Pekanbaru memiliki banyak sudut kota yang menarik perhatian. Di antara jalan-jalan besar, taman kota, dan bangunan pemerintahan, terdapat sebuah monumen yang cukup mudah dikenali karena bentuknya tidak biasa.
Tiga ekor ikan tampak saling berdekatan seolah sedang berpelukan di atas kolam. Monumen tersebut adalah Tugu Selais Tiga Sepadan, salah satu ikon yang melekat dengan Kota Pekanbaru.
Sekilas, tugu ini mungkin hanya terlihat sebagai patung berbentuk ikan. Namun, apabila diperhatikan lebih jauh, keberadaannya menyimpan cerita mengenai identitas daerah, kehidupan masyarakat Melayu, serta hubungan manusia dengan lingkungan perairan.
Tugu tersebut menggunakan bentuk ikan selais, fauna khas Riau yang hidup di perairan tawar. Karena itu, pemilihan ikan selais sebagai bentuk utama bukanlah keputusan tanpa alasan.
Tugu Selais menjadi contoh bagaimana sesuatu yang dekat dengan kehidupan masyarakat dapat diubah menjadi simbol kota. Bukan gedung tinggi atau bangunan megah yang dipilih, melainkan ikan yang telah lama dikenal sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Riau.
Mengapa Ikan Selais Dipilih menjadi Ikon?
Ikan selais bukan sekadar nama yang melekat pada sebuah monumen. Ikan ini merupakan salah satu fauna khas Provinsi Riau yang hidup di berbagai perairan tawar. Keberadaannya juga dikenal melalui kuliner tradisional, salah satunya ikan selais asap.
Kedekatan dengan kehidupan masyarakat membuat ikan selais memiliki nilai budaya tersendiri. Ketika bentuknya kemudian diwujudkan menjadi monumen, muncul hubungan yang menarik antara alam, budaya, dan kehidupan perkotaan.
Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau terus berkembang menjadi kota modern. Jalan raya semakin ramai, kawasan perdagangan tumbuh, dan berbagai bangunan baru bermunculan.
Di tengah perkembangan tersebut, simbol seperti Tugu Selais tetap memiliki fungsi penting karena mengingatkan bahwa sebuah kota juga mempunyai akar budaya.
Tugu tersebut seakan menjadi pengingat bahwa perkembangan kota tidak harus menghilangkan identitas lokal. Justru unsur lokal dapat ditempatkan di tengah ruang perkotaan sehingga tetap mudah dikenali oleh masyarakat.
Tiga Ekor Selais dan Filosofi Kehidupan
Bagian paling menarik dari Tugu Selais Tiga Sepadan tentu terletak pada bentuk tiga ekor ikan yang saling bersentuhan. Gerakannya tidak dibuat kaku. Ketiganya tampak dinamis dan seolah saling merangkul.
Bentuk tersebut menggambarkan karakter masyarakat Melayu Riau yang menjunjung kerukunan, kedamaian, serta kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang hidup di tengah perbedaan membutuhkan sikap saling menghargai agar hubungan sosial tetap terjaga. Karena itu, tiga ikan yang ditempatkan dalam satu kesatuan dapat dibaca sebagai gambaran tentang kebersamaan.
Tugu yang jadi Penanda Kota Pekanbaru
Tugu Selais berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, salah satu ruas jalan penting di Kota Pekanbaru. Letak yang strategis membuat tugu memiliki fungsi sebagai penanda kawasan. Bagi masyarakat yang melintas, tiga ikan berwarna tembaga tersebut menjadi salah satu objek yang langsung mengingatkan pada Pekanbaru.
Bagi pengunjung dari luar daerah, tugu dapat menjadi pintu awal untuk mengenal karakter Riau. Dari sebuah patung ikan, pembicaraan dapat berkembang menuju cerita tentang ikan selais, budaya Melayu, kehidupan sungai, hingga perkembangan Kota Pekanbaru.
Dengan demikian, monumen tidak hanya berfungsi sebagai penghias kota. Tugu juga dapat menjadi media pengenalan identitas daerah melalui bentuk yang sederhana dan mudah diingat.
Diresmikan pada 2011
Tugu Selais Tiga Sepadan dibangun pada masa kepemimpinan Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah. Monumen tersebut diresmikan pada 14 Juli 2011 dan kemudian dikenal sebagai salah satu ikon ibu kota Provinsi Riau.
Pembangunannya menjadi bagian dari upaya menghadirkan simbol yang mencerminkan karakter daerah. Bentuk ikan selais dipilih karena memiliki keterkaitan dengan kekayaan alam Riau.
Ikon kota sering kali dikenal pertama kali melalui foto. Tugu Selais pun memiliki daya tarik visual yang membuatnya mudah diabadikan. Bentuk tiga ikan yang unik membuat monumen ini berbeda dari tugu-tugu lain yang ada di Pekanbaru.
Namun, nilai sebuah ikon kota sebenarnya tidak berhenti pada daya tarik visual. Tugu dapat menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah dan budaya lokal.
Bagi generasi muda, keberadaan monumen seperti Tugu Selais dapat menjadi bahan untuk mengenal kearifan lokal. Terlebih, tidak semua masyarakat yang setiap hari melewati sebuah tugu mengetahui cerita di balik bentuknya.
Di sinilah pentingnya narasi. Tiga ikan tersebut bukan sekadar ornamen. Ada identitas Riau yang dibawa melalui bentuk ikan selais. Ada pula nilai kerukunan dan kedamaian yang tergambar dari posisi ikan yang saling berpelukan.
Sebuah kota tidak hanya dikenali melalui nama, alamat, atau bangunan pemerintahan. Kota juga memiliki simbol yang perlahan menjadi bagian dari ingatan masyarakat.
Tugu Selais Tiga Sepadan merupakan salah satu simbol tersebut bagi Pekanbaru. Tugu Selais pada akhirnya bukan hanya patung tiga ekor ikan di Jalan Jenderal Sudirman. Di dalamnya terdapat cerita tentang ikan khas Riau, budaya Melayu, kehidupan masyarakat, serta pesan mengenai pentingnya kerukunan.
Tiga Selais, Satu Cerita tentang Pekanbaru
Tiga ikan yang saling berdekatan menjadi gambaran sederhana mengenai kehidupan yang penuh hubungan dan kebersamaan. Bentuknya mungkin tidak sebesar gedung-gedung modern yang kini memenuhi Pekanbaru, tetapi pesan yang dibawanya memiliki nilai yang tidak kalah penting.
Tugu Selais mengingatkan bahwa kemajuan sebuah kota tetap membutuhkan identitas. Modernisasi boleh berjalan, pembangunan boleh terus berkembang, tetapi simbol budaya tetap perlu dirawat agar tidak hilang dari ingatan.
Selama berdiri di Jalan Jenderal Sudirman, tiga ekor ikan selais akan terus menjadi salah satu wajah Pekanbaru. Bukan hanya sebagai penanda sebuah kawasan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa di balik perkembangan sebuah kota terdapat sejarah, budaya, alam, dan nilai kehidupan yang layak untuk terus dikenang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


