rumah ikan purba 400 juta tahun di indonesia diusulkan jadi situs warisan dunia unesco - News | Good News From Indonesia 2026

Rumah Ikan Purba 400 Juta Tahun di Indonesia, Diusulkan Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO

Rumah Ikan Purba 400 Juta Tahun di Indonesia, Diusulkan Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO
images info

Habitat Coelacanth di Laut Sulawesi


Indonesia ingin mengajukan salah satu habitat laut paling langka di dunia sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Habitat ikan purba Raja Laut atau Coelacanth di Pulau Talise, Sulawesi Utara, diusulkan setelah serangkaian penelitian menunjukkan kawasan tersebut menjadi rumah penting bagi spesies yang telah bertahan sekitar 400 juta tahun.

Rencana itu disampaikan peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Augy Syahailatua, bersama Prof. Kawilarang Warouw Alex Masengi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) dalam Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Jakarta.

Usulan tersebut bertujuan untuk melindungi spesies langka sekaligus menjaga ekosistem laut dalam yang menjadi habitatnya. Pulau Talise sendiri berada di kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), wilayah yang dikenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia.

Sebelum diajukan ke UNESCO, kawasan perairan Pulau Talise lebih dahulu harus ditetapkan sebagai kawasan konservasi nasional. Pada Juli 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah menyerahkan dokumen persetujuan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menetapkan wilayah tersebut sebagai taman suaka habitat Coelacanth.

Dalam pantauan GNFI, saat ini proses pembentukan kawasan konservasi masih berlangsung melalui konsultasi publik, pembahasan bersama pemerintah daerah, serta koordinasi dengan KKP.

Temuan 18 Individu Menguatkan Bukti Ilmiah

Individu Coelacanth di Indonesia
info gambar

Individu Coelacanth di Indonesia


Dorongan untuk melindungi Pulau Talise semakin kuat setelah penelitian terbaru menemukan sedikitnya 18 individu Coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan tersebut. Temuan ini menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia merupakan habitat utama bagi salah satu ikan paling langka di dunia.

Menurut Prof. Alex Masengi, hasil penelitian tersebut menjadi pijakan ilmiah bagi penguatan kebijakan konservasi. “Selama lebih dari dua dekade, berbagai riset mengenai Coelacanth tidak hanya berhasil mengungkap populasi dan habitatnya, tetapi juga memberikan informasi penting mengenai perilaku dan reproduksi spesies ini,” ujarnya.

Data tersebut kini menjadi dasar penyusunan kebijakan perlindungan jangka panjang. Para peneliti berharap kawasan konservasi yang sedang dibentuk nantinya dapat berkembang menjadi situs konservasi berkelas dunia melalui pengakuan UNESCO.

Di sisi lain, Prof. Augy menilai perlindungan habitat Coelacanth tidak hanya penting bagi kelestarian spesies, tetapi juga membuka peluang pengembangan riset ilmiah, pendidikan, dan ekowisata berbasis konservasi. Keberadaan ikan purba ini juga dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat penelitian biodiversitas laut dunia.

Bertahan Sejak 400 Juta Tahun Lalu

Coelacanth sering dijuluki sebagai "fosil hidup" karena bentuk tubuhnya hampir tidak berubah dibandingkan nenek moyangnya yang hidup sekitar 400 juta tahun lalu. Kelompok ikan ini telah ada jauh sebelum dinosaurus muncul di Bumi dan berhasil bertahan melewati berbagai perubahan lingkungan selama ratusan juta tahun.

Spesies ini hidup di lereng berbatu pada perairan dalam, termasuk di kawasan gua-gua karbonat yang minim cahaya. Karena habitatnya sulit dijangkau manusia, Coelacanth sangat jarang terlihat sehingga setiap penemuan baru selalu menjadi perhatian komunitas ilmiah internasional.

Indonesia memiliki spesies endemik bernama Latimeria menadoensis, yang pertama kali ditemukan di perairan Sulawesi Utara pada 1998. Penemuan tersebut mengubah pemahaman ilmuwan mengenai persebaran Coelacanth, karena sebelumnya ikan ini hanya diketahui hidup di pesisir Afrika bagian timur.

Raja Laut memiliki ciri yang mudah dikenali. Sisiknya berukuran besar dengan bentuk yang berbeda di berbagai bagian tubuh, sementara siripnya menyerupai tungkai yang membuatnya menjadi salah satu objek penting dalam penelitian evolusi vertebrata.

Sulawesi Utara Jadi Habitat Penting

Pulau Talise di Sulawesi Utara
info gambar

Pulau Talise di Sulawesi Utara


Selain Pulau Talise, kemunculan Coelacanth juga beberapa kali tercatat di wilayah Sulawesi Utara, termasuk Teluk Manado dan Pulau Siladen di kawasan Taman Nasional Bunaken. Pada akhir Juni 2026, seekor Coelacanth kembali ditemukan di dekat perairan Pulau Siladen.

Ikatan Sarjana Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi (ISKU) menyebut penemuan tersebut menambah data penting bagi penelitian sekaligus memperkuat bukti bahwa perairan Sulawesi Utara masih menjadi habitat alami spesies langka ini.

Setelah ditemukan, ikan tersebut langsung ditangani oleh Tim Coelacanth Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama peneliti Universitas Sam Ratulangi untuk menjalani proses identifikasi, pendokumentasian, dan penanganan sesuai prosedur ilmiah.

Sebaran Coelacanth di Indonesia tidak hanya terbatas di Sulawesi Utara. Spesies ini juga pernah tercatat di perairan Gorontalo Utara, Buol di Sulawesi Tengah, Biak, Raja Ampat, hingga Maluku Utara. Meski demikian, populasinya sangat terbatas sehingga seluruh habitat yang diketahui memiliki nilai konservasi tinggi.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan Raja Laut sebagai ikan yang dilindungi melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 66 Tahun 2025. Jika habitat Pulau Talise nantinya berhasil memperoleh pengakuan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, kawasan tersebut dapat memperkuat peran Indonesia dalam menjaga salah satu spesies paling tua yang masih bertahan di Bumi.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.