Di Desa Ngulahan, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, burung-burung tidak ditempatkan di dalam sangkar untuk bisa dilihat pengunjung. Mereka terbang, hinggap di pepohonan, mencari makan, dan bergerak bebas di sekitar kawasan wisata.
Konsep tersebut diterapkan di Ngulahan Park, sebuah destinasi yang menggabungkan wisata dengan upaya konservasi satwa. Kawasan ini dikenal dengan konsep wisata tanpa kandang atau aviary alam. Pengunjung dapat mengamati berbagai satwa yang dilepasliarkan di area taman tanpa harus melihatnya dari balik pagar kandang.
Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya, kalau tidak ada sangkar, mengapa burung-burung liar itu tetap tinggal di Ngulahan?
Berawal dari Desa dan Kader Konservasi
Ngulahan Park mulai dikembangkan pada 2021 melalui inisiatif N Arthur atau yang dikenal sebagai Paman N, kader konservasi BKSDA Jawa Tengah, bersama pemuda Karang Taruna setempat.
Upaya tersebut berfokus pada rehabilitasi dan pemeliharaan satwa, terutama burung yang memiliki nilai konservasi. Salah satu yang dikembangkan adalah jalak oren. Populasinya disebut meningkat dari sepasang menjadi sekitar 80 ekor dalam dua tahun.
Kawasan ini kemudian berkembang menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat melihat satwa dalam lingkungan yang dibuat menyerupai habitat alaminya. Sejumlah burung seperti merak dan rangkong Jawa dapat dijumpai di sekitar pepohonan dan area aktivitas warga.
Ngulahan Park juga menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa lain. Sumber yang tersedia menyebut terdapat sekitar 38 jenis hewan, dengan mayoritas berupa unggas. Di antaranya jalak Bali, jalak putih, merak, dan rangkong Jawa. Ada pula satwa lain seperti ular piton, monyet, iguana, hingga tawon klanceng.
Apa yang Membuat Burung Betah?
Tidak adanya kandang tentu tidak otomatis membuat burung liar menetap di sebuah lokasi. Dalam ekologi, keberadaan satwa di suatu kawasan berkaitan dengan tersedianya kebutuhan dasar, seperti makanan, air, tempat berlindung, ruang untuk bergerak, serta kondisi lingkungan yang sesuai.
Karena itu, konsep Ngulahan Park menarik dilihat dari bagaimana lingkungan kawasan tersebut dapat menyediakan kondisi yang membuat satwa tetap berada di sana. Pepohonan dan vegetasi dapat menjadi tempat bertengger sekaligus berlindung, sementara lingkungan desa menyediakan ruang bagi satwa untuk bergerak.
Namun, dari informasi yang tersedia, belum ada data ilmiah yang menjelaskan secara khusus faktor mana yang paling menentukan burung-burung tersebut bertahan di Ngulahan Park. Karena itu, anggapan bahwa satwa menetap semata-mata karena habitatnya sudah ideal perlu dibuktikan melalui pemantauan dan penelitian lapangan.
Yang dapat terlihat adalah adanya pendekatan berbeda dalam mempertemukan manusia dan satwa. Burung tidak harus ditempatkan dalam kandang agar masyarakat dapat mengenalnya. Sebaliknya, pengunjung yang datang perlu menyesuaikan perilakunya dengan keberadaan satwa yang bergerak bebas.
Konservasi Berjalan Bersama Wisata
Model seperti ini juga membuat aktivitas wisata memiliki dimensi edukasi. Pengunjung dapat melihat satwa dari jarak tertentu dan memahami bahwa perilaku hewan liar berbeda dengan satwa yang memang dipelihara sebagai hewan domestik.
Ngulahan Park menyediakan sejumlah aktivitas lain, termasuk wisata edukasi mengenai satwa dilindungi. Ada pula fasilitas kolam renang, area swafoto, serta kegiatan berkuda yang mengajak wisatawan menikmati lingkungan desa.
Dari sisi ekonomi, konsep wisata ini juga memberi ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat. Pengembangan yang dilakukan bersama pemuda desa menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan beriringan dengan kegiatan wisata dan ekonomi masyarakat.
Bagi kawasan pedesaan seperti Ngulahan, pendekatan tersebut penting karena keberadaan destinasi wisata tidak harus selalu bergantung pada pembangunan fasilitas besar. Lingkungan yang sudah ada dapat dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata, selama pengelolaannya memperhatikan kebutuhan satwa dan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


