Pada awal perkembangannya, gerakan kepanduan hadir melalui sejumlah organisasi dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang dibentuk berdasarkan agama, kesukuan, hingga kelompok tertentu. Perjalanan itu berlangsung selama puluhan tahun hingga akhirnya muncul gagasan untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan ke dalam satu wadah.
Dari proses panjang itulah gerakan pramuka kemudian lahir. Di balik peristiwa tersebut, ada sejumlah tokoh yang punya peran penting. Beberapa nama seperti Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX mungkin cukup akrab di telinga.
Namun, ada pula nama lain yang tidak selalu muncul ketika sejarah Pramuka dibicarakan. Siapa saja mereka dan apa perannya?
1. Soekarno

Soekarno | Wikimedia Commons | Anonymous
Nama Soekarno tentu bukan nama yang asing dalam sejarah Indonesia. Namun, tidak semua orang mungkin mengingat bahwa presiden pertama Indonesia ini juga memiliki peran dalam lahirnya gerakan pramuka.
Pada 9 Maret 1961, Soekarno mengumpulkan sejumlah tokoh kepanduan di Istana Negara. Pertemuan tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Gagasan penyatuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan pembentukan panitia yang bertugas mempersiapkan organisasi baru. Di dalamnya terdapat Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, Azis Saleh, dan M. Achadi.
Gerakan pramuka pun kemudian dibentuk. Soekarno kemudian menjadi Ketua Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Gerakan Pramuka.
Pada 14 Agustus 1961, ia menyerahkan panji gerakan gramuka kepada para tokoh pramuka dalam rangkaian perkenalan gerakan pramuka kepada masyarakat. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pramuka.
2. Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Sri Sultan Hamengku Buwono IX | Wikimedia Commons | Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia
Kalau ada satu nama yang sangat lekat dengan sejarah awal pramuka, Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah salah satunya.
Jauh sebelum gerakan pramuka berdiri, Sri Sultan Hamengku Buwono IX sudah memiliki pengalaman dalam dunia kepanduan. Pengalaman tersebut membuatnya kemudian dilibatkan dalam proses penyatuan berbagai organisasi kepanduan di Indonesia.
Bersama Soekarno, ia menjadi salah satu tokoh yang menggagas penyatuan organisasi-organisasi kepanduan ke dalam satu gerakan. Sri Sultan HB IX juga menjadi bagian dari panitia pembentukan gerakan pramuka. Setelah organisasi tersebut resmi berdiri, ia dipercaya menjadi Ketua Kwartir Nasional pertama.
Posisi tersebut membuatnya tidak hanya terlibat pada tahap kelahiran pramuka, tetapi juga ikut menentukan arah perkembangan organisasi pada masa-masa awal. Ia memimpin Kwartir Nasional selama lebih dari satu dekade, dari 1961 hingga 1974. Tidak heran jika kemudian Sri Sultan HB IX dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
3. Prijono
Nama Prof. Dr. Prijono mungkin tidak sepopuler Soekarno maupun Sri Sultan HB IX. Namun, namanya tercatat dalam proses penting pembentukan gerakan pramuka.
Pada masa itu, Prijono menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menjadi salah satu anggota panitia pembentukan gerakan pramuka yang dibentuk pada 1961.
Panitia tersebut memiliki tugas untuk mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan bagi berdirinya organisasi pramuka, termasuk menyusun dasar organisasi.
Hasil kerja dari panitia yang dikumpulkan oleh Soekarno kemudian menghasilkan anggaran dasar gerakan pramuka. Dasar tersebut selanjutnya disahkan melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961.
4. Abdul Azis Saleh
Nama berikutnya adalah Abdul Azis Saleh. Sebelum terlibat dalam pembentukan gerakan pramuka, Azis Saleh dikenal sebagai dokter dan pernah menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan. Pada masa pembentukan pramuka, ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Kompartemen Perindustrian Rakyat Indonesia .
Azis Saleh termasuk dalam panitia pembentukan gerakan pramuka bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prijono, dan Achadi.
Setelah gerakan pramuka terbentuk, perannya tidak berhenti di sana. Azis Saleh kemudian dianugerahi penghargaan Tunas Kencana, penghargaan tertinggi dari gerakan pramuka setelah reformasi.
5. Mochamad Achadi

Achadi | Wikimedia Commons | VIDEONESIA
Ada pula Drs. Mochamad Achadi yang namanya mungkin lebih jarang terdengar. Achadi merupakan salah satu anggota panitia pembentukan gerakan pramuka yang ditunjuk pada 1961 oleh Soekarno.
Saat itu ia mejabat sebagai Menteri Transmigrasi, Koperasi, dan Pembangunan Masyarakat Desa dalam Kabinet Kerja II dari 18 Februari 1960 hingga 6 Maret 1962. Nama Achadi pun tercatat berperan dalam pengesahan gerakan pramuka pada tahun 1961.
6. K.H. Agus Salim

K.H. Agus Salim | Wikimedia Commons | Unknown (possibly Indonesian government employees)
Berbeda dari lima tokoh sebelumnya, K.H. Agus Salim berada dalam cerita kepanduan Indonesia pada masa yang lebih awal. Agus Salim merupakan salah satu tokoh Sarekat Islam yang juga menaruh perhatian pada pendidikan kepanduan
Sebelum istilah Pramuka digunakan, gerakan kepanduan di Indonesia telah berkembang dalam berbagai organisasi. Pada masa kolonial, istilah padvinder dan padvinderij banyak digunakan untuk menyebut gerakan kepanduan.
Ketika penggunaan istilah padvinder dan padvinderij mulai dilarang bagi organisasi kepanduan bumiputra, K.H Agus Salim mengusulkan penggunaan istilah “pandu” dan “kepanduan” sebagai gantinya.
Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti. Pada 9 April 1928, dalam Kongres I Sarekat Islam Afdeeling Padvinderij (SIAP) yang berlangsung di Gedung Darul Ma’arif Cokroaminoto, Banjarnegara, nama organisasi tersebut diubah menjadi Sarekat Islam Afdeeling Pandoe. Organisasi itu kemudian dikenal sebagai Pandu SIAP.
Di sinilah kita dapat melihat peran Agus Salim dalam sejarah kepanduan Indonesia. Ia tidak berada dalam proses pembentukan gerakan pramuka pada 1961 seperti 5 tokoh sebelumnya, tetapi perannya datang jauh lebih awal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


