Tepuk tangan dan sorak semangat memenuhi ruang Lembaga Gemawan, Kota Pontianak, pada Sabtu siang, saat 30 delegasi AFL Summer Peak 2026 satu demi satu tampil membawakan hasil kerja keras mereka dalam Final Project Showcase yang digelar AIESEC in Untan. Sesi ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian Capacity Building yang telah dijalani delegasi sejak beberapa bulan sebelumnya, sekaligus ajang pembuktian kesiapan mereka memimpin dan menyelesaikan persoalan nyata di berbagai bidang.
Acara dibuka oleh pembawa acara, yang mengajak seluruh delegasi merayakan perjalanan panjang mereka, bukan semata menilai hasil akhir. Sesi berbagi perasaan singkat turut mewarnai pembukaan, ketika setiap delegasi diminta menyebutkan satu kata yang menggambarkan perasaannya menjelang presentasi. Beragam ungkapan seperti "bersemangat", "gugup", "siap", hingga "percaya diri" pun bermunculan. Salah satu delegasi, Muhammad Akbar, memilih kata "bersemangat" karena timnya telah bekerja keras mempersiapkan proyek yang akan dipresentasikan hari itu.
Final Project sendiri dirancang untuk menguji kemampuan delegasi menerapkan seluruh pembelajaran selama program, berkolaborasi sebagai tim, mengembangkan solusi atas tantangan nyata, serta mempresentasikan gagasan secara profesional.
Tiga juri turut hadir menilai jalannya presentasi, yaitu Armand Jaya selaku dosen manajemen sumber daya manusia sekaligus peneliti dan pakar kepemimpinan, Wira Kasyfurrahman selaku Local Committee President AIESEC in Untan yang mewakili suara kepemimpinan pemuda, dan Alfariza Yulianto selaku Local Head of Incoming Global Volunteer (Departemen Program Pertukaran Relawan ke Indonesia) AIESEC in Untan yang juga tergabung dalam National Supporting Team AIESEC in Indonesia.

Satu persatu dari enam kelompok delegasi yang terbagi dalam bidang Dampak Sosial, Keuangan, Manajemen Bisnis, Sumber Daya Manusia, Pendidikan, dan Pemasaran Digital tampil mempresentasikan solusi atas studi kasus yang telah mereka analisis. Setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi secara bergiliran, disaksikan langsung oleh delegasi lain maupun dewan juri.
Usai seluruh kelompok tampil, giliran dewan juri memberikan catatan dan masukan. Alfariza Yulianto menilai delegasi berhasil mengaitkan gagasan mereka dengan persoalan yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat. "Saya mengapresiasi bagaimana para delegasi mampu mengaitkan ide mereka dengan isu-isu nyata di sekitar kita. Teruslah mengasah kemampuan berpikir kritis dan presentasi, karena itu akan sangat berharga di masa depan," ujarnya.
Dalam sesi penutup, pembawa acara menegaskan bahwa menyelesaikan Final Project bukan sekadar soal menjawab studi kasus, melainkan juga soal menunjukkan kerja sama tim, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan komunikasi yang telah dibangun sepanjang program. Momen refleksi turut mewarnai penutupan, ketika beberapa delegasi diminta membagikan pencapaian terbesar dan tantangan terberat yang mereka alami selama proses Final Project berlangsung.
Cut Alya Humaira, salah satu delegasi, membagikan pengalamannya. "Pencapaian terbesar saya adalah berhasil bekerja sama dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda-beda dan menyelesaikan proyek tepat waktu. Tantangan terberatnya justru soal menyelaraskan jadwal kami masing-masing," ungkapnya.
Meski Final Project menandai berakhirnya rangkaian Capacity Building, perjalanan delegasi AFL Summer Peak 2026 belum sepenuhnya usai. AIESEC in Untan turut mengumumkan agenda lanjutan berupa Graduation Day yang akan menjadi penutup resmi seluruh rangkaian program. Bagi AIESEC in Untan, momen ini menjadi bukti bahwa proses belajar sepanjang Capacity Building telah membuahkan hasil yang nyata, sekaligus bekal berharga bagi delegasi menyongsong tahap penutup program yang masih menanti di depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


