Seragam sekolah mungkin terasa biasa bagi sebagian anak. Dipakai setiap pagi, lalu disimpan kembali setelah kegiatan belajar selesai. Namun, bagi anak yang sempat berhenti sekolah, mengenakan seragam kembali bisa menjadi momen yang berbeda. Kembali ke sekolah setelah sempat berhenti tentu membutuhkan keberanian. Jarak dari dan ke ruang kelas bisa membuat seseorang merasa asing.
Putus sekolah seringkali dipahami sebagai sebuah akhir. Padahal, keputusan untuk berhenti belajar tidak selalu lahir dari keinginan anak. Kondisi ekonomi keluarga, persoalan rumah tangga, lingkungan, bahkan kebutuhan untuk membantu orang tua dapat memengaruhi perjalanan pendidikan.
Label “anak putus sekolah” seharusnya tidak menjadi identitas yang melekat. Seorang anak yang berhenti belajar tetap memiliki kesempatan untuk memulai lagi. Mereka masih punya waktu untuk mengejar pendidikan dan membangun kembali cita-cita yang sempat tertunda.
Upaya mengajak anak kembali sekolah kemudian diwujudkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui program “Sekolah Kembali”. Program yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta ini menjadi langkah untuk menjangkau anak-anak yang sempat berhenti sekolah dan membuka kembali kesempatan mereka untuk mendapatkan pendidikan.
Program mulai berjalan bersamaan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada 28 Juli 2026. Pada tahap awal, 180 anak di Jakarta Barat berhasil dijangkau. Mereka terdiri dari 26 anak di Kecamatan Tamansari, 59 anak di Kecamatan Tambora, 57 anak di Kecamatan Cengkareng, dan 38 anak di Kecamatan Kalideres.
Pendataan dilakukan dari rumah ke rumah dengan melibatkan pemerintah kota, kecamatan, kelurahan, RT/RW, kader PKK, hingga Dasawisma. Pendekatan ini membuat pemerintah dapat melihat lebih dekat kondisi keluarga dan alasan yang membuat seorang anak berhenti sekolah. Dengan begitu, pendampingan dan pilihan pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.
Pemerintah menyiapkan pendidikan kesetaraan melalui Paket A, Paket B, dan Paket C bagi anak yang membutuhkan jalur berbeda. Sekolah gratis serta berbagai dukungan pendidikan juga disediakan untuk membantu keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Dengan pilihan tersebut, anak yang sempat keluar dari sistem pendidikan tetap memiliki berbagai pilihan kesempatan untuk tetap melanjutkan belajar dan menyelesaikan pendidikannya.
Kembalinya anak ke sekolah sebaiknya diikuti dengan dukungan dari rumah dan lingkungan sekitar. Orang tua memiliki peran penting untuk membantu anak membangun kembali semangat belajar, terutama setelah cukup lama meninggalkan sekolah.
Dukungan tersebut tidak selalu harus dalam bentuk hal besar. Menemani saat belajar, mendengarkan cerita tentang kegiatan di sekolah, memberi apresiasi ketika anak menunjukkan kemajuan, hingga membantu mengatur kembali rutinitas sehari-hari dapat menjadi langkah sederhana yang berarti. Orang tua juga perlu memberi ruang bagi anak untuk bercerita ketika menghadapi kesulitan, termasuk saat merasa tertinggal dari teman-temannya.
Di sisi lain, lingkungan sekolah dan pergaulan juga perlu menjadi tempat yang nyaman agar anak tidak merasa malu atau minder karena pernah berhenti sekolah. Dengan dukungan yang konsisten, anak dapat perlahan membangun kembali kepercayaan dirinya, terbiasa dengan proses belajar, mengenali kemampuan yang dimiliki, dan mulai melihat pendidikan sebagai bagian dari langkahnya untuk meraih cita-cita.
Pemprov DKI Jakarta selalu mengupayakan predikatnya untuk mewujudkan Jakarta bebas Anak Tidak Sekolah, agar semakin sedikit anak yang berada di luar jangkauan pendidikan. Langkah ini merupakan bagian dari usaha menyiapkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan untuk ikut menentukan arah perkembangan Jakarta sebagai kota global.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

