misteri erupsi 1259 bagaimana inti es kutub mengungkap bencana vulkanik terbesar abad pertengahan - News | Good News From Indonesia 2026

Misteri Erupsi 1259: Bagaimana Inti Es Kutub Mengungkap Bencana Vulkanik Terbesar Abad Pertengahan

Misteri Erupsi 1259: Bagaimana Inti Es Kutub Mengungkap Bencana Vulkanik Terbesar Abad Pertengahan
images info

Ilustrasi pencarian di Kutub Utara. Foto oleh Daniel Fatnes di Unsplash


Jauh sebelum ada satelit cuaca atau sensor atmosfer modern, bumi pernah mengalami salah satu bencana iklim terbesar dalam sejarah manusia — dan selama puluhan tahun, tak seorang pun tahu penyebabnya. Jejaknya tidak ditemukan dalam catatan sejarah yang jelas, melainkan terkubur dalam-dalam di bawah lapisan es abadi di Kutub Utara dan Kutub Selatan.

Inilah kisah tentang bagaimana para glasiolog (ilmuwan yang mempelajari es dan gletser) menemukan bukti sebuah peristiwa vulkanik yang begitu dahsyat sehingga dampaknya terekam secara bersamaan di kedua ujung bumi, dan mengapa butuh waktu lebih dari tiga dekade untuk akhirnya menemukan sumbernya.

Seorang glasiolog bekerja dengan sampel inti es di Stasiun Bellingshausen, Antartika
info gambar

Seorang glasiolog bekerja dengan sampel inti es di Stasiun Bellingshausen, Antartika — metode serupa yang digunakan para ilmuwan untuk menganalisis lapisan sulfat purba. Foto oleh peserta European Science Photo Competition 2015 (Rusia), Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.


Sinyal Aneh di Dalam Es

Sejak pertengahan abad ke-20, para ilmuwan mulai mengebor inti es (ice core) di Greenland dan Antartika untuk mempelajari sejarah iklim bumi. Setiap lapisan es yang terbentuk dari salju yang memadat menyimpan "arsip" udara purba, termasuk partikel debu, gas, dan yang paling penting: konsentrasi sulfat.

Sulfat di dalam es sangat berharga bagi ilmuwan karena ia adalah jejak kimiawi dari erupsi gunung berapi besar. Ketika gunung berapi meletus dengan kekuatan dahsyat, ia melontarkan gas belerang dioksida (SO₂) hingga ke lapisan stratosfer. Di sana, gas tersebut bereaksi membentuk aerosol sulfat yang menyebar ke seluruh dunia sebelum akhirnya turun kembali ke permukaan bumi, termasuk mengendap di lapisan salju kutub.

Ketika para peneliti menganalisis lapisan-lapisan es yang berasal dari pertengahan abad ke-13, mereka menemukan sesuatu yang luar biasa: sebuah lonjakan sulfat yang jauh lebih besar dibandingkan erupsi vulkanik lain mana pun yang tercatat dalam dua milenium terakhir — termasuk letusan-letusan terkenal seperti Krakatau (1883) dan Tambora (1815). Yang membuat temuan ini semakin membingungkan, lonjakan sulfat serupa muncul secara bersamaan baik di inti es Greenland maupun Antartika, sebuah pola yang hanya bisa dihasilkan oleh erupsi tropis raksasa yang cukup kuat untuk menyebarkan aerosolnya ke kedua belahan bumi sekaligus.

Sebuah Peristiwa Tanpa Nama

Anehnya, ketika para ilmuwan mencoba mencocokkan lonjakan sulfat ini dengan catatan gunung berapi yang diketahui pernah meletus, mereka tidak menemukan kecocokan. Tidak ada gunung berapi besar yang tercatat meletus pada masa itu dengan skala yang cukup untuk menghasilkan jejak sebesar ini. Fenomena ini kemudian dijuluki oleh komunitas ilmiah sebagai "mystery eruption" atau erupsi misterius — sebuah bencana vulkanik raksasa yang jelas terjadi, namun pelakunya sama sekali tidak diketahui.

Analisis penanggalan lapisan es menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1258–1259. Karena keterbatasan presisi dalam metode penanggalan inti es pada masa itu, angka tahun ini sempat menjadi rujukan awal yang digunakan para peneliti, meski penanggalan yang lebih akurat kemudian mengarah pada tahun 1257 sebagai tahun erupsi sesungguhnya. Perbedaan satu-dua tahun ini penting, sebab ia menjadi salah satu petunjuk kunci yang kelak membantu tim peneliti menyempitkan pencarian mereka ke lokasi yang tepat.

Ini menjadi titik awal dari salah satu pencarian ilmiah paling menarik dalam sejarah vulkanologi modern: sebuah perburuan lintas benua untuk mengidentifikasi gunung berapi mana yang bertanggung jawab atas bencana iklim global ini.

Cincin Pohon Membuktikan Bumi Benar-Benar Mendingin

Lanskap gletser
info gambar

Lanskap gletser — lapisan es semacam inilah yang menyimpan arsip sulfat vulkanik purba selama ratusan hingga ribuan tahun. Foto oleh Derek Oyen, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).


Lonjakan sulfat di es saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa erupsi ini benar-benar berdampak pada iklim global. Untuk itu, para ilmuwan beralih ke sumber bukti independen lainnya: dendrokronologi, atau ilmu yang mempelajari cincin pertumbuhan pohon.

Pohon-pohon di wilayah beriklim sedang menumbuhkan satu cincin setiap tahun, dan lebar cincin tersebut mencerminkan kondisi pertumbuhan pada tahun itu — termasuk suhu musim panas. Ketika para peneliti memeriksa sampel kayu dari pohon-pohon kuno, termasuk pohon pinus berumur ribuan tahun di Amerika Utara dan Eropa, mereka menemukan pola cincin yang sangat menyempit tepat pada tahun-tahun setelah 1258. Ini adalah tanda klasik dari apa yang disebut "musim panas yang hilang" (year without a summer) — sebuah periode pendinginan global tajam yang konsisten dengan dampak dari erupsi vulkanik skala planet.

Penampang melintang batang pohon dengan cincin pertumbuhan tahunan
info gambar

Penampang melintang batang pohon dengan cincin pertumbuhan tahunan — objek studi utama dendrokronologi yang membuktikan pendinginan global pasca-1258. Foto oleh Collab Media, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).


Kombinasi dua jenis bukti independen ini — kimia sulfat dari es kutub dan pola pertumbuhan dari cincin pohon — memberikan konfirmasi kuat bahwa dunia benar-benar mengalami salah satu periode pendinginan paling ekstrem dalam dua ribu tahun terakhir, dan bahwa penyebabnya adalah sebuah erupsi vulkanik yang jauh lebih besar daripada yang pernah tercatat dalam sejarah manusia modern.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Dengan dua jenis bukti kuat di tangan — lonjakan sulfat global dan pendinginan iklim yang terverifikasi — para ilmuwan kini menghadapi teka-teki besar: gunung berapi mana yang mampu menghasilkan dampak sedahsyat ini, namun sama sekali tidak tercatat dalam sejarah tertulis dunia Barat?

Pencarian jawaban atas pertanyaan inilah yang akan membawa tim ilmuwan internasional — dipimpin oleh peneliti asal Prancis, Franck Lavigne dan Jean-Christophe Komorowski — melintasi empat benua, sebelum akhirnya menemukan jawabannya di sebuah pulau kecil di Indonesia. Kisah detektif ilmiah ini akan kita bahas lebih lanjut di artikel selanjutnya dalam seri ini.


Referensi

  • Lavigne, F. et al. (2013). Source of the great A.D. 1257 mystery eruption unveiled, Samalas volcano, Rinjani Volcanic Complex, Indonesia. Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).
  • Vidal, C.M. et al. (2016). The 1257 Samalas eruption: the single greatest stratospheric gas release of the Common Era. Scientific Reports (Nature).
  • Dokumenter: The Lost Supervolcano: The Biggest Eruption in Human History (segmen 1:42–8:58).

Artikel ini merupakan bagian pertama dari seri "Erupsi Samalas 1257: Menguak Bencana Vulkanik Terbesar dalam Sejarah Manusia".

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Yufi Eko Firmansyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Yufi Eko Firmansyah.

YE
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.