bukan sekadar membuat akun begini umkm citalang belajar memasuki pasar digital - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekadar Membuat Akun, Begini UMKM Citalang Belajar Memasuki Pasar Digital

Bukan Sekadar Membuat Akun, Begini UMKM Citalang Belajar Memasuki Pasar Digital
images info

Sesi pelatihan produk | Foto: Dokumentasi Pribadi


Setiap UMKM memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Hal itu pula yang kami temukan saat mendampingi Keripik D'Sultan dan Abah Masri Farm di Desa Citalang, Purwakarta. Sebelum menentukan platform yang digunakan, observasi dan diskusi dilakukan untuk memahami cara pemasaran, kebiasaan pelaku usaha, serta kendala yang mereka hadapi.

Persoalannya ternyata bukan sekadar belum memiliki ^marketplace, tetapi juga keterbatasan promosi, identitas digital usaha yang belum optimal, pemanfaatan media sosial yang masih terbatas, hingga pembayaran digital yang belum sepenuhnya digunakan.

Temuan tersebut relevan dengan kajian Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM masih menghadapi tantangan kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur, jejaring, serta perilaku dalam memanfaatkan teknologi.

Karena itu, digitalisasi yang efektif tidak dimulai dengan memilih aplikasi, tetapi dengan memahami kebutuhan usaha terlebih dahulu.

Dari Kebutuhan jadi Jejak Digital

Setelah kebutuhan masing-masing usaha dipetakan, pendampingan beralih pada pembangunan jejak digital yang benar-benar dapat digunakan oleh pelaku UMKM. Keripik D'Sultan dan Abah Masri Farm mulai didampingi dalam menyiapkan email usaha, WhatsApp Business, media sosial, Google Business Profile, QRIS, hingga katalog dan konten promosi sederhana.

Tahap ini tidak sekadar menghadirkan usaha di ruang digital, tetapi juga membuka lebih banyak jalur bagi konsumen untuk menemukan produk, berkomunikasi, bertransaksi, dan melakukan pembayaran.

Pendampingan kemudian berkembang ke kanal penjualan melalui Shopee Seller serta TikTok Shop/Tokopedia, disertai pengenalan cara penggunaannya. Berbagai kanal digital tersebut juga dihubungkan melalui Linktree agar lebih mudah diakses dari media sosial.

baca juga

Pendekatan ini relevan dengan upaya digitalisasi UMKM yang terus didorong secara nasional. Bank Indonesia, misalnya, memperkuat transformasi digital UMKM melalui perluasan QRIS dan kolaborasi dengan platform perdagangan digital untuk memperluas jangkauan pasar.

Hal yang tidak kalah penting adalah serah terima akun dan kata sandi kepada pemilik usaha. Dengan demikian, pendampingan tidak berakhir pada banyaknya akun yang berhasil dibuat.

Kendali atas seluruh kanal digital tetap berada di tangan pelaku UMKM agar mereka dapat belajar mengelola dan mengembangkannya secara mandiri.

Sesi pelatihan produk | Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sesi pelatihan produk | Foto: Dokumentasi Pribadi


Tantangannya Bukan Membuat Akun, tetapi Menggunakannya

Membuat akun hanya membutuhkan beberapa menit. Memastikan akun tersebut terus digunakan setelah pendampingan berakhir adalah tantangan yang berbeda. Karena itu, pendampingan Keripik D'Sultan dan Abah Masri Farm tidak berhenti ketika berbagai kanal digital selesai disiapkan.

Google Business Profile, WhatsApp Business, media sosial, hingga marketplace kembali diperiksa untuk melihat sejauh mana pemilik usaha mampu mengoperasikannya sendiri. Kesulitan yang muncul menjadi bahan evaluasi untuk menentukan bagian yang perlu dijelaskan atau diperbaiki.

Pendekatan ini penting karena transformasi digital UMKM tidak cukup berhenti pada adopsi teknologi. OECD menekankan bahwa keterampilan digital dan kemampuan mengintegrasikan teknologi ke dalam kegiatan usaha menjadi bagian penting agar UMKM dapat memperoleh manfaat dari digitalisasi.

Dengan demikian, keberhasilan digitalisasi bukan diukur dari jumlah akun yang berhasil dibuat, tetapi dari kemampuan pelaku usaha menggunakan dan mengembangkannya secara mandiri.

baca juga

Dua UMKM, Kebutuhan Digital yang Berbeda

Pendampingan terhadap Keripik D'Sultan dan Abah Masri Farm juga memperlihatkan bahwa digitalisasi tidak dapat diterapkan dengan cara yang sama pada setiap usaha. Perbedaan karakter produk, konsumen, serta cara menjalankan usaha membuat kebutuhan platform digital keduanya tidak selalu serupa.

Kanal penjualan yang efektif bagi usaha makanan siap konsumsi, misalnya, belum tentu menjadi prioritas bagi usaha dengan karakter produk dan pasar yang berbeda.

Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya memilih teknologi berdasarkan kebutuhan usaha, bukan sekadar mengikuti platform yang sedang populer. OECD juga menekankan bahwa UMKM merupakan kelompok yang beragam dan proses digitalisasinya berkaitan erat dengan sektor serta cara masing-masing usaha menciptakan nilai.

Karena itu, dukungan transformasi digital perlu disesuaikan dengan kondisi spesifik usaha. Digitalisasi UMKM tidak seharusnya menggunakan satu solusi untuk semua.

Pelajaran Kecil dari Desa Citalang

Pengalaman di Desa Citalang menunjukkan bahwa teknologi sebenarnya hanya satu bagian dari proses digitalisasi UMKM. Memiliki akun marketplace, media sosial, atau pembayaran digital belum cukup jika pelaku usaha belum percaya diri menggunakannya secara mandiri.

Pendampingan, pemilihan platform yang sesuai, keberanian mencoba, serta kemampuan mengelola akun justru menentukan apakah perubahan tersebut dapat bertahan setelah program selesai.

Hal ini sejalan dengan OECD yang menempatkan keterampilan digital, pelatihan, dan kolaborasi antarpemangku kepentingan sebagai faktor penting untuk membantu UMKM memperoleh manfaat dari transformasi digital.

Di sinilah program pengabdian perguruan tinggi dapat mengambil peran: bukan sekadar memperkenalkan teknologi, tetapi mendampingi masyarakat hingga mampu memanfaatkannya secara mandiri.

Pada akhirnya, teknologi dapat diperkenalkan dalam sehari, tetapi kemandirian digital tumbuh melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Ketika Pendamping Pulang, Akun Tetap Berjalan

Pada akhirnya, keberhasilan Citalang Go Digital bukan diukur dari banyaknya akun yang berhasil dibuat selama pendampingan. Ukurannya justru terlihat ketika pelaku UMKM mampu mengunggah produk, memperbarui informasi usaha, menerima pesanan melalui kanal digital, dan mengelola platform tersebut tanpa harus selalu didampingi.

Teknologi memang dapat membuka akses menuju pasar yang lebih luas, tetapi manfaatnya baru terasa ketika pelaku usaha mampu menggunakannya secara berkelanjutan.

Sebab, digitalisasi yang bermakna bukan sekadar menghadirkan teknologi dalam sebuah usaha, melainkan memberikan kendali kepada pelaku UMKM untuk tumbuh bersama teknologi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.