berproses di jogja ruang berbagi kisah tentang alasan datang dan bertahan di jogja - News | Good News From Indonesia 2026

Berproses di Jogja, Ruang Berbagi Kisah tentang Alasan Datang dan Bertahan di Jogja

Berproses di Jogja, Ruang Berbagi Kisah tentang Alasan Datang dan Bertahan di Jogja
images info

Berproses di Jogja, Ruang Berbagi Kisah tentang Alasan Datang dan Bertahan di Jogja


Yogyakarta telah lama menjadi kota tujuan bagi banyak orang. Ada yang datang untuk menempuh pendidikan, membangun karier, merintis usaha, hingga sekadar mencari pengalaman hidup di luar kampung halaman.

Namun, bagi sebagian orang, perjalanan di kota ini tidak berhenti sebagai persinggahan. Berbagai pengalaman yang ditemui justru membuat mereka bertahan dan menemukan makna baru dalam hidup.

Berangkat dari beragam kisah tersebut, komunitas Berproses di Jogja menggelar kegiatan storytelling bertajuk "Mengapa Kita Datang dan Bertahan di Jogja?". Acara ini berlangsung pada Jumat (24/07) malam di Broeder Coffee Tugu Yogyakarta. Peserta dapat mengikuti kegiatan sebagai storyteller maupun listener.

Dalam sesi ini, sekitar 10–15 storyteller akan berbagi cerita selama 10–15 menit. Tema yang diangkat berfokus pada alasan seseorang datang ke Yogyakarta, pengalaman yang membentuk dirinya selama tinggal di kota ini, hingga keputusan untuk tetap bertahan atau memilih melangkah ke tempat lain. Setiap cerita diharapkan membawa pelajaran yang dapat dipetik oleh peserta lain.

Menjadi Ruang Aman untuk Mendengarkan dan Didengarkan

Kegiatan Berproses di Jogja di Broeder Coffee Tugu Yogyakarta, Jumat (24/07) | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Kegiatan Berproses di Jogja di Broeder Coffee Tugu Yogyakarta, Jumat (24/07) | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Founder Berproses di Jogja, Alfiandana, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan menyediakan ruang bagi siapa saja yang ingin berbagi pengalaman hidup selama berada di Yogyakarta. Menurutnya, setiap orang memiliki proses yang berbeda, dan cerita tersebut layak didengar karena dapat memberikan perspektif baru bagi orang lain.

"Event ini fokus memberikan ruang bagi teman-teman untuk bercerita maupun mendengarkan kisah-kisah selama berproses di Jogja," ujar Alfiandana.

Komunitas ini pertama kali mengadakan kegiatan pada Desember 2025 dan hingga kini rutin berlangsung setiap bulan umumnya pada Jumat malam. Selama penyelenggaraannya, peserta datang dari berbagai latar belakang dengan cerita yang beragam, mulai dari perjuangan menyelesaikan studi, bekerja, membangun relasi, hingga pengalaman yang mengubah cara mereka memandang kehidupan.

Terboka Berkolaborasi, Akan Hadirkan Tema yang Lebih Spesifik

Kegiatan Berproses di Jogja di Broeder Coffee Tugu Yogyakarta, Jumat (24/07) | Foto: GNFI/Pierre Rainer
info gambar

Kegiatan Berproses di Jogja di Broeder Coffee Tugu Yogyakarta, Jumat (24/07) | Foto: GNFI/Pierre Rainer


Selain menggelar sesi storytelling reguler, Berproses di Jogja juga mulai berkolaborasi dengan sejumlah komunitas dan penyelenggara kegiatan lain. Bentuk kolaborasinya beragam, seperti menggabungkan sesi berbagi cerita dengan aktivitas wellness maupun kegiatan seni, sehingga peserta dapat menikmati pengalaman yang lebih interaktif.

Ke depan, komunitas ini juga berencana menghadirkan tema-tema yang lebih spesifik, seperti sesi khusus bagi laki-laki maupun perempuan.

Menurut Alfiandana, konsep tersebut muncul karena sebagian peserta merasa lebih nyaman berbagi cerita dalam kelompok dengan latar yang serupa. Selain itu, pihaknya juga ingin menghadirkan alumni yang pernah mengikuti acara Berproses di Jogja untuk berbagi perjalanan karier dan pengalaman mereka setelah meninggalkan kota ini.

Bagi Alfiandana, setiap pengalaman memiliki nilai yang bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain. Karena itu, ia mengajak siapa pun yang pernah atau sedang menjalani fase kehidupan di Yogyakarta untuk tidak ragu membagikan kisahnya.

"Saya yakin perjuangan dan kisah-kisah berproses kalian bisa memberi manfaat bagi lebih banyak orang," tuturnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Pierre Rainer lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Pierre Rainer.

PR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.