resik revolusi sampah inovatif kolektif gerakan mahasiswa kkn t ipb mendorong pemilahan sampah dan pengelolaan berkelanjutan di desa seda kuningan - News | Good News From Indonesia 2026

RESIK "Revolusi Sampah Inovatif Kolektif": Gerakan Mahasiswa KKN-T IPB Mendorong Pemilahan Sampah dan Pengelolaan Berkelanjutan di Desa Seda, Kuningan

RESIK "Revolusi Sampah Inovatif Kolektif": Gerakan Mahasiswa KKN-T IPB Mendorong Pemilahan Sampah dan Pengelolaan Berkelanjutan di Desa Seda, Kuningan
images info

Dokumentasi Pribadi


Halo, Kawan GNFI! Tahukah kamu bahwa permasalahan sampah rumah tangga hingga saat ini masih menjadi tantangan besar di berbagai wilayah Indonesia, tak terkecuali di kawasan pedesaan? 

Seiring bertambahnya populasi dan pesatnya aktivitas harian masyarakat, volume sampah terus merangkak naik setiap harinya. Sayangnya, mayoritas sampah tersebut masih dibuang begitu saja dalam kondisi bercampur—mulai dari sampah organik, anorganik, hingga limbah B3.

Kondisi tercampurnya jenis sampah ini membuat proses pengolahan kembali menjadi sangat sulit dilakukan. Fenomena serupa juga dijumpai di Desa Seda, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan. 

Melihat kondisi ini, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University tergerak untuk menghadirkan solusi nyata. Rabu (5/8/2026), mahasiswa KKN-T IPB University resmi meluncurkan program kerja bertajuk RESIK: Revolusi Sampah Inovasi Kolektif. Program ini dikemas sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat lokal melalui pendekatan yang edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Momen ini turut dihadiri secara antusias oleh berbagai elemen desa, mulai dari perangkat desa, kader PKK, Karang Taruna, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), hingga warga setempat.

baca juga

Program RESIK Dorong Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

Program RESIK ini dirancang melalui dua kegiatan utama yang saling melengkapi, yaitu sosialisasi pemilahan jenis sampah dan pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari sampah organik rumah tangga. Kedua kegiatan tersebut bertujuan membangun kesadaran masyarakat sekaligus memberikan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri setelah kegiatan KKN berakhir. 

Gerakan ini mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sampah dari sekadar limbah buangan menjadi sumber daya bernilai guna melalui pengelolaan yang tepat. Langkah ini dipicu oleh kondisi TPA Desa Seda yang kian menumpuk dan belum dikelola secara optimal. 

“Kondisi TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) di Desa Seda sudah sangat mengkhawatirkan dikarenakan pengolahan belum optimal, pengolahan sampah disini hanya dibuang langsung ke TPA setiap hari Sabtu oleh karang taruna dan pemilahan sampah dilakukan untuk sampah yang memiliki nilai ekonomis, sampah sisanya dibakar sore harinya,” ujar Kepala Desa Seda. 

Pemisahan Sebagai Kunci Pengelolaan Sampah Optimal

Sesi awal kegiatan dibuka dengan pemaparan edukatif seputar dasar-dasar pemilahan sampah. Para peserta diajak berdiskusi interaktif mengenai klasifikasi sampah organik, anorganik, dan B3, serta pentingnya menerapkan pemilihan langsung dari sumbernya, yaitu dapur rumah tangga masing-masing.

Untuk menggugah kepedulian peserta, Tim KKN-T IPB University juga memaparkan berbagai dampak buruk akibat penumpukan sampah, mulai dari risiko munculnya sarang penyakit hingga potensi pencemaran tanah dan sumber air di lingkungan Desa Seda. 

Sulap Limbah Rumah Tangga Jadi Pupuk Organik Cair

Setelah memahami pentingnya pemilahan sampah, masyarakat diajak mempraktikkan langsung pembuatan pupuk organik cair. Metode POC ini dipilih karena kemudahan masyarakat dalam menjalankannya tanpa memerlukan teknologi mahal atau peralatan khusus. Hampir seluruh bahan tersedia di rumah tangga sehingga biaya pembuatannya relatif rendah.

Praktik pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dilakukan secara langsung menggunakan bahan ramah lingkungan dan mudah didapat, seperti sisa sayuran, kulit buah, air cucian beras, molase, EM4, dan air bersih. Seluruh bahan dicampurkan ke dalam wadah tertutup untuk difermentasi selama beberapa minggu hingga menghasilkan larutan kaya unsur hara yang siap pakai. 

Pupuk Organik Cair (POC) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan warga untuk tanaman pekarangan, hortikultura, hingga perkebunan skala rumah tangga. Hal ini sangat relevan mengingat mayoritas masyarakat Desa Seda berprofesi sebagai petani. Selain itu, penggunaan pupuk organik turut membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

baca juga

Antusiasme warga terlihat jelas sepanjang berjalannya acara. Para peserta aktif berdiskusi mengenai permasalahan sampah harian yang mereka hadapi, sekaligus berbagi pengalaman dalam memanfaatkan limbah organik di lingkungan sekitar.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena menambah wawasan warga dan membantu mengoptimalkan program desa dalam mengelola sampah,” ujar salah satu warga saat dimintai tanggapan mengenai program RESIK.

Melalui semangat kolaborasi ini, diharapkan gerakan RESIK dapat menjadi pemantik perubahan pola hidup ramah lingkungan yang konsisten di Desa Seda.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AK
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.