Ribuan kilometer dari sumber letusannya, dan lebih dari 700 tahun sebelum manusia memahami hubungan antara gunung berapi dan iklim global, penduduk London mengalami salah satu musim yang paling mematikan dalam sejarah kota tersebut. Bukan wabah penyakit, bukan pula perang — melainkan kelaparan massal yang dipicu oleh cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba dan tak masuk akal bagi orang-orang pada masanya.
Artikel ini menelusuri dua jenis bukti yang, ketika digabungkan berabad-abad kemudian, mengungkap skala sesungguhnya dari tragedi kemanusiaan yang tersembunyi di balik erupsi vulkanik misterius tahun 1257.

Kawasan Spitalfields, London timur, tempat penggalian arkeologi Museum of London Archaeology menemukan ribuan kerangka korban kelaparan 1258. Foto oleh Michael Reeve, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
Catatan Seorang Biarawan tentang Cuaca yang Tidak Wajar
Salah satu saksi mata paling penting dari peristiwa ini bukanlah seorang ilmuwan, melainkan seorang biarawan Benediktin bernama Matthew Paris, yang tinggal di Biara St Albans, tidak jauh dari London. Dalam karya tulisnya yang monumental, Chronica Majora, Paris mencatat secara rinci kondisi cuaca yang dianggapnya sangat tidak wajar pada tahun-tahun sekitar 1258.

Naskah kuno di atas peta — gambaran suasana catatan sejarah semacam Chronica Majora karya Matthew Paris, sumber utama kesaksian tertulis tentang cuaca ekstrem 1258. Foto oleh Gabriela, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).
Menurut catatannya, angin utara bertiup nyaris tanpa henti disertai embun beku yang berkepanjangan, hujan salju, dan hawa dingin yang begitu menyiksa sehingga tanah membeku keras, kaum miskin sangat menderita, seluruh kegiatan bercocok tanam terhenti, dan banyak anak ternak mati akibat cuaca ekstrem tersebut. Cuaca ekstrem ini datang di tengah musim panen yang sudah lemah, memperparah krisis pangan yang sesungguhnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun sebelumnya akibat gagal panen berturut-turut.
Yang menarik, catatan sejarawan modern menunjukkan bahwa krisis pangan di Inggris sebenarnya sudah dimulai sejak 1255–1257, jauh sebelum dampak penuh dari erupsi vulkanik terasa. Harga gandum melonjak drastis — dari sekitar 3 shilling per satuan pada 1253 menjadi 15 shilling di London pada 1258. Namun, hawa dingin ekstrem yang menyertai erupsi vulkanik pada 1258 menjadi pukulan terakhir yang mengubah krisis pangan yang sudah parah menjadi bencana kelaparan skala penuh, khususnya di kota-kota besar seperti London yang bergantung pada pasokan pangan dari luar.
Kuburan Massal Spitalfields: Bukti dari Balik Tanah

