Keberagaman kuliner Bali tidak terlepas dari pengaruh budaya, kekayaan hasil bumi, serta kehidupan masyarakatnya yang beragam. Bali menjadi salah satu destinasi wisata favorit karena keindahan alamnya dan memiliki tradisi budaya yang kuat, termasuk dalam hal kuliner.
Tingginya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali baik dari dalam maupun luar negeri, membuat pilihan kuliner di pulau ini semakin beragam.
Bagi wisatawan muslim, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ketersediaan makanan halal ketika berkunjung ke Bali.
Meskipun beberapa hidangan khas Bali menggunakan bahan yang tidak halal seperti daging babi, masih banyak pilihan makanan tradisional Bali yang dapat dinikmati dengan bahan dan pengolahan yang sesuai.
Makanan Khas Bali Halal yang Wajib Dicoba
Berikut sejumlah makanan khas Bali halal yang dapat menjadi pilihan saat berwisata di pulau dewata. Wisatawan tetap perlu waspada dan teliti dalam memilih tempat makan dengan memastikan status kehalalan makanan, baik melalui sertifikasi halal maupun keterangan dari pihak restoran ataupun warung makan.
Ayam Betutu: Sajian Ayam Kayak Rempah Khas Bali

Ayam Betutu | Sumber: Flickr - jultchik7
Menjadi salah satu kuliner khas Bali yang banyak dicari wisatawan. Hidangan ini menggunakan ayam, terutama ayam kampung sebagai bahan utama yang dimasak bersama rempah khas. Proses pengolahannya yang membuat bumbu meresap ke dalam daging.
Cita rasa ayam betutu dikenal kuat dengan perpaduan rasa gurih, pedas, dan aroma rempah yang khas. Kuliner ini identik dengan daerah Gilimanuk dan Gianyar, meskipun kini ayam betutu mudah ditemukan di berbagai wilayah Bali.
Mengutip laman Urbanasia, istilah betutu berasal dari gabungan kata be yang berarti daging atau ikan serta tunu yang berarti dibakar atau dipanggang. Dengan begitu, betutu dimaknai sebagai hidangan berbahan daging yang dibakar.
Selain dikenal sebagai makanan tradisional, ayam betutu juga memiliki nilai budaya yang mendalam, berdasarkan kajian Betutu Bali: Menuju Kuliner Diplomasi Budaya Indonesia karya I Made Purna dan Kadek Dwikayana, ayam betutu pada awalnya digunakan sebagai sajian persembahan dalam Upacara Dewa Yadnya kepada Ida Hyang Widhi Washa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Seiring perkembangan waktu, ayam Betutu berkembang menjadi kuliner khas Bali yang tidak hanya memiliki cita rasa unik, tetapi juga menyimpan nilai budaya dan spiritual.
Sate Lilit: Olahan Daging Ayam atau Ikan yang Dililit dengan Batang Serai

Sate lilit | Sumber: Wikimedia Commons - lifestyle.okezone.com
Sate lilit merupakan salah satu makanan khas Bali yang memiliki bentuk berbeda dari sate pada umumnya. Pada sate lilit, adonan daging dililitkan pada batang serai atau bambu sebelum dibakar. Setelah memiliki berwarna kuning yang berasal dari kunyit.
Sate lilit pada mulanya berasal dari Klungkung, Bali. Dahulu sajian ini hanya dihidangkan sebagai persembahan dan penghormatan kepada para dewa. Namun saat ini satelit mulai banyak ditemukan di warung makan hingga restoran.
Bahan utama sate lilit biasanya berupa daging ayam, ikan, atau jenis daging lainnya yang dicampur dengan bumbu khas Bali atau bumbu genep yang terasa pedas. Campuran rempah tersebut pasa saat proses pembakaran dengan arang menghasilkan aroma serai yang harum.
Bagi masyarakat Bali, makanan lilit ini merupakan simbol kejantanan seorang pria karena dahulu kuliner ini hanya boleh dibuat oleh kaum pria mulai dari pembuatan adonan hingga proses pembakaran sate dengan arang.
Wisatawan Muslim dapat memilih sate lilit berbahan ayam atau ikan. Namun, tetap perlu memastikan bahan yang digunakan serta proses pengolahannya tidak tercampur dengan bahan nonhalal.
Nasi Jinggo: Nasi yang Dibungkus Daun Pisang

