Di Indonesia, masalah literasi, khususnya membaca sebenarnya bukan hanya tentang minat dan kemauan, tetapi juga kesempatan.
Bisa dibayangkan, harga sebuah buku baru kini rata-rata berkisar Rp80.000 hingga lebih dari Rp150.000. Nilai itu mungkin tidak menjadi masalah bagi sebagian orang. Akan tetapi, bagi banyak keluarga Indonesia, satu buku bisa setara dengan kebutuhan pangan untuk beberapa hari.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pengeluaran rumah tangga masyarakat Indonesia masih didominasi kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, perumahan, listrik, air, transportasi, serta pendidikan. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk memenuhi kebutuhan dasar, membeli buku di luar keperluan sekolah bisa dianggap sebagai suatu kemewahan.
Di sisi lain, perpustakaan umum belum selalu menjadi solusi. Meski koleksinya dapat diakses tanpa biaya, banyak perpustakaan masih beroperasi pada jam kerja, sementara pelajar, mahasiswa, maupun pekerja justru memiliki waktu luang pada sore atau malam hari.
Belum lagi persoalan jarak, koleksi yang belum merata, hingga terbatasnya ruang baca yang nyaman. Akibatnya, akses terhadap bacaan bermutu masih menjadi tantangan yang nyata bagi banyak orang.
Atas dasar alasan-alasan itulah, Raja Sinaga inisiatif untuk membawa buku ke ruang publik. Di samping gerobak ciloknya di Taman Cikapayang, Bandung, siapa saja bisa membaca.
Meski pemiliknya pedagang cilok, Kawan tak harus membeli cilok jika ingin ikut membaca.
Lapak Buku Berawal dari Kebiasaan Membaca Saat Menunggu Pembeli
Ya, namanya Raja Saud Martua Sinaga atau Raja Sinaga, pemuda 26 tahun yang menjadikan salah satu spot di Taman Cikapayang, Dago, sebagai ruang literasi terbuka.
Raja bukan warga asli Bandung. Ia lahir dan besar di Majalengka dari keluarga berdarah Batak. Beberapa tahun lalu, ia merantau ke Kota Kembang untuk berjualan cilok demi memenuhi kebutuhan hidup.
Di sela-sela menunggu pembeli, ia hampir selalu membawa buku. Kini, ia tak hanya bawa satu buku, tetapi beberapa buku yang digelar di samping gerobaknya.
Dekat dengan buku, Raja kerap ditanya apakah ia berstatus sebagai mahasiswa? Pertanyaan itu membuat Raja menyadari masih banyak orang yang menganggap membaca identik dengan mahasiswa atau kalangan tertentu. Seolah-olah buku bukan milik semua orang.
Gagasan Literasi Jalanan
Gagasan membuat lapak buku gratis mulai diwujudkan pada Ramadan tahun lalu. Raja yang dulunya berkeliling, kini ia pun lebih sering menetap di Taman Cikapayang pada malam hari, lalu menggelar koleksi bukunya di samping gerobak.
Awalnya koleksi itu berasal dari rak bukunya sendiri. Seiring waktu, teman-temannya mulai menyumbangkan buku. Meski begitu, Raja mengaku tetap selektif menerima donasi agar lapaknya tidak sekadar menjadi tempat membuang buku yang sudah tidak diinginkan. Ia juga masih menyisihkan hasil berjualan untuk membeli buku baru.
Kini koleksinya telah mencapai sekitar 100 buku dengan tema yang beragam, mulai dari sejarah, sosial, politik hingga pengembangan diri.
Seiring waktu, lapak kecil di pinggir jalan itu berubah menjadi ruang diskusi informal. Bahkan, dari sana, lahir komunitas Insomnia Book Club, tempat masyarakat berkumpul pada malam hari untuk membaca dan bertukar gagasan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


