Beberapawaktu lalu, saat berkuliah di Surabaya, seorang dosen melontarkan pertanyaan sederhana, “Apa ya, kuliner khas Jombang, Mas?”
Spontan, saya menjawab, “Nasi kikil Mojosongo, Prof.”
“Mojosongo itu di mana?” tanyanya lagi.
“Kurang lebih empat kilometer ke selatan dari kota,” jawab saya singkat.
Jawaban itu meluncur begitu saja. Namun, setelahnya, saya justru diliputi keraguan.
------------------------------
Sebagai orang yang telah tinggal di Jombang hampir seperempat abad, dikurangi empat tahun di Surabaya, saya mestinya tidak kesulitan menjawab pertanyaan sederhana itu. Namun nyatanya, saya ragu.
Haruskah saya menyebut soto? Rasanya sulit. Sebab pamornya kalah jauh dari Soto Lamongan yang spanduknya berjejer di kota perantauan. Atau sate? Lagi-lagi, “Sate Madura” jauh lebih mendominasi, bahkan sampai mengakar dalam ingatan kolektif, termasuk lewat film-film era Suzzanna. Lalu, sebenarnya apa kuliner khas Njombangan?
Pertanyaan itu kembali mengemuka beberapa waktu lalu, ketika saya mewawancarai Kepala Bidang Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang, Bambang Suhartono.
Awalnya, perbincangan kami membahas Memori Kolektif Bangsa. Namun, tanpa diduga, arah diskusi justru bergeser ke soal kuliner.
“Nasi kikil Mojosongo,” kata Bambang, merujuk pada apa yang saya sebut di awal.
Jawaban itu terasa menguatkan, sekaligus menggantungkan kegelisahan. Sebab, di sisi lain, saya menyadari bahwa nasi kikil bukanlah hidangan yang eksklusif milik Jombang.
Di Surabaya misalnya, menu serupa justru lebih dikenal luas. Bahkan, bisa dibilang lebih masyhur dibandingkan nasi kikil Mojosongo. Lalu, pertanyaan kembali saya ajukan, apa kuliner khas Njombangan?
------------------------------
Dipertigaan bangjo Cukir, sebelah selatan jalan, berdiri salah satu kuliner legendaris: Sate H. Faqih. Nama kuliner yang sudah lama menjadi ikon Cukir di mata orang Jombang. Tak jauh dari situ, ada Ketan Cukir, yang selalu dirindukan oleh santri-santri Tebuireng kala lama tak pulang ke sana.
Bergeser sedikit ke utara bangjo jalan, berdiri Warung Komunitas Pecinta Kopi (KPK). Letaknya nyaris menempel dengan PG Tjoekir. Menurut cerita tutur, warung ini telah ada sejak sekitar tahun 1970, jauh sebelum saya lahir.
Jika bergerak sekitar dua kilometer dari Cukir, kita menemukan Soto Ayam Nglaban. Meski letaknya agak masuk ke jalan perkampungan, tetapi pengunjungnya selalu mengular. Tak ayal, cita rasa soto itu tentu menggugah selera.
Itu baru sekelumit dari kawasan Cukir dan sekitarnya. Jika diperluas ke seluruh Jombang, barangkali akan ditemukan lebih banyak lagi kuliner legendaris yang menjadi jujugan warga, baik dalam maupun luar kota. Lalu, saya kembali diliputi keraguan, apa sebenarnya kuliner khas Njombangan?
Di sekitar Cukir yang telah saya sebutkan, memang ada beberapa kuliner legendaris. Namun, jika ditarik benang merahnya, yang muncul tetaplah sate dan soto.
Dua jenis kuliner yang justru tidak benar-benar merepresentasikan kekhasan Jombang. Keduanya terlalu umum, terlalu “milik bersama”, dan pada akhirnya kalah pamor dari ikon kuliner daerah lain.
Jika Mojokerto dikenal dengan kota onde-onde, Kediri dengan tahu tek-nya, lalu Jombang, yang kita cintai ini, sebenarnya ingin dikenali sebagai kota kuliner apa? Apakah saya harus menjawab Nasi Kikil Mojosongo? Ah, juga tetap kalah pamor dari Kikil Suroboyoan yang melegenda.
