Dalam helatan pesta, makanan menjadi salah satu unsur yang tidak boleh terlewatkan begitu saja. Namun apa jadinya jika sebuah pesta memang digelar khusus untuk menghidangkan makanan tradisional di dalamnya?
Momen ini pernah terjadi di Singapura pada 1984 silam. Pada waktu itu, ada sebuah pesta yang digelar selama beberapa hari di negara tetangga tersebut.
Pesta ini secara khusus menghidangkan berbagai macam jenis kuliner tradisional Indonesia, khususnya yang berasal dari Madura dan Surabaya. Hidangan ini disajikan selama helatan pesta tersebut.
Tidak hanya soal makanan, kesan budaya juga ditonjolkan dengan kental dalam helatan pesta itu. Hal ini makin menambah nuansa Indonesia dalam pesta makanan tersebut, walau digelar di Singapura waktu itu.
Bagaimana momen saat pesta makanan yang secara khusus menghidangkan makanan khas dari Jawa Timur di Singapura pada waktu itu? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Pesta Makanan Madura dan Surabaya
Dinukil dari artikel "Kari Brawijaya Disaji dlm Pesta Makanan Madura" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 5 Desember 1987, pesta makanan ini digelar di Hotel Hilton, Singapura pada waktu itu. Acara dengan tajuk "Pesta Makanan Surabaya/Madura" ini digelar dari 5-10 Desember 1987.
Meskipun demikian, helatan pesta ini tidak digelar sepanjang waktu. Para pengunjung bisa mendatangi dua waktu yang disediakan oleh panitia acara waktu itu.
Para tamu yang datang bisa menikmati jamuan di dua waktu berbeda, yakni saat siang dan malam hari. Jamuan siang hari digelar pada pukul 12.00-14.30 waktu setempat.
Sementara itu, jamuan malam hari digelar pada pukul 19.00-22.30 waktu setempat. Acara ini terbuka untuk umum, walau ada biaya masuk yang dikenakan untuk setiap tamu yang datang.
Besaran tiket masuk dibedakan dalam dua kategori berbeda. Pertama, ada kategori dewasa yang dikenakan biaya sebesar 19.50 SGD.
Sementara itu, untuk kategori anak-anak ada biaya masuk yang dikenakan sebesar 15.50 SGD.
Hadirkan Berbagai Macam Kuliner
Kari brawijaya menjadi menu utama yang dihidangkan dalam acara tersebut. Menu makan yang diyakini sudah ada sejak masa Raja Brawijaya berkuasa dulunya ini menjadi salah satu kuliner yang familiar, khususnya di daerah Jawa Timur pada waktu itu.
Selain itu, ada beberapa menu hidangan khas Jawa Timur lainnya yang juga disajikan dalam helatan tersebut. Para tamu bisa menikmati berbagai macam jenis kuliner tradisional, seperti rujak pamekasan, bahwa surabaya, soto ayam madura, sate udang, tahu campur, dan lainnya.
Tidak hanya makanan berat, ada juga beberapa kudapan yang bisa dinikmati sebagai "pencuci mulut" bagi para tamu yang datang. Beberapa contoh kudapan tradisional khas Indonesia yang juga disajikan dalam acara tersebut adalah cendol, lapis surabaya, wingko babat, dan lainnya.
Cita rasa dari kuliner yang disajikan juga dipastikan keotentikannya. Suryatini N. Ganie selaku Presiden Lembaga Gastronomi Indonesia yang ikut terlibat dalam helatan tersebut menjelaskan jika beberapa juru masak dari Indonesia didatangkan langsung untuk meracik masakan yang akan disajikan dalam acara tersebut.
Tampilkan Kesan Budaya yang Kental
Selain menghadirkan kuliner khas Indonesia, kesan budaya juga ditonjolkan dalam acara tersebut. Salah satunya diperlihatkan pada pakaian yang digunakan oleh semua pelayan yang ada di pesta makanan itu.
Semua pelayan yang terlibat menggunakan pakaian khas Madura. Suryatini yang juga hadir dalam helatan tersebut juga memakai pakaian daerah yang serupa.
Suryatini menyebutkan jika keputusan ini bertujuan untuk menambahkan kesan budaya Indonesia yang kental dalam helatan itu. Dengan demikian, para tamu bisa menikmati suasana daerah serta sajian kuliner yang dihidangkan untuk mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