Ladang gandum siap panen — komoditas pangan pokok inilah yang gagal panen secara masif di Inggris akibat musim dingin vulkanik yang menyertai erupsi 1257–1258. Foto oleh Liz Joseph, Unsplash (Unsplash License, bebas digunakan).
Selama bertahun-tahun, arkeolog di London tidak sepenuhnya memahami skala tragedi ini — sampai penggalian besar-besaran dilakukan di area pasar Spitalfields, London timur. Antara 1991 dan 2007, tim dari Museum of London Archaeology (MOLA) menggali lebih dari 10.500 kerangka manusia di situs bekas Priori dan Rumah Sakit St Mary Spital.
Awalnya, banyak dari kuburan massal ini diduga berasal dari peristiwa Wabah Hitam (Black Death) pada abad ke-14 atau bencana kelaparan besar tahun 1315–1317. Namun, hasil penanggalan radiokarbon terhadap tulang-tulang tersebut mengungkap sesuatu yang mengejutkan: banyak dari korban ternyata meninggal jauh lebih awal, sekitar tahun 1258 — hampir satu abad sebelum Wabah Hitam melanda Eropa.
Temuan ini mengubah total pemahaman para arkeolog. Berdasarkan analisis populasi dan pola penguburan, diperkirakan sekitar 30% populasi di sekitar area tersebut meninggal dunia dalam periode krisis ini — sebuah angka kematian yang sangat besar untuk sebuah peristiwa tunggal di dunia abad pertengahan. Osteolog utama dalam penelitian ini, Don Walker dari MOLA, menyimpulkan bahwa pola penguburan massal serta bukti stres fisiologis pada tulang-tulang tersebut konsisten dengan periode kelaparan parah, bukan wabah penyakit menular.
Menghubungkan Titik-Titik: Dari Es Kutub ke Kuburan London
Yang membuat penemuan Spitalfields begitu signifikan secara ilmiah adalah kesesuaiannya yang hampir sempurna dengan bukti dari artikel sebelumnya dalam seri ini: lonjakan sulfat di inti es kutub dan penyempitan cincin pohon yang menandai pendinginan global drastis, keduanya bertepatan dengan tahun-tahun setelah 1257.
Ini bukan kebetulan. Erupsi vulkanik raksasa yang melontarkan gas belerang ke stratosfer dapat memicu apa yang disebut "volcanic winter" atau musim dingin vulkanik — sebuah penurunan suhu global yang tajam akibat aerosol sulfat yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa. Bagi masyarakat abad pertengahan yang sepenuhnya bergantung pada pertanian musiman, bahkan penurunan suhu sebesar satu hingga dua derajat Celsius saja sudah cukup untuk menghancurkan hasil panen secara drastis, memicu kenaikan harga pangan yang tidak terkendali, dan pada akhirnya menyebabkan kelaparan massal seperti yang tercatat oleh Matthew Paris dan terkubur di bawah tanah Spitalfields selama hampir 750 tahun.
Namun para sejarawan juga mengingatkan bahwa krisis 1258 bukanlah akibat tunggal dari satu faktor. Ekonom sejarah seperti Bruce Campbell dari Queen's University Belfast menekankan bahwa kombinasi gagal panen berturut-turut sejak 1255, tekanan populasi, serta ketidakstabilan sosial ikut memperparah dampak dari anomali cuaca yang dipicu erupsi tersebut. Ini menjadi pengingat penting bahwa bencana iklim jarang berdiri sendiri — ia biasanya memperparah kerentanan yang sudah ada sebelumnya dalam sebuah masyarakat.
Sebuah Tragedi Global yang Tersembunyi
Kisah London hanyalah satu babak dari bencana yang jauh lebih luas. Catatan-catatan sejarah dari berbagai belahan dunia — mulai dari Eropa hingga Asia — mencatat anomali cuaca serupa pada periode yang sama, menandakan bahwa dampak dari erupsi misterius ini benar-benar bersifat global. Namun pertanyaan terbesar tetap belum terjawab: gunung berapi mana sebenarnya yang bertanggung jawab atas semua ini?
Jawabannya baru akan ditemukan berabad-abad kemudian, melalui ekspedisi ilmiah yang membawa dua vulkanolog Prancis ke sebuah pulau terpencil di Indonesia — kisah yang akan kita bahas dalam artikel berikutnya.
Referensi
- Connell, B., Jones, A.G., Redfern, R., & Walker, D. (2012). A Bioarchaeological Study of Medieval Burials on the Site of St Mary Spital: Excavations at Spitalfields Market, London E1, 1991–2007. Museum of London Archaeology.
- Campbell, B. Global Climates, the 1257 Mega-Eruption of Samalas Volcano, Indonesia, and the English Food Crisis of 1258. Transactions of the Royal Historical Society, Cambridge University Press.
- Matthew Paris, Chronica Majora (abad ke-13).
- Dokumenter: The Lost Supervolcano: The Biggest Eruption in Human History (segmen 12:24–16:48).
Artikel ini adalah bagian kedua dari seri "Erupsi Samalas 1257: Menguak Bencana Vulkanik Terbesar dalam Sejarah Manusia".
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


