Stasiun Solo Balapan adalah stasiun kereta api kelas besar tipe A di Kota Surakarta. Stasiun bersejarah ini terletak di perbatasan antara Kelurahan Kestalan dan Gilingan, Kecamatan Banjarsari.
Terletak pada ketinggian +93 meter di atas permukaan laut (mdpl), Stasiun Solo Balapan masuk dalam Daerah Operasinal VI Yogyakarta. Stasiun ini merupakan stasiun utama di Kota Surakarta.
Bekas Arena Balapan yang Jadi Stasiun
Mungkin Kawan GNFI bertanya-tanya, stasiun ini dinamakan "Solo Balapan". Usut punya usut, ternyata kawasan stasiun itu dulunya memang merupakan arena pacuan kuda milik Keraton Mangkunegaran.
Dahulu, kawasan ini merupakan Alun-Alun Utara milik Pura Mangkunegaran yang sering digunakan untuk perlombaan kuda. Aktivitas adu cepat atau "balapan" inilah yang kemudian melekat kuat di ingatan masyarakat hingga sekarang.
Selain sebagai arena lomba, lapangan ini juga menjadi tempat latihan berkuda bagi Legiun Mangkunegaran. Satuan militer elite ini dibentuk pada tahun 1808 dengan mengadopsi taktik dan struktur pasukan modern dari Eropa.
Disadur dari akun X resmi KAI Commuter Line, Netherlands Indies Sporweg Maatschappij (NISM) adalah perusahaan di balik pembangunan stasiun ini. Bangunannya dirancang oleh Herman Thomas Karsten, arsitek beraliran Indies yang memadukan gaya khas Eropa.
Meskipun didesain oleh arsitek asal Belanda, nuansa Jawa tetap dipertahankan dengan sangat kuat. Karsten mengutamakan fungsi stasiun sebagai gerbang utama bagi para pelancong yang keluar masuk wilayah Surakarta.
Modernisasi teknologi juga dimulai sejak dini di stasiun ini, salah satunya dengan penggunaan sistem persinyalan elektrik pada 1972. Solo Balapan menjadi stasiun kedua di Indonesia yang menerapkan sistem canggih produksi Siemens tersebut.
Sejarah Pembangunan dan Modernisasi Awal
Pembangunan Stasiun Solo Balapan dimulai pada tahun 1864 oleh NISM. Raja Mangkunegara IV secara langsung melakukan peletakan batu pertama dengan disaksikan oleh Gubernur Jenderal Baron van de Beele.
Setelah enam tahun proses konstruksi, stasiun ini resmi diresmikan pada 10 Februari 1870. Diresmikannya stasiun ini menjadi penghubung Solo-Semarang melalui jalur sepanjang 74 kilometer.
Sebagai konsekuensi dari pembangunan stasiun, arena pacuan kuda Mangkunegaran akhirnya dipindahkan ke kawasan Manahan. Keluarga Kasunanan Surakarta memberikan lahan pengganti tersebut agar tradisi olahraga berkuda tetap bisa berlanjut.
Pada awal operasionalnya, stasiun ini lebih banyak berfungsi untuk mengangkut hasil bumi seperti gula, tembakau, dan kopi. Komoditas berharga tersebut dikirim dari pedalaman menuju pelabuhan di Semarang untuk kebutuhan ekspor ke luar negeri.
Terkoneksi dengan Transportasi Lain
Stasiun Solo Balapan terus berbenah dengan menghadirkan fasilitas Skybridge pada tahun 2017. Jembatan layang sepanjang 643 meter ini menghubungkan stasiun langsung dengan Terminal Bus Tirtonadi.
Kehadiran skybridge ini memudahkan integrasi antar moda transportasi bagi masyarakat. Penumpang yang dulunya harus menempuh jarak sejauh 1,5 km bisa sampai dalam 10 menit hanya dengan berjalan kaki.
Tak hanya itu, stasiun ini juga telah melayani KA Bandara Adi Soemarmo sejak akhir tahun 2019. Fasilitas ruang tunggu bandara yang modern dan berdesain mewah tersedia di lantai dua sisi utara stasiun. Layanan juga makin lengkap dengan beroperasinya KRL Commuter rute Jogja-Solo pada 2021.
Lebih lanjut, saat ini, stasiun yang memiliki 11 jalur kereta ini merupakan Cagar Budaya. Penetapan ini sesuai dengan Keputusan Wali Kota Surakarta Nomor 646/1-R/1/2013 dan terdaftar di Registrasi Nasional Cagar Budaya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


