siapa sangka limbah rumput laut dan jeroan ikan bisa diolah jadi pupuk organik tanaman makin subur - News | Good News From Indonesia 2026

Siapa Sangka Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Bisa Diolah Jadi Pupuk Organik, Tanaman Makin Subur!

Siapa Sangka Limbah Rumput Laut dan Jeroan Ikan Bisa Diolah Jadi Pupuk Organik, Tanaman Makin Subur!
images info

Pupuk Bokashi


Persoalan limbah dari industri rumput laut dan perikanan masih menjadi tantangan di berbagai daerah pesisir Indonesia. Residu pengolahan rumput laut maupun jeroan ikan sering kali belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berpotensi menambah beban lingkungan. 

Limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai itu kini justru menjadi bahan baku pupuk organik berkat inovasi yang dikembangkan Guru Besar IPB University, Prof Nurjanah.

Melalui pengembangan pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut, ia menghadirkan alternatif pupuk organik yang mendukung penerapan konsep zero waste dan ekonomi sirkular. 

Mengubah Limbah Menjadi Sumber Nutrisi Tanaman

Pupuk bokashi yang dikembangkan Prof Nurjanah dibuat dari kombinasi beberapa bahan organik, dengan residu garam rumput laut sebagai sumber unsur hara makro dan mikro. Agar kandungan nutrisinya semakin lengkap, limbah jeroan ikan juga dimanfaatkan sebagai bahan tambahan yang kaya senyawa organik dan enzim alami.

Menurut Prof Nurjanah, pemanfaatan kedua jenis limbah tersebut memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan jika hanya dibuang sebagai sisa produksi.

“Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk,” ujarnya.

Keunggulan lain dari inovasi ini terletak pada ketersediaan bahan bakunya. Residu garam rumput laut merupakan hasil samping industri pengolahan rumput laut yang jumlahnya cukup melimpah. Sementara itu, limbah jeroan ikan berasal dari industri perikanan yang juga menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya.

Pemanfaatan kedua limbah tersebut tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari bahan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Diproduksi Melalui Fermentasi Selama Tujuh Minggu

Pembuatan pupuk bokashi dilakukan melalui proses fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL). Larutan MOL dibuat dari bahan-bahan hayati seperti limbah organik, air kelapa, gula merah, dan garam yang berfungsi membantu penguraian bahan organik.

Dalam proses produksinya, residu garam rumput laut dicampur dengan sekam padi dan dedak. Campuran tersebut kemudian disemprot menggunakan larutan MOL sebelum difermentasi selama sekitar tujuh minggu. Setelah proses fermentasi selesai, bokashi matang siap digunakan sebagai pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman.

Metode fermentasi ini menghasilkan pupuk dengan kandungan unsur hara yang lebih lengkap dibandingkan pupuk organik konvensional karena memadukan nutrisi dari rumput laut, limbah organik, serta enzim yang berasal dari jeroan ikan.

Penuh Tantangan Memasuki Pasar

Meski menawarkan berbagai keunggulan, pengembangan pupuk bokashi ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menjaga konsistensi kualitas bahan baku yang berasal dari limbah sehingga mutu pupuk tetap stabil pada setiap proses produksi.

Selain itu, produk harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pengujian mutu, proses perizinan, hingga penyusunan sistem distribusi dan penyimpanan yang memadai sebelum dapat dipasarkan secara luas. Tantangan lainnya adalah membangun kepercayaan petani yang selama ini masih terbiasa menggunakan pupuk kimia sebagai sumber nutrisi utama bagi tanaman.

Di sisi lain, peluang pengembangan pupuk organik di Indonesia dinilai masih sangat besar. Meningkatnya kesadaran terhadap praktik pertanian berkelanjutan membuat permintaan pupuk organik terus bertambah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 juga menunjukkan Indonesia masih mengimpor sekitar 5.367 ton pupuk organik. Angka tersebut mengindikasikan bahwa kebutuhan nasional belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

Melihat kondisi tersebut, Prof Nurjanah menilai pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi salah satu alternatif yang mampu memperkuat kemandirian sektor pertanian nasional.

“Pupuk bokashi berbasis residu garam rumput laut berpotensi menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Selain ramah lingkungan, produk ini memiliki kandungan nutrisi yang lebih lengkap berkat kombinasi residu garam rumput laut, limbah organik, dan enzim dari limbah jeroan ikan,” katanya.

Melalui inovasi ini, Prof Nurjanah berharap limbah dari sektor perikanan dan pengolahan rumput laut tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Jika diterapkan secara luas, pupuk bokashi ini berpotensi mendukung peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat praktik ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor pertanian, perikanan, dan industri pengolahan rumput laut secara lebih berkelanjutan.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.