rumah tajug bukti arsitektur asli indonesia yang sarat filosofi - News | Good News From Indonesia 2026

Rumah Tajug: Bukti Arsitektur Asli Indonesia yang Sarat Filosofi

Rumah Tajug: Bukti Arsitektur Asli Indonesia yang Sarat Filosofi
images info

Rumah Tajug: Bukti Arsitektur Asli Indonesia yang Sarat Filosofi | Foto: Visit Jawa Tengah


Rumah Tajug menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia memiliki warisan rumah adat dengan identitas arsitektur asli yang berkembang dari budaya masyarakat Nusantara. 

Di Pulau Jawa, bentuk bangunan ini dikenal memiliki ciri khas yang berbeda dibandingkan jenis rumah adat lainnya, baik dari segi bentuk, struktur, maupun makna yang terkandung di dalamnya.

Lantas, apa itu rumah Tajug? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Rumah Tajug?

Rumah Tajug merupakan rumah adat yang berasal dari Jawa, khususnya berkembang di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurut Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, bentuk Tajug merupakan salah satu bentuk dasar arsitektur tradisional Jawa. Dari bentuk inilah kemudian berkembang berbagai jenis bangunan tradisional lainnya, seperti Joglo, Limasan, hingga Kampung.

Salah satu contoh bangunan yang menerapkan arsitektur Tajug adalah Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Masjid bersejarah yang diperkirakan berdiri pada abad ke-15 ini dikenal memiliki atap Tajug bertumpang yang ditopang oleh empat saka guru.

Keunikan tersebut menjadikan Rumah Tajug sebagai salah satu peninggalan arsitektur tradisional yang memiliki nilai sejarah sekaligus menunjukkan perkembangan desain bangunan khas Jawa dari masa ke masa.

baca juga

Ciri-Ciri Rumah Adat Tajug

Rumah Adat
info gambar

Variasi Arsitektur Tajug | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY


Rumah Tajug memiliki bentuk yang khas sehingga mudah dibedakan dari rumah adat lainnya di Jawa. Jika dilihat dari atas, bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan keempat sisinya sama panjang. Sementara itu, atapnya menjulang ke atas dan membentuk limas atau piramida, sehingga seluruh bidang atap bertemu pada satu titik di bagian puncak.

Struktur utama Rumah Tajug ditopang oleh empat tiang utama yang disebut saka guru. Tiang-tiang ini menjadi penyangga utama konstruksi sekaligus menopang bentuk atap yang tinggi.

Di bagian paling atas terdapat hiasan yang disebut mustaka sebagai penanda puncak bangunan. Selain itu, konstruksi atap juga dilengkapi dengan elemen tradisional seperti sirah dan topong yang berfungsi menopang rangka atap. Pada beberapa Rumah Tajug, atap dibuat bertingkat atau tumpang, yang semakin memperkuat ciri khas arsitektur tradisional Jawa.

Fungsi Rumah Adat Tajug

Berbeda dengan sebagian besar rumah adat yang berfungsi sebagai tempat tinggal, Rumah Tajug dirancang sebagai bangunan untuk kegiatan keagamaan dan bersifat sakral.

Bangunan ini umumnya digunakan sebagai masjid, musala, maupun tempat masyarakat menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan, seperti salat berjamaah, pengajian, musyawarah, zikir, hingga peringatan hari besar Islam.

Karena fungsinya tersebut, bagian dalam Rumah Tajug dibuat terbuka tanpa banyak sekat agar mampu menampung banyak orang. Tata ruangnya umumnya terdiri atas tiga bagian, yaitu ruang utama (liwan) di bawah atap tertinggi yang ditopang empat saka guru, mihrab sebagai tempat imam, serta serambi yang digunakan sebagai area berkumpul atau ruang tambahan bagi jamaah.

Filosofi Rumah Adat Tajug

Rumah Tajug tidak hanya memiliki bentuk yang khas, tetapi menyimpan filosofi yang mendalam.

Atap yang mengerucut ke satu titik melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Bentuk tersebut menggambarkan bahwa seluruh perjalanan hidup manusia memiliki tujuan yang sama, yaitu mengarah kepada Sang Pencipta.

Sementara itu, atap bertingkat atau tumpang melambangkan tahapan perjalanan spiritual dalam tradisi Islam. Setiap tingkatan menggambarkan proses peningkatan kualitas diri, mulai dari syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat.

baca juga

Melalui bentuk, struktur, dan filosofinya, rumah Tajug menjadi salah satu rumah adat yang menunjukkan kekayaan arsitektur asli Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Andy Apriyono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Andy Apriyono.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.