Aisyah Chustiya Cahyaningsih, mahasiswi Prodi Bahasa Asing Terapan Universitas Diponegoro asal Sukoharjo baru saja jadi juara dunia. Bermodalkan nongkrong di pantai, ia juarai Stick Nation Wood Cup 2026, kompetisi internasional yang memperlombakan tongkat kayu atau ranting alami dengan bentuk paling unik.
Berbeda dari lomba kerajinan kayu, seluruh tongkat yang diikutsertakan harus merupakan temuan di alam dan tidak boleh dimodifikasi. Peserta hanya mencari, mendokumentasikan, lalu mendaftarkan tongkat tersebut ke penyelenggara.
Stick Nation Wood Cup 2026 diselenggarakan oleh akun Official Stick Reviews, sebuah komunitas global penggemar tongkat atau ranting kayu dengan bentuk unik. Ajang ini dibuat dengan format yang menyerupai Piala Dunia FIFA, sehingga disebut Wood Cup
Nah, tongkat kayu temuan Aisyah, yang belakangan dijuluki "Maui Hook" oleh warganet, sukses mengalahkan Norwegia di partai puncak lewat voting daring. Kemenangan itu diumumkan resmi lewat akun Instagram @officialstickreviews, penyelenggara sekaligus wasit tunggal turnamen ini.
Bermula dari Iseng, Bukan dari Rencana
Aisyah sendiri mengaku tidak menyangka dirinya viral. Padahal, ia sebenarnya cuma iseng.
"Ini sebetulnya buat seru-seruan saja. Official Stick Reviews itu semacam komunitas global, kalau tidak salah berasal dari Amerika," ujar Aisyah seperti dikutip TribunSolo.com, Kamis (23/7/2026).
Pun, ini bukan pertama kalinya ikut setor video. Aisyah sudah mengikuti akun itu sejak SMA, tapi selama bertahun-tahun cuma jadi penonton. Sekalinya pernah coba unggah temuan sendiri pada 2025, hasilnya biasa saja. Videonya disebut kurang bagus dan kayunya juga kurang istimewa.
Pada Maret 2026, tepat bulan Ramadan, seusai kerja paruh waktu, Aisyah mampir ke Pantai Cipta, Semarang, sekadar cari angin sore. Akan tetapi, instingnya menggerakkan Aisyah untuk kembali menemukan kayu unik.
"Awalnya cuma cari angin doang sih niatnya. Terus mungkin namanya 'insting bolang' nemu kayu itu," katanya, sebagaimana dikutip dari detikJateng, Kamis (23/7/2026).
Di bibir pantai, ia menemukan sebatang kayu melengkung yang langsung menarik perhatiannya.
"Tapi pas yang satu itu aku kayak 'ih ini sumpah bagus banget', dan kurasa kayaknya ini waktunya aku tampil di Stick Nation," lanjutnya.
Videonya Viral, Ia Malah Kaget Sendiri
Aisyah mengunggah video tongkat itu ke Instagram Story sambil menandai akun penyelenggara. Tak disangka, videonya di-repost jadi Reels dan responsnya.
Momentum itu berlanjut awal Juli 2026, saat panitia membuka pendaftaran resmi Wood Cup. Aisyah ikut mendaftarkan videonya.
"Ya udah aku masukin juga, aku submit video ke link pendaftaran terus awal Juli perlombaan ini dimulai, ternyata yang mewakili Indonesia videoku," katanya.
Ia berhadapan dengan 63 negara lain dalam format turnamen gugur ala Piala Dunia.
Bukan Kayu Biasa, tapi 100 Persen Alami
Yang membuat tongkat ini mencuri perhatian bukan hanya kisah di balik penemuannya, tetapi juga bentuknya. Aisyah menduga tongkat tersebut merupakan akar bambu yang hanyut lalu terdampar di pantai.
"Bentuknya benar-benar alami, bukan dipotong atau dibentuk, 100 persen by nature," jelasnya.
Bentuknya yang melengkung dengan ujung menyerupai kait memicu beragam imajinasi warganet. Banyak yang menilai tongkat itu sangat mirip kail milik Maui, karakter dalam film animasi Moana produksi Disney. Dari situlah julukan Maui Hook muncul.
Selain Maui Hook, ada pula yang menyebut tongkat itu mirip Pudge Hook dari gim Dota 2, menyerupai celurit, hingga berbentuk kepala angsa.
"Jadi yang kasih nama itu netizen karena mereka punya imajinasi masing-masing melihat bentuk kayunya," katanya.
The Power of Netizen
Menurut Aisyah, laga paling sengit bukan melawan Norwegia di final, melainkan saat menghadapi Brasil di babak sebelumnya. Apalagi, Brasil memiliki basis dukungan warganet yang sangat besar.
"Yang paling mengejutkan itu saat masuk Top 5. Saya benar-benar tidak menyangka Indonesia bisa sampai sejauh itu," kata Aisyah.
Pada akhirnya, turnamen ini menempatkan Indonesia di puncak, disusul Norwegia, Brasil, Portugal, dan Taiwan di posisi kelima.
"Saya rasa ini berkat kekuatan warganet Indonesia juga. Mereka benar-benar luar biasa mendukung sampai akhirnya bisa menang … karena sistemnya vote, jadi 'the power of netizen' itu bekerja banget," ujarnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


