Bagi 120 pelajar SMA se-Kota Pontianak, satu hari ke depan akan diisi dengan sesuatu yang jauh berbeda dari rutinitas sekolah pada umumnya: berdiskusi dalam kelompok kecil, mewawancarai orang-orang yang bergelut langsung dengan persoalan lingkungan, hingga merancang solusi mereka sendiri.
Semua itu terjadi dalam Kawula17 Goes to School Batch 4, program workshop interaktif bertema "Youth Action for Environmental Sustainability" yang digagas oleh Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17), bersama AIESEC in Indonesia dan AIESEC in Untan sebagai mitra pelaksana lokal di Pontianak.
Boleh dibilang, ini bukan seminar lingkungan biasa. Tidak ada peserta yang hanya duduk diam mendengarkan ceramah dari awal sampai akhir. Yang ada justru ruang belajar yang menempatkan pelajar sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.
Konsep experiential learning menjadi jantung dari seluruh rangkaian acara ini. Alih-alih memberi materi satu arah, program ini dirancang untuk membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis dan pendekatan design thinking dalam menjawab tantangan lingkungan yang membentang dari Kota Pontianak hingga Kabupaten Kubu Raya.
Dua Belas Kelompok, Dua Belas Persoalan
Setelah sesi pembuka, peserta dibagi ke dalam 12 kelompok kecil, masing-masing didampingi satu mentor sebagai pemandu diskusi. Menariknya, tiap kelompok mendapat topik permasalahan lingkungan yang berbeda-beda untuk dianalisis secara mendalam: mulai dari mengidentifikasi akar masalah, mengumpulkan berbagai sudut pandang, sampai memahami penyebab dan dampaknya. Di sinilah peran mentor menjadi krusial bukan untuk mendikte jawaban, melainkan membantu peserta mempertajam analisis dan mengarahkan penyusunan solusi yang benar-benar realistis, bukan sekadar gagasan idealis di atas kertas.

Sumber: Data Internal AIESEC in Bandung
Satu hal yang menarik dari program ini adalah bagaimana ia menghadirkan NGo/Community in Indonesia dibidang lingkungan sebagai bagian dari proses belajar. Untuk memperkaya perspektif peserta, kegiatan dilanjutkan dengan sesi inspiratif bersama komunitas lingkungan yang berbagi pengalaman tentang tantangan yang mereka hadapi, sekaligus inisiatif yang telah dijalankan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberlanjutan.
Bahkan saat sesi istirahat pun peserta tetap "belajar", seluruh peserta diwajibkan mengunjungi booth komunitas interaktif dan melakukan wawancara langsung untuk menggali informasi serta masukan bagi solusi kelompok mereka. Rasanya, di sinilah pembelajaran yang sesungguhnya terjadi: bukan dari slide presentasi, melainkan dari percakapan langsung dengan orang-orang yang setiap hari bergelut dengan persoalan yang sedang dibahas.
Dari Diskusi ke Solusi
Seluruh hasil diskusi, wawancara, dan pembelajaran dari booth komunitas kemudian menjadi bekal bagi setiap kelompok untuk memasuki tahap design thinking dan menyusun solusi inovatif yang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta peluang implementasinya.
Sebagai puncak acara, setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis dan solusinya di hadapan peserta lain, dilanjutkan sesi tanya jawab yang memungkinkan mereka saling bertukar gagasan dan memperluas sudut pandang terhadap isu lingkungan yang dibahas.
Lebih dari Sekadar Satu Hari
Kawula17 Goes to School Batch 4 barangkali hanya berlangsung satu hari, tetapi pesan yang dibawanya terasa jauh lebih panjang umurnya. Program ini membuktikan bahwa generasi muda memiliki kapasitas menjadi agen perubahan ketika diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, dan berkolaborasi bukan sekadar diceramahi soal pentingnya menjaga lingkungan.
Selain memperdalam pemahaman peserta terhadap isu lingkungan, program ini turut membekali mereka dengan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian masalah, empat kompetensi yang relevansinya jauh melampaui urusan lingkungan semata.
Melalui kolaborasi antara Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) sebagai penyelenggara utama, bersama AIESEC in Indonesia dan AIESEC in Untan sebagai mitra pelaksana lokal, program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun generasi muda Kalimantan Barat yang lebih peduli terhadap lingkungan dan berani menghadirkan solusi bagi persoalan di daerahnya sendiri.
Jika model belajar semacam ini terus direplikasi ke lebih banyak sekolah, bukan tidak mungkin isu lingkungan yang selama ini terasa jauh dan abstrak bagi pelajar, perlahan akan terasa lebih dekat dan yang terpenting, bisa mereka jawab sendiri, dimulai dari kota tempat mereka tinggal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


