anak anak desa cibungur belajar daur ulang bersama kkn nusantara kelompok 10 - News | Good News From Indonesia 2026

Anak-Anak Desa Cibungur Belajar Daur Ulang Bersama KKN Nusantara Kelompok 10

Anak-Anak Desa Cibungur Belajar Daur Ulang Bersama KKN Nusantara Kelompok 10
images info

Foto: milik pribadi


Mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Di Desa Cibungur, Kabupaten Lebak, anak-anak belajar mengenal konsep daur ulang dengan cara yang sederhana sekaligus menyenangkan, yaitu mengubah tutup botol plastik bekas menjadi gantungan kunci.

Persoalan sampah masih menjadi tantangan di banyak daerah, termasuk di lingkungan pedesaan. Salah satu jenis sampah yang paling sering dijumpai adalah sampah plastik yang membutuhkan waktu lama untuk terurai secara alami. Karena itu, membangun kesadaran untuk mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah perlu dilakukan sejak usia dini agar kebiasaan baik dapat tumbuh bersama proses belajar anak.

Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswaKKN Nusantara Kelompok 10 menggelar kegiatanĀ Eco Craft di Posko KKN Desa Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Sasaran kegiatan ini adalah anak-anak yang tinggal di sekitar posko KKN dengan tujuan mengenalkan pentingnya pengelolaan sampah melalui aktivitas yang dekat dengan dunia mereka, yaitu bermain dan berkarya.

baca juga

Belajar Mengenal Sampah dengan Cara yang Berbeda

Kegiatan dibuka dengan edukasi sederhana mengenai jenis-jenis sampah dan pentingnya mengurangi limbah plastik dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak diajak berdiskusi mengapa sampah tidak boleh dibuang sembarangan dan bagaimana barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan kembali.

Alih-alih hanya memberikan penjelasan, tim KKN memilih mengajak peserta belajar melalui pengalaman langsung. Tutup botol plastik bekas yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai disusun menjadi bahan utama pembuatan kerajinan sederhana.

Pendekatan ini membuat anak-anak lebih mudah memahami bahwa proses daur ulang bukan sekadar teori, melainkan sesuatu yang dapat dilakukan sendiri dengan bahan yang ada di sekitar mereka.

Kreativitas Tumbuh dari Barang yang Dianggap Tidak Berguna

Setelah demonstrasi selesai, peserta dibagi ke dalam dua kelompok agar proses pendampingan berjalan lebih efektif. Setiap anak mendapat kesempatan mencoba sendiri proses pembuatan kerajinan dengan didampingi oleh mahasiswa KKN.

Suasana belajar berlangsung hangat. Anak-anak tampak antusias memilih warna tutup botol, menyusun pola, hingga menunggu hasil akhirnya terbentuk menjadi gantungan kunci. Sesekali terdengar tawa ketika mereka saling memperlihatkan hasil karya masing-masing.

Bagi sebagian besar peserta, ini merupakan pengalaman pertama mengolah sampah plastik menjadi sebuah kerajinan yang dapat digunakan kembali. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru bahwa barang yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata masih memiliki nilai apabila diolah dengan kreativitas.

baca juga

Menumbuhkan Kebiasaan Baik Sejak Dini

Kegiatan Eco Craft tidak hanya menghasilkan gantungan kunci sebagai produk akhir, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti memilah sampah dan memanfaatkan kembali barang yang masih layak digunakan.

Melalui pendekatan yang interaktif, pesan mengenai pentingnya pengelolaan sampah menjadi lebih mudah dipahami dibandingkan sekadar penyampaian materi di dalam kelas. Kreativitas menjadi jembatan untuk mengenalkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Praktik baik seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan tidak selalu membutuhkan fasilitas yang rumit. Dengan memanfaatkan bahan sederhana yang tersedia di sekitar, proses belajar tetap dapat berlangsung menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman yang membekas bagi anak-anak.

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap persoalan sampah plastik, langkah kecil yang dilakukan di Desa Cibungur menjadi pengingat bahwa perubahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Ketika anak-anak mulai memandang barang bekas sebagai sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan, mereka tidak hanya belajar membuat kerajinan, tetapi juga belajar menghargai lingkungan tempat mereka tumbuh.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.