Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini semakin bergeliat di Morowali, di mana salah satunya yakni kafe. Hal itu tak lepas dari semakin berkembangnya industri pengolahan nikel yang mengubah wajah daerah di sana selama beberapa tahun terakhir.
Malam itu, sekelompok orang dengan seragam wearpack safety berwarna abu-abu asyik duduk-duduk ditemani segelas minuman di suatu sudut Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Provinsi Sulawesi Tengah, pada Rabu (15/7/2026). Di balik dinding dengan jendela cukup besar, terlihat kendaraan besar dan kecil wara-wiri di jalan yang tidak terlalu besar. Tampak juga banyak orang lainnya dengan pakaian serupa berlalu-lalang dan sebagian di antaranya masih mengenakan helm safety.
Itulah pemandangan yang tersaji di Musti Coffee. Di kafe yang terletak di Jalan Trans Sulawesi itu, tak sulit menerka bahwa mayoritas pengunjung yang datang adalah para karyawan di kawasan pengolahan industri nikel. Selain dari seragam yang bersematkan logo perusahaan, kafe tersebut memang berada tak jauh dari kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Bisa dibilang, karyawan perusahaan seperti PT IMIP adalah "nyawa" bagi UMKM seperti Musti Coffee. Industri yang terus berkembang dengan karyawan yang terus bertambah membuat Bahodopi semakin ramai. Dari situ, banyak pelaku usaha yang menangkap peluang baru. Salah satunya adalah Selvina Astuti yang merupakan pemilik Musti Coffee.
"Kenapa saya kemarin tertarik buka coffee shop? Karena dimulai dari hobi, akhirnya lihat potensi di sini. Perkembangan perputaran ekonominya juga saya lihat di sini. Sangat menggiurkan ya untuk pengusaha kecil kayak kami," ujar Selvina saat ditemui GNFI di kafe miliknya.

Masih terekam jelas dalam ingatan Selvina tentang kondisi Bahodopi saat ia datang pada 2022 lalu. Ia bercerita bahwa infrastrukturnya tidak sebaik saat ini. Lalu, hanya dalam waktu empat tahun, perempuan perantau dari Kabupaten Banggai itu menyaksikan langsung bagaimana perubahan terjadi hingga Bahodopi jadi semakin ciamik.
"Dari saya ke sini itu aksesnya lubang-lubang semua, sekarang sudah bagus. Terus bangunan-bangunan sudah bagus. Ada hotel juga, bintang tiga ya sekarang," kenang Selvina.
Gelombang perubahan di Bahodopi dimulai sejak 2009 saat PT Sulawesi Mining Investment (SMI) didirikan di sana lewat kerja sama antara Tsingshan Group dengan PT Bintang Delapan Investama. Kemudian, pada Juli 2013, kedua perusahaan mulai membangun pabrik pemurnian nikel. Diresmikan pada Mei 2015, pabrik itulah yang kini dikenal sebagai kawasan PT IMIP.
Tak ayal, banyaknya orang yang datang dan tinggal di Bahodopi membawa berkah bagi pengusaha UMKM seperti Selvina. Dari sekian banyak peluang, Selvina memilih membuka kafe lantaran melihat adanya kebutuhan para karyawan akan tempat untuk bersantai melepas lelah setelah seharian bekerja. Agaknya ia paham betul akan hal itu berhubung dirinya juga merupakan karyawan tenant di kawasan PT IMIP.
"Pulang kerja itu butuh hiburan, butuh tempat santai. Jadi, kayak kedai kopi kecil seperti ini sangat membantu teman-teman untuk bisa bersantai, refresh sejenak, minum kopi, ngobrol sama teman." katanya.

Terkait hubungan antara banyaknya karyawan kawasan PT IMIP dengan peluang usaha masyarakat, pihak PT IMIP juga pernah memberi tanggapan. Media Relations Head PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan bahwa keduanya punya ketergantungan sama lain.
"Tingginya kebutuhan pokok tenaga kerja di kawasan IMIP membentuk pola ekonomi saling bergantung antara kebutuhan konsumsi dan ketersediaan barang serta jasa lokal. Rantai ekonomi ini berjalan setiap hari dan terjadi peningkatan jumlah usaha secara kontinu setiap tahun," paparnya pada Desember 2025 lalu.
Di Musti Coffee, Selvina beserta karyawannya menyajikan kopi serta aneka minuman lainnya. Ada pula berbagai makanan kecil mulai dari burger hingga pisang crispy. Ia telah mengoperasikan Musti Coffee sejak Agustus 2024 dan hingga kini masih setia melayani pelanggannya hampir setiap hari.
Musti Coffee memang tidak besar. Tempatnya hanya terdiri dari sebuah ruangan satu lantai dengan tempat duduk pengunjung serta meja kasir dan barista yang menjadi satu. Akan tetapi, dari kafe yang bangunannya bersolek gaya rustic inilah semua orang bisa merasakan langsung bagaimana UMKM di Morowali mendapat cipratan rezeki dari industri pengolahan nikel.
Ramainya Bahodopi berkat keberadaan industrial besar seperti PT IMIP memang bukan sekadar klaim. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa penduduk Bahodopi berjumlah 45.434 jiwa, terbesar di antara kecamatan lain di Morowali, termasuk Bungku Tengah yang merupakan ibu kota kabupaten. Di sisi lain, terdapat 89.849 orang karyawan yang bekerja di kawasan PT IMIP. Para karyawan yang secara administratif tak semuanya berstatus sebagai warga Bahodopi ini kemudian hadir sebagai konsumen setia UMKM milik masyarakat.
"Untuk konsumennya itu rata-rata pekerja di industri di sini," beber Selvina mengenai latar belakang mayoritas konsumennya.
Optimis Meski Menantang
Di Bahodopi, setidaknya terdapat 111 kafe dan restoran. Di tengah pesatnya perkembangan daerah yang memberi banyak pelanggan, pelaku UMKM seperti Selvina harus memutar otak untuk bisa terus eksis bersanding dengan usaha sejenis.
Sejauh ini, Selvina juga dihadapkan sejumlah tantangan. Misalnya saja bahan baku yang belum tersedia di Morowali. Untuk bahan minuman saja, ia harus mendatangkan dari Pulau Jawa. Begitu pula dengan gelasnya. Untuk mendapatkan gelas plastik dengan logo kafenya, ia masih mendapatkannya dari Makassar.
Terlepas dari tantangan yang ada, sejauh ini tren penjualan Musti Coffee diakui Selvina masih tergolong bagus. Dalam sehari, kafenya bisa menjual ratusan gelas minuman. Dalam satu kesempatan, ia sempat mengutarakan kepada tim Departemen Media Relations PT IMIP bahwa pendapatan kotor mencapai sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari atau setara Rp75 juta sampai Rp90 juta setiap bulannya.
"Awalnya mungkin sehari itu cuma 8-10 orang, yang cup-nya paling 20 cup per hari, paling banyak 30 cup, sekarang udah di atas ratusan cup per hari," paparnya.
Dengan ramainya para karyawan yang datang untuk menikmati secangkir kopi dan menu lainnya di Bahodopi yang terus berkembang, Selvina optimis Musti Coffee bisa terus maju. Ia bahkan punya target untuk membuka cabang baru.
"Karena saya lihat perkembangannya untuk 10 tahun ke depan kurang lebih ya, itu masih sangat-sangat pesat kalau di sini perputarannya," pungkasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