Nasi Jinggo | Sumber: Wikimedia Commons - Okkisafire
Nasi kucing khas Bali yang dikenal sebagai nasi jinggo ini mudah ditemui hampir di seluruh wilayah Bali. Biasanya hidangan ini memiliki bentuk sederhana, biasanya disajikan dalam porsi kecil dan dibungkus menggunakan daun pisang, seporsi nasi jinggo dijual seharga Rp5000 per bungkus.
Bahan utama nasi jinggo berupa nasi putih dengan berbagai lauk, seperti ayam, ikan, sapi, telur, mi goreng, kering tempe, sayuran, serundeng, dan sambal. Perpaduan tersebut menciptakan rasa gurih, pedas, dan nikmat meskipun disajikan dalam ukuran kecil.
Sejarah nasi jinggo berasal dari Pelabuhan Benoa, Denpasar pada tahun 1970-an. Ni Ketut Ngasti atau Men Djenggo merintis usaha nasi bungkus murah yang menyasar pekerja pelabuhan, sopir, dan pemancing.
Dengan harga terjangkau, nasi buatannya populer hingga mampu diproduksi ratusan bungkus per hari, bahkan mencapai 1.000 bungkus saat ada pesanan kapal pesiar.
Dikutip dari laman Kompas.com, istilah jinggo datang dari hobi suaminya, yaitu Buddy Alexie Bloem yang gemar film koboi Amerika berjudul Django (1966), sampai memanggil putranya dengan sebutan "djenggo".
Sesuai dengan tradisi Bali, seorang ibu dipanggil menggunakan nama anak sulungnya, Ni Ketut Ngasti dipanggil "Men Djenggo" yang berarti "ibunya Djenggo". Kemudian nasi bungkus buatannya dikenal luas sebagai nasi jinggo.
Nasi jinggo sebagai makanan praktis masyarakat Bali yang sering dijadikan menu sarapan atau santapan sehari-hari. Harganya yang terjangkau membuat kuliner ini menjadi pilihan menarik bagi wisatawan yang ingin mencicipi makanan lokal.
Meski begitu, wisatawan perlu memperhatikan pilihan yang digunakan. Beberapa penjual menyediakan pilihan lauk halal dan nonhalal secara bersamaan, sehingga penting untuk menanyakan bahan yang digunakan sebelum membeli.
Tum Ayam: Olahan Ayam Berbalut Daun Pisang

Tum Ayam | Sumber: What To Cook Today
Tum ayam merupakan hidangan khas Bali yang sekilas mirip dengan pepes. Makanan ini dibuat dari daging ayam cincang yang dicampur dengan bumbu rempah khas Bali, kemudian dibungkus menggunakan daun pisang berbentuk tum dan dikukus hingga matang.
Cita rasa tum ayam didominasi oleh rasa gurih, harum rempah, dan tekstur daging yang lembut. Hidangan ini menjadi salah satu contoh kekayaan kuliner Bali yang memanfaatkan teknik memasak tradisional.
Tum ayam sering hadir dalam berbagai sajian masyarakat Bali, termasuk dalam acara keluarga maupun kegiatan adat. Wisatawan muslim dapat memilih tum berbahan ayam, tetapi tetap perlu memastikan tidak menggunakan campuran bahan nonhalal.
Tipat Cantok: Ketupat Sayur dengan Sambal Kacang

Tipat Cantok | Sumber: Wikimedia Commons - Okkiesafire
Tipat cantok merupakan salah satu makanan tradisional Bali yang berbahan dasar ketupat dan sambal kacang bercita rasa gurih dan sedikit pedas, dilengkapi dengan aneka sayuran rebus seperti kacang panjang, kangkung, dan tauge.
Tipat tersebut kemudian diulek dan diaduk dalam satu nampa sehingga menghasilkan cita rasa segar, gurih, dan ringan.
Kuliner ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Bali karena menggunakan bahan sederhana yang mudah ditemukan. Tipat ini menjadi makanan yang digunakan untuk persembahan ketika upacara keagamaan Hindu.
Wisatawan muslim dapat mencoba karena pada umumnya menggunakan bahan utama yang halal, seperti ketupat dan sayuran, makanan ini dikenal mirip dengan gado-gado atau pecel.
Tips Memilih Makanan Halal saat Berwisata di Bali
Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, menjadikan sebagian besar dari makanan tradisional Bali tidak halal karena terbuat dari bahan baku seperti daging babi, darah, dan olahan sejenisnya. Namun, wisatawan muslim tetap memiliki banyak pilihan kuliner yang aman untuk dikonsumsi.
Saat ini wisatawan muslim tidak perlu khawatir untuk mencari kuliner halal di Bali. Banyak restoran dan warung makan di Bali telah bersertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketika berkunjung ke warung makan yang dikelola oleh masyarakat Hindu jangan sungkan untuk menanyakan status halal makanan kepada pemilik atau pelayan restoran. Pastikan memilih penjual yang menjamin kehalalan bahan dan proses pengolahannya.
Informasi mengenai restoran bersetifikat halal dapat ditemukan di situs resmi MUI atau sumber terpercaya lainnya. Dengan lebih teliti dalam memilih, wisatawan muslim tetap dapat menikmati kuliner Bali tanpa perlu khawatir.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


