tak hanya pintar anak indonesia juga perlu berani menyampaikan pendapat - News | Good News From Indonesia 2026

Tak Hanya Pintar, Anak Indonesia Juga Perlu Berani Menyampaikan Pendapat

Tak Hanya Pintar, Anak Indonesia Juga Perlu Berani Menyampaikan Pendapat
images info

Foto: milik pribadi


Kemampuan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dari keterampilan abad ke-21. Melalui pendekatan pembelajaran yang interaktif, siswa SDN 1 Cibungur belajar bahwa keberanian berbicara dapat dilatih sejak usia dini.

Keberhasilan seorang anak di sekolah sering kali diukur dari nilai ulangan, hasil ujian, atau prestasi akademiknya. Namun, di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis, ada satu kemampuan yang tidak kalah penting, yaitu keberanian menyampaikan pendapat.

Kemampuan ini bukan sekadar berbicara di depan kelas. Lebih dari itu, keberanian berpendapat membantu anak mengemukakan ide, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, hingga bekerja sama dengan orang lain. Keterampilan tersebut menjadi salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam pembelajaran abad ke-21, ketika komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi generasi muda.

Mengapa Anak Perlu Berani Menyampaikan Pendapat?

Banyak anak sebenarnya memiliki ide yang baik, tetapi belum tentu memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Rasa takut salah, malu ditertawakan, atau khawatir mendapat penilaian negatif sering kali membuat mereka memilih diam.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, anak akan terbiasa menjadi pendengar pasif. Padahal, proses belajar yang berkualitas tidak hanya terjadi ketika guru menjelaskan materi, tetapi juga ketika siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pemikirannya.

Karena itu, keberanian berbicara perlu dilatih sejak dini. Semakin sering anak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dalam suasana yang nyaman, semakin besar pula rasa percaya diri yang akan tumbuh dalam dirinya.

baca juga

Komunikasi: Soft Skill yang Sama Pentingnya dengan Nilai Akademik

Saat ini, dunia pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik. Berbagai keterampilan nonteknis atau soft skills juga mulai mendapat perhatian karena berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Kemampuan berkomunikasi termasuk salah satu soft skills yang akan terus digunakan sepanjang kehidupan, baik saat melanjutkan pendidikan, berorganisasi, memasuki dunia kerja, maupun berinteraksi di tengah masyarakat.

Melatih kemampuan ini tidak harus melalui kegiatan yang rumit. Justru, kebiasaan sederhana seperti berani menjawab pertanyaan guru, menyampaikan hasil diskusi kelompok, atau menceritakan pengalaman di depan kelas merupakan langkah awal yang sangat berarti.

Belajar Berani Berbicara Melalui Pendekatan yang Menyenangkan

Semangat inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan edukasi "Aku Berani Berbicara" di SD Negeri 1 Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN Nusantara.

Alih-alih menggunakan metode ceramah, kegiatan dikemas secara interaktif melalui permainan, diskusi, simulasi, dan praktik berbicara di depan kelas. Anak-anak diajak memahami bahwa rasa gugup merupakan hal yang wajar dan dapat diatasi melalui latihan.

Mereka juga mempelajari teknik dasar berbicara, mulai dari mengatur napas, menjaga kontak mata dengan pendengar, berdiri dengan percaya diri, hingga mengatur intonasi suara agar pesan dapat tersampaikan dengan jelas.

Pendekatan tersebut membuat suasana belajar terasa lebih santai. Anak-anak tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba secara langsung.

Saat Ruang Kelas Menjadi Tempat Aman untuk Mencoba

Menurut Guru SD Negeri 1 Cibungur, Yulianto, keberanian berbicara merupakan bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik yang perlu terus dilatih.

"Anak-anak membutuhkan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk berbicara. Ketika mereka tidak takut salah, mereka akan lebih berani bertanya, menjawab, maupun menyampaikan pendapat. Hal seperti ini sangat mendukung proses belajar di kelas," ujarnya.

Suasana saling mendukung selama kegiatan juga dirasakan oleh para siswa. Tepuk tangan dan apresiasi dari teman-teman menjadi penyemangat bagi setiap anak yang mencoba berbicara di depan kelas.

Salah satu peserta, Lulu, mengaku kini lebih percaya diri untuk tampil di depan kelas.

"Biasanya saya malu kalau diminta maju. Setelah ini, saya jadiĀ ingin lebih berani berbicara saat belajar di kelas," katanya.

baca juga

Praktik Baik dari SDN 1 Cibungur untuk Pendidikan Indonesia

Pengalaman di SDN 1 Cibungur menunjukkan bahwa membangun kepercayaan diri anak tidak selalu membutuhkan fasilitas yang besar ataupun program yang kompleks. Yang terpenting adalah menghadirkan lingkungan belajar yang memberi kesempatan kepada setiap anak untuk mencoba, didengar, dan dihargai.

Praktik sederhana seperti ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah maupun komunitas pendidikan lainnya. Ketika anak-anak dibiasakan menyampaikan pendapat sejak sekolah dasar, mereka tidak hanya belajar berbicara, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, mendengarkan orang lain, serta bertanggung jawab atas gagasan yang mereka sampaikan.

Pada akhirnya, membangun generasi unggul tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan akademik. Indonesia juga membutuhkan generasi yang percaya diri, mampu berkomunikasi dengan baik, dan berani menyampaikan ide untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Mungkin perubahan itu dimulai dari hal yang sederhana: seorang anak yang akhirnya berani mengangkat tangan dan mengatakan, "Saya ingin mencoba."

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.