-------------------------
Beralih ke Mojowarno. Di sana, ada satu kuliner yang namanya sudah kondang menyebar ke berbagai daerah. Bakso Nuklir. Mendengar namanya saja, saya sempat bergidik. Kata “nuklir” membawa ingatan pada tragedi kemanusiaan kala Hiroshima dan Nagasaki dihujani little boy oleh Sekutu pada Agustus 1945.
Namun, justru di situlah letak keunikannya. Nama yang terdengar ekstrem itu malah memancing rasa penasaran, membuat orang ingin datang dan mencicipi. Fenomena ini tampaknya bukan hal baru. Kita juga mengenal nama-nama seperti “mie setan” atau “seblak mercon” yang sama-sama bermain pada kesan berlebihan dan sensasional.
Apakah semua itu sekadar strategi menarik perhatian, atau memang bagian dari selera humor dalam dunia kuliner kita? Entahlah. Terlalu rumit untuk saya cerna sepenuhnya.
Tak jauh dari ibukota Kecamatan Mojowarno, ada lagi kuliner legendaris, Sate Tugu Penceng. Namanya sudah terlanjur kondang. Pelangganannya datang dari berbagai daerah. Itu terlihat dari deretan mobil berpelat luar kota yang mengular hingga kawasan Balai Desa Menganto. Sebuah pemandangan yang harus diakui, cukup mengesankan! Namun, justru di titik itu kegelisahan saya kembali muncul.
Jika Sate Tugu Penceng dianggap sebagai kuliner khas Njombangan, lalu apa bedanya dengan Sate H. Faqih? Jika Bakso Nuklir juga hendak diangkat sebagai ikon, apa yang benar-benar membedakannya dari bakso-bakso lain di pinggir jalan?
Pada akhirnya, pertanyaan itu membawa saya pada persoalan yang lebih mendasar. Di mana letak kekhasannya? Apakah pada rasa, pada label, atau sekadar popularitas?
Jika ditelisik dari sisi sejarah pun, jawabannya belum tentu memuaskan. Banyak kuliner serupa yang lahir dengan nama berbeda di tempat lain. Tidak semuanya lahir dari akar budaya yang benar-benar khas.
Lalu, apa yang membuat satu di antaranya layak disebut sebagai identitas? Apakah karena racikannya berbeda? Karena kisah di baliknya lebih kuat? Atau sekadar karena lebih dulu dikenal luas? Sebagai orang yang bergelut dengan narasi sejarah, saya justru semakin pusing memikirkannya.
Mungkin benar apa yang disampaikan Bambang Suhartono. Nasi Kikil Mojosongo memang bisa disebut sebagai kuliner yang tepat. Namun, di saat yang sama, ia menyisakan persoalan lain.
“Mojosongo itu di mana?” Pertanyaan sederhana yang justru membuka keraguan baru. Bagi orang luar daerah, nama itu bisa saja langsung diasosiasikan dengan Mojosongo di kota lain yang terkenal, Semarang, misalnya.
Bukan Mojosongo yang berada di Balongbesuk, Diwek, Jombang. Bukan tidak mungkin, niat mencari kuliner khas justru membawa mereka ke tempat yang keliru.
Di titik itu, saya kembali sampai pada kesimpulan mengenai persoalan kuliner khas Njombangan bukan semata pada ada atau tidaknya makanan. Namun, pada bagaimana ia dikenali oleh masyarakat Jombang itu sendiri.
Barangkali, yang perlu diperhitungkan ulang bukan hanya kulinernya, tetapi juga cara kita menuturkannya, menceritakan ulang, dan memperkenalkan pada masyarakat luas.
Yang lebih penting, seperti kata filsuf Yunani kuno, Epicurus, bahwa kebahagiaan dan kenikmatan hidup itu terletak pada makanan yang kita konsumsi bersama orang-orang yang kita kasihi dan sayangi.
Barangkali hari ini kita masih menyempatkan diri duduk santai, menikmati Sate H. Faqih atau Sate Tugu Penceng bersama orang tersayang.
Namun, siapa yang tahu sepuluh tahun ke depan? Belum tentu sepuluh tahun lagi, orang yang kita sayangi dapat mencicipi kuliner legendaris itu bersama kita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

