awas kegocek keong endemik jawa jangan disamakan dengan bekicot - News | Good News From Indonesia 2026

Awas Kegocek! Keong Endemik Jawa Jangan Disamakan dengan Bekicot

Awas Kegocek! Keong Endemik Jawa Jangan Disamakan dengan Bekicot
images info

Amphidromus javanicus


Bagi banyak orang, hampir semua siput bercangkang yang dijumpai di kebun atau pekarangan sering disebut bekicot. Anggapan tersebut telah lama melekat di masyarakat. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa penyebutan itu tidak selalu tepat. Bekicot hanyalah salah satu jenis keong, sementara Indonesia memiliki beragam spesies keong asli yang hidup di alam, termasuk yang hanya ditemukan di Pulau Jawa.

Periset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ayu Savitri Nurinsiyah, menjelaskan bahwa keong dan bekicot merupakan dua spesies yang berbeda, baik dari asal-usul maupun dampaknya terhadap lingkungan.

"Bekicot adalah keong, tapi keong belum tentu bekicot," ujar Ayu dalam Pelatihan Koleksi dan Identifikasi Gastropoda yang diselenggarakan Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN secara daring, Selasa (22/7).

Keong Endemik dan Bekicot

Menurut Ayu, salah satu keong asli Indonesia adalah Amphidromus javanicus, spesies endemik Pulau Jawa yang hanya ditemukan secara alami di wilayah tersebut. Keberadaannya berbeda dengan bekicot (Lissachatina fulica), yang merupakan spesies asing invasif.

Bekicot berasal dari luar Indonesia dan kini telah menyebar ke berbagai wilayah tropis di dunia. Bahkan, spesies ini masuk dalam daftar 100 spesies asing invasif paling berbahaya karena kemampuannya berkembang biak dengan sangat cepat.

Salah satu faktor yang membuat populasinya mudah meledak adalah sistem reproduksinya. Bekicot merupakan hewan hermafrodit, yaitu memiliki organ reproduksi jantan dan betina dalam satu individu. Kemampuan tersebut meningkatkan peluang berkembang biak sehingga populasinya dapat bertambah dengan cepat ketika kondisi lingkungan mendukung.

Ayu menjelaskan, bekicot pertama kali masuk ke Indonesia sekitar awal 1900-an. Penyebarannya berlangsung lebih masif pada era 1940-an ketika masa pendudukan Jepang, saat hewan tersebut didatangkan untuk dibudidayakan. Sejak itu, bekicot berhasil beradaptasi dan menyebar luas di berbagai daerah.

Sebaliknya, keong endemik seperti Amphidromus javanicus memiliki sebaran yang jauh lebih terbatas. Karena hanya hidup di wilayah tertentu, spesies semacam ini lebih rentan terhadap perubahan habitat, alih fungsi lahan, maupun tekanan lingkungan lainnya.

Mengumpulkan Data untuk Mengenali Keanekaragaman Hayati

BRIN juga menjelaskan teknik pengumpulan dan identifikasi gastropoda, kelompok hewan bercangkang yang mencakup keong dan siput.

Menurut Ayu, terdapat beberapa metode yang umum digunakan peneliti saat melakukan survei lapangan. Teknik seperti time-search, visual search, maupun direct collection dilakukan dengan mengamati habitat secara langsung, kemudian mengambil spesimen menggunakan pinset atau tangan. Dalam praktiknya, beberapa metode biasanya dikombinasikan agar pengumpulan data lebih efektif, terutama ketika waktu dan sumber daya penelitian terbatas.

Setelah spesimen diperoleh, proses berikutnya adalah preservasi. Untuk koleksi berupa cangkang kosong, pembersihan dilakukan menggunakan air dan sikat berbulu halus jika ukurannya besar. Sementara cangkang berukuran kecil dapat dibersihkan menggunakan alat ultrasonik. Setiap spesimen kemudian diberi label yang memuat informasi penting, seperti nomor koleksi, lokasi penemuan, dan nama spesies.

Apabila koleksi berupa individu hidup, prosedur preservasi dilakukan mengikuti standar ilmiah agar karakter morfologi tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk penelitian di masa mendatang.

Museum Menjadi Arsip Keanekaragaman Hayati

Ayu menekankan bahwa identifikasi spesies tidak selalu harus dilakukan melalui ekspedisi ke lapangan. Museum koleksi ilmiah memiliki peran yang sama pentingnya karena menyimpan spesimen yang menjadi acuan dalam penelitian taksonomi.

Melalui koleksi tersebut, peneliti dapat membandingkan bentuk cangkang, ukuran tubuh, hingga karakter morfologi lainnya dengan bantuan literatur ilmiah yang telah diterbitkan sebelumnya. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memastikan identitas suatu spesies secara akurat.

Menurut Ayu, pengelolaan museum koleksi ilmiah perlu mendapat perhatian serius karena berfungsi sebagai penyimpan jejak keanekaragaman hayati Indonesia. Spesimen yang tersimpan hari ini dapat menjadi satu-satunya bukti keberadaan suatu spesies apabila habitat alaminya mengalami kerusakan atau bahkan hilang pada masa depan.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.