Dari sudut sebuah desa di kaki Gunung Salak, sebuah riak kecil perubahan tengah dibangun oleh anak-anak muda. Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, menjadi saksi bagaimana semangat kolaborasi mampu mengalahkan keterbatasan fasilitas.
Melalui pertemuan hangat antara komunitas konten kreator Tugu Art asal Desa Cigombong dan Pemuda Selaawi 07 Desa Ciburayut, sebuah harapan baru bagi ekosistem kreatif tingkat lokal mencoba dirajut.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Nandar Septiandi, Kampung Selaawi Rt 07, bukan sekadar ajang kumpul biasa. Di balik kesederhanaannya, ruang tamu tersebut menjelma menjadi laboratorium gagasan.
Para pemuda Cigombong ini berkumpul dengan satu visi yang sama: menghidupkan potensi kreatif visual desa yang selama ini terendam sepi.
Menyatukan Potensi, Membuka Ruang Belajar
Potensi seni dan kreatif anak muda di pedesaan kerap kali bagaikan permata yang belum terasah. Bakat melimpah sering kali terbentur oleh minimnya wadah, keterbatasan alat, hingga ketiadaan ruang berkumpul yang layak.
Hal inilah yang menjadi perhatian Belgi Alhuda, Ketua Karang Taruna Desa Ciburayut yang turut hadir menjadi jembatan bagi gerakan ini.
"Talenta kreatif visual di Desa Ciburayut sebenarnya luar biasa. Kendala utama anak-anak muda kita sering kali ada pada ruang diskusi dan dukungan yang memadai. Kolaborasi ini adalah langkah awal untuk saling belajar, berbagi ilmu, dan membangun wadah itu bersama-sama," ungkap Belgi optimis.
Bagi Belgi, hadirnya Tugu Art sebagai wadah kreator visual membuka peluang besar untuk merangkul pemuda setempat. Sinergi ini diharapkan tidak hanya mengasah keterampilan teknis dalam pembuatan konten visual, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri bahwa pemuda desa di Kecamatan Cigombong mampu bersaing dan menghasilkan karya berdampak.
Lebih dari sekadar mengasah keterampilan, Belgi menekankan pentingnya memberikan dukungan moral dan ruang berekspresi yang sehat bagi generasi muda. Menurutnya, pemuda desa membutuhkan wadah yang terarah agar energi dan kreativitas mereka tercurah pada hal-hal bernilai positif.
"Kami mencoba mendorong anak-anak muda agar waktu dan potensi mereka tidak terbuang dalam perkumpulan yang kurang berfaedah atau kegiatan yang tak produktif. Ketika mereka diberi ruang untuk berkarya, didukung, dan dihargai, mereka akan sadar bahwa dari desa pun mereka bisa menciptakan perubahan nyata," tegas Belgi.
Melalui kolaborasi ini, Belgi berharap gerakan tersebut dapat menjadi pemicu lahirnya ekosistem kreatif yang berkelanjutan di Cigombong, sebuah ruang di mana para pemuda saling menginspirasi, tumbuh bersama, dan membuktikan bahwa karya bermutu bisa lahir dari mana saja.

Ruang Diskusi dan Silaturahmi Konten Kreator Tugu Art Cigombong dan Pemuda Selaawi 07 Ciburayut | sumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda
Dari Selaawi untuk Ekosistem Kreatif Desa
Tantangan nyata juga diakui oleh perwakilan Pemuda Selaawi 07, Nandar Septiandi. Ia menceritakan bagaimana keterbatasan perangkat dan belum adanya creative hub atau ruang komunitas sering kali menjadi hambatan dalam merealisasikan ide-ide kreatif.
Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, mereka memilih untuk melangkah dengan apa yang ada.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas hadirnya ruang diskusi ini. Harapan kami sederhana, yaitu konsistensi. Kebersamaan dan semangat saling dukung ini harus terus dijaga agar ke depannya kita bisa bersama-sama mencari solusi atas kendala yang ada," ujar Nandar.
Melalui dialog antar-komunitas ini, sinergi yang terbangun membuktikan satu hal penting: kreativitas tidak pernah membutuhkan ruang yang megah untuk mulai tumbuh.
Berawal dari diskusi sederhana di rumah warga, benih-benih pembelajaran kolektif mulai disemai.
Wujudkan Harapan Baru dari Desa
Gerakan lokal di Ciburayut, Cigombong ini menjadi contoh nyata bagaimana pemuda di daerah terus bergerak mandiri menciptakan perubahan. Ketika pembuat konten, pemuda karang taruna, dan warga lokal saling bahu-membahu, sebuah ekosistem kreatif yang tangguh sedang dibentuk dari bawah.
Langkah kecil dari Kampung Selaawi, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong menjadi pengingat bahwa masa depan industri kreatif Indonesia tidak hanya milik kota-kota besar. Dari Cigombong, narasi-narasi kebaikan dan karya-karya visual inspiratif siap dilahirkan untuk menginspirasi Nusantara.
Keterbatasan alat dan ruang bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Mari bergandengan tangan, buka ruang kolaborasi di lingkungan kita, serta buktikan bahwa karya hebat bisa lahir dari mana saja, bahkan dari sudut terdepan desa kita sendiri. Sudah Saatnya pemuda daerah ambil peran dan bawa perubahan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


