Mahasiswa KKNT IPB University 2026 menghadirkan EcoAksi, sebuah program inovasi pengelolaan sampah yang dilaksanakan di Desa Bumijawa, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal. Program ini menjadi upaya mahasiswa untuk mengenalkan pengelolaan sampah yang sederhana dan dapat diterapkan mulai dari lingkungan rumah tangga.
EcoAksi terdiri atas tiga inovasi, yaitu Compost Tower menggunakan galon bekas, pembuatan eco-enzyme dari limbah organik, serta pemanfaatan tutup botol plastik menjadi gantungan kunci menggunakan teknik pemanasan dengan setrika. Program EcoAksi dilatarbelakangi oleh kondisi pengelolaan sampah di Desa Bumijawa yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
Berdasarkan hasil diskusi mahasiswa KKNT dengan perangkat desa, Bumijawa belum memiliki TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dan sistem pemilahan sampah dari sumbernya juga belum berjalan. Pengelolaan sampah masih terpusat pada satu titik tempat pembuangan, tanpa adanya proses pengolahan lebih lanjut.
Sampah yang terkumpul kemudian langsung diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, terutama melalui pemilahan dan pengolahan yang dapat dilakukan di tingkat rumah tangga.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKNT IPB University 2026 memperkenalkan EcoAksi dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memilah serta mengolah sampah berdasarkan jenisnya. Program ini juga diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang langsung dibuang dan diangkut menuju TPA serta mendorong masyarakat untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.
Melalui pendekatan yang sederhana dan praktik langsung, EcoAksi diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih baik di Desa Bumijawa. Kegiatan EcoAksi diawali dengan pengenalan eco-enzyme pada Sabtu, 25 Juli 2026 yang melibatkan siswa kelas 4 sekolah dasar. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan pengelolaan sampah sejak usia dini melalui pemahaman mengenai perbedaan sampah basah dan sampah kering.
Mahasiswa memberikan edukasi sekaligus melakukan demonstrasi pembuatan eco-enzyme dengan memanfaatkan limbah organik. Para siswa menunjukkan antusiasme selama kegiatan berlangsung dan mulai memahami bahwa sampah basah dan kering memiliki karakteristik serta cara pengolahan yang berbeda. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Inovasi kedua dilaksanakan pada Sabtu, 1 Agustus 2026 melalui kegiatan Compost Tower bersama ibu-ibu PKK Desa Bumijawa. Compost Tower merupakan metode pengolahan sampah organik dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media pengomposan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan mengenai sampah organik dan manfaat pengomposan, tetapi juga melakukan demonstrasi secara langsung.
Ibu-ibu PKK turut berpartisipasi dalam praktik dengan mengikuti tahapan pembuatan Compost Tower. Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan adanya diskusi dan pertanyaan dari peserta mengenai pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan di rumah. Antusiasme ibu-ibu PKK terhadap kegiatan tersebut menjadi salah satu respons positif dari pelaksanaan EcoAksi.
Bahkan, setelah kegiatan berlangsung, ibu-ibu PKK mengundang mahasiswa KKNT IPB untuk memberikan edukasi serupa dalam kegiatan PKK di tingkat RT/RW. Hal tersebut menunjukkan adanya ketertarikan masyarakat untuk memperluas pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dan menjadi peluang bagi keberlanjutan edukasi di lingkungan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Rangkaian EcoAksi kemudian dilanjutkan dengan inovasi ketiga pada Rabu, 5 Agustus 2026, yaitu pemanfaatan sampah plastik berupa tutup botol menjadi gantungan kunci. Kegiatan ini kembali melibatkan siswa kelas 4 sekolah dasar. Berbeda dengan pengolahan sampah organik, kegiatan ini mengajak peserta mengenal cara memanfaatkan kembali sampah plastik yang masih dapat digunakan. Para siswa bahkan membawa tutup botol dari rumah untuk digunakan dalam kegiatan.
Mahasiswa kemudian memperkenalkan teknik pemanasan menggunakan setrika untuk mengolah tutup botol menjadi material yang dapat dibentuk menjadi gantungan kunci. Kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkenalkan konsep pemanfaatan kembali sampah sekaligus mengembangkan kreativitas anak-anak. Ketiga inovasi dalam EcoAksi menunjukkan bahwa satu permasalahan sampah dapat diatasi melalui berbagai pendekatan sesuai dengan jenis limbah yang dihasilkan.
Sampah organik dapat diarahkan untuk pengomposan melalui Compost Tower maupun diolah menjadi eco-enzyme, sedangkan sampah plastik berupa tutup botol dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk kreatif. Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat pesan utama EcoAksi bahwa pengelolaan sampah tidak harus dimulai dari sistem yang besar, tetapi dapat diawali dari tindakan sederhana di tingkat rumah tangga.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKNT IPB University 2026 berharap pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan dapat terus diterapkan oleh masyarakat setelah program KKNT berakhir. Pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi langkah awal yang penting agar sampah organik dan anorganik tidak langsung tercampur dan seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
Dengan adanya keterlibatan ibu-ibu PKK dan siswa sekolah dasar, EcoAksi juga diharapkan dapat memperluas kesadaran mengenai pengelolaan sampah lintas generasi. EcoAksi pada akhirnya tidak hanya menjadi program kerja mahasiswa, tetapi diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju kebiasaan baru masyarakat Desa Bumijawa dalam mengelola sampah.
Dukungan dan antusiasme masyarakat, termasuk adanya keinginan untuk membawa edukasi ke tingkat RT/RW, menjadi modal penting agar program dapat terus berkembang. Dengan semangat “memilah sebelum membuang dan memanfaatkan sebelum menjadi limbah”, EcoAksi diharapkan mampu mendorong Desa Bumijawa menuju lingkungan yang lebih bersih, mandiri, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


