerak komunitas di daerah. AI sering kali dibayangkan sebagai ancaman bagi peran manusia.
Kekhawatiran itu sebenarnya beralasan. Menurut Survei PwC pada Februari 2026, 69 persen masyarakat Indonesia sudah pernah menggunakan AI, jauh di atas rata-rata global yang hanya 54 persen. Sebanyak 16 persen bahkan memakainya setiap hari.
Tapi di sisi lain, Kementerian UMKM mencatat lebih dari 90 persen UMKM di Indonesia belum benar-benar mengoptimalkan pemanfaatan teknologi ini dalam bisnis mereka. Artinya, banyak yang sudah mencoba, tapi belum tahu harus melangkah ke mana setelahnya.
Kesenjangan semacam inilah yang membuat isu AI terasa membingungkan, terutama di luar kota-kota besar. Bukan soal mau atau tidak mau, tapi soal tidak tahu harus mulai dari mana.
Pertanyaan soal bagaimana manusia dan AI berbagi peran inilah yang diangkat dalam ajang Indonesia Marketing Festival (IMF) 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-14, festival tahunan besutan MCorp ini kembali menyapa daerah dengan tema "Winning the Competition in the Age of AI".
Sepanjang Agustus hingga September 2026, festival ini akan berkeliling ke tujuh kota, mulai dari Semarang, Pekanbaru, Manado, Makassar, Bandung, Yogyakarta, hingga berakhir di Surabaya.
Kolaborasi Bukanlah Penggantian
Survei Salesforce terhadap 150 pemimpin bisnis di Indonesia menemukan 97 persen dari mereka mengakui AI meningkatkan pendapatan usahanya, angka tertinggi dibanding 26 negara lain yang disurvei.
Persoalannya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia memosisikan diri di tengah perubahan itu.
Pendiri MCorp, Hermawan Kartajaya, memberikan pandangan soal pergeseran cara pandang ini. Menurutnya, kehadiran kecerdasan buatan semestinya menjadi sarana untuk memperkuat peran manusia dalam dunia bisnis, bukan menggesernya.
"Di era AI, pertanyaannya bagaimana kita memanfaatkannya untuk memperkuat kemampuan manusia. Masa depan adalah tentang bagaimana AI dan manusia berkolaborasi untuk menciptakan nilai yang lebih besar bagi pelanggan," ungkap Hermawan.
Pandangan ini menjadi benang merah di setiap kota yang disinggahi. IMF berperan menjadi ekosistem pembelajaran yang mewadahi mahasiswa, praktisi bisnis, dosen, hingga pejabat pemerintah daerah untuk duduk bersama dan bertukar ide secara setara.
Ruang Temu Lintas Generasi di Tujuh Kota
Rangkaian acara dibuka di Semarang pada 3–5 Agustus, lalu berlanjut menyapa Pekanbaru (5–7 Agustus), Manado (10–12 Agustus), dan Makassar (12–14 Agustus).
Di kota-kota tersebut, festival berlangsung selama tiga hari yang dikemas interaktif. Ada Campus Day yang mengajak generasi muda dan mahasiswa bersiap menghadapi masa depan, Corporate Day bagi para pelaku usaha lokal, serta sesi kepemimpinan Knowledge Day.
Kemeriahan berlanjut ke Bandung pada 19–23 Agustus dan Yogyakarta pada 26–28 Agustus, sebelum akhirnya ditutup di Surabaya pada 2–6 September. Khusus di Bandung dan Surabaya, perayaan dibuat lebih panjang, selama lima hari.
Festival ini melebur ke tengah masyarakat lewat City Day bersama pemerintah daerah, serta Sport Day yang mengajak komunitas lokal berkumpul lewat turnamen padel dan liga basket korporat.
Merekam Jejak dan Karya di Daerah
Semangat kolaborasi ini meneruskan jejak tahun sebelumnya, ketika IMF menyatukan lebih dari 5.000 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari profesional, mahasiswa, hingga Gen Z, bersama lebih dari 50 pembicara di tujuh kota.
Tahun ini, ruang tersebut akan makin kaya dengan hadirnya para gubernur, wali kota, rektor perguruan tinggi, hingga praktisi industri lokal.
Di samping berbagi cerita, IMF 2026 memberikan panggung penganugerahan bagi figur dan lembaga lokal yang konsisten memberi dampak. Empat apresiasi juga akan disiapkan, seperti Industry Marketing Champion, Public Service Award, Campus Entrepreneurial Marketing Award, dan Corporate Entrepreneurial Marketing Award.
Nama-nama yang masuk empat kategori itu menjadi bukti kalau jawaban atas kekhawatiran tergantikan AI bukan terletak pada bertahan dari teknologinya, tapi pada seberapa cepat orang di daerah punya akses untuk memahaminya, sesuatu yang selama ini lebih banyak terjadi di Jakarta dibanding kota-kota lain.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


