Bank sampah bertajuk “Pandawara Cilik” resmi diluncurkan di SDN Gunungjati oleh Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Inovasi IPB University 2026 pada Senin (27/7/2026). Program ini lahir dari hasil observasi tim terhadap kondisi pengelolaan sampah di Desa Gunungjati, Kabupaten Tegal, yang selama ini kerap terabaikan karena dianggap sebagai persoalan biasa.
Melalui proses observasi, tim KKN-T Inovasi IPB 2026 menemukan bahwa aktivitas harian sekolah menghasilkan volume sampah anorganik yang cukup tinggi, terutama dari sampah kemasan makanan dan minuman. Sayangnya, pemilahan sampah di lingkungan sekolah belum berjalan optimal sehingga sebagian besar sampah masih tercampur dan berakhir di tempat pembakaran belakang sekolah tanpa sempat dipilah maupun dimanfaatkan kembali. Kondisi ini dikhawatirkan menimbulkan masalah baru terkait polusi udara hingga kesehatan pernapasan warga sekolah.
Kenapa Siswa SD Jadi Sasaran Program Bank Sampah?
Siswa sekolah dasar dipilih sebagai sasaran utama karena berada pada rentang usia pembentukan karakter, atau yang biasa disebut fase golden age. Pada usia ini, kebiasaan baru dinilai lebih mudah tertanam dan berpotensi menular ke lingkungan keluarga hingga tempat tinggal masing-masing siswa. Melalui pendekatan ini, tim berharap dapat membangun warga Desa Gunungjati yang mampu mengelola sampah rumah tangga mulai dari lingkungan sendiri.
Nama “Pandawara” dipilih sebagai representasi sosok pahlawan dengan semangat gotong royong yang melahirkan aksi nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan. Adapun “Cilik”, yang dalam bahasa Jawa berarti kecil, merujuk pada siswa-siswi SDN Gunungjati sebagai pelaksana utama program bank sampah tersebut.
Fasilitas dan Sistem Pemilahan Bank Sampah Pandawara Cilik
CaptionPengenalan alat press manual untuk sampah botol plastik dan kaleng. (Dokumentasi pribadi)
Program ini dilengkapi dengan tempat sampah pilah lima kategori, alat press sampah manual, poster dan papan edukasi, serta modul panduan pengolahan sampah terpilah. Kelima kategori pemilahan tersebut adalah:
- Kuning untuk botol dan gelas plastiik
- Biru untuk logam berupa kaleng dan aluminium kemasan minuman
- Hijau untuk kertas, karton, dan kardus
- Merah untuk residu yang benar-benar tidak dapat diolah kembali
- Galon bekas berkatup dispenser untuk sampah organik yang menjadi bahan baku Pupuk Organik Cair (POC)
Alat press sampah manual turut dihadirkan untuk memadatkan volume sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng agar area penyimpanan bank sampah tidak cepat penuh. Desain alat ini juga memperhatikan aspek keamanan mengingat penggunanya adalah siswa sekolah dasar.
Sebelum peresmian, tim lebih dulu melakukan pendampingan bertahap kepada siswa, dimulai sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) melalui penyampaian materi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta pengenalan jenis-jenis sampah.
CaptionPengenalan jenis-jenis tempat sampah kepada siswa SDN Gunungjati sesuai kategori terpilah. (Dokumentasi pribadi)
Selanjutnya, pada Sabtu (25/7/2026), dilaksanakan sosialisasi khusus mengenai pemanfaatan bank sampah yang telah dipasang. Sosialisasi ini dikemas melalui pemutaran video edukasi, pemaparan materi 5R (Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot), simulasi pemilahan sampah dalam bentuk permainan, demonstrasi alat press, hingga pemaparan sederhana mengenai pembuatan POC dari sampah organik.
Penekanan pada materi 5R dilakukan agar siswa memahami bahwa pengelolaan sampah yang baik dimulai dari upaya pencegahan, yaitu menolak dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sebelum akhirnya menggunakan kembali, mendaur ulang, atau mengomposkan sampah yang telah dihasilkan.
Peresmian dan Tantangan Keberlanjutan Program
Dua hari setelah sosialisasi, tepatnya Senin (27/7/2026), dilaksanakan peresmian sekaligus serah terima simbolis Bank Sampah Pandawara Cilik dari Tim KKN-T Inovasi IPB University 2026 kepada pihak SDN Gunungjati. Serah terima ini menandai peralihan pengelolaan program kepada pihak sekolah, meski pendampingan tetap dilanjutkan untuk memastikan keberlanjutan program.
Sebelum program ini berjalan, pihak sekolah sebenarnya pernah menyosialisasikan pemilahan sampah kepada warga sekolah. Namun, upaya tersebut belum berjalan optimal karena keterbatasan jumlah tempat sampah serta tantangan dalam menjaga konsistensi siswa untuk memilah sampah secara rutin. Kehadiran tempat sampah berdesain warna-warni pada program ini turut menjadi salah satu faktor yang membuat siswa lebih tertarik membuang sampah sesuai jenisnya.
Meski demikian, tim tetap menghadapi tantangan dalam pelaksanaan program, terutama terkait keberlanjutan pengelolaan setelah masa KKN berakhir. Untuk mengatasi hal itu, tim menyiapkan Standard Operating Procedure (SOP) atau modul sederhana sebagai panduan operasional program, mulai dari kebiasaan ramah lingkungan, aksi pengurangan, pemilahan, hingga pengolahan sampah. Tim juga menghubungkan pihak sekolah dengan pengepul lokal untuk pengambilan sampah secara berkala.
Bagi Tim KKN-T Inovasi IPB University, Pandawara Cilik bukan sekadar nama program, melainkan identitas yang menggambarkan pendekatan pengelolaan sampah berbasis sekolah, dimulai dari kebiasaan memilah sampah sejak usia dini. Melalui program ini, tim berharap SDN Gunungjati dapat menjadi sekolah percontohan berbudaya lingkungan yang tidak hanya bermanfaat selama masa pengabdian berlangsung, tetapi juga berkelanjutan dan terus dikembangkan secara mandiri oleh sekolah sekaligus menginspirasi masyarakat Desa Gunungjati untuk turut mengelola sampah dari tingkat rumah tangga menuju lingkungan desa yang bersih dan sadar sampah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


