Kalau bicara soal hubungan Indonesia dan Australia, biasanya yang muncul di kepala adalah dukungan Australia untuk kemerdekaan RI, kerja sama dagang, atau ribut-ribut soal batas laut. Padahal jauh sebelum dua nama negara itu ada, kapal-kapal dari Sulawesi Selatan sudah rutin singgah tiap tahun di pesisir utara benua itu. Ini bukan catatan sekali dua kali dalam sejarah, tapi hubungan dagang yang jalan terus selama lebih dari dua abad, jauh sebelum bendera Inggris berkibar di tanah Australia.
Jejaknya masih ada sampai sekarang: di kosakata yang dipakai orang Aborigin, di bentuk perahu mereka, bahkan di lagu ritual kematian yang menyelipkan lafal doa berbahasa Arab-Melayu. Ini ceritanya.
Setiap Desember, angin muson barat laut mulai bertiup dari utara. Orang Yolngu di Arnhem Land menyebutnya Lunggurrma. Bagi mereka, angin ini bukan cuma soal cuaca, tapi penanda musim: perahu-perahu dari utara sebentar lagi datang, dan arah angin yang sama nanti juga yang membawa perahu itu pulang setelah musim panen teripang selesai. Bagi pelaut Makassar dan Bugis di seberang lautan, angin inilah aba-aba untuk berangkat.

Teripang (sea cucumber) di dasar laut berpasir, hewan yang menjadi komoditas utama yang diburu pelaut Makassar dan Bugis di perairan Australia utara. Teripang kering bernilai tinggi di pasar Tiongkok pada masa Dinasti Qing sebagai bahan pangan mewah dan obat tradisional, dan permintaan inilah yang mendorong ratusan ekspedisi perahu dari Sulawesi Selatan ke Marege' dan Kayu Jawa selama lebih dari dua abad. Foto: Dr. Dwayne Meadows, NOAA/NMFS/OPR (Domain Publik).
Puluhan perahu padewakang, kapal layar kayu bercadik dua yang jadi andalan orang Sulawesi Selatan untuk pelayaran jauh, berlayar sekitar 1.600 kilometer menyeberangi Laut Arafura. Laut ini membentang antara pesisir selatan Papua dan Kepulauan Aru di sisi Nusantara, dengan pantai utara Australia di seberangnya, dihubungkan oleh pola muson yang berganti arah setiap enam bulan sekali. Tujuan mereka disebut Marege', yaitu kawasan pesisir yang sekarang dikenal sebagai Arnhem Land di Teritori Utara Australia, rumah bagi suku Yolngu dan beberapa kelompok bahasa lain.

Kapal Padekawang | Oleh Collectie Wereldmuseum (v/h Tropenmuseum), part of the National Museum of World Cultures, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=8610482
Sebagian pelaut lain memilih rute lebih ke barat, ke Kayu Jawa, sebutan mereka untuk kawasan Kimberley. Kontak semacam ini sudah berjalan sejak pertengahan abad ke-17, jauh sebelum koloni permanen Inggris berdiri di Port Jackson pada 1788.
Yang mendorong pelayaran ini bukan ambisi menaklukkan wilayah, melainkan bisnis, dan asal-usulnya bisa ditarik ke sebuah kekalahan di kampung halaman. Tahun 1667, Perjanjian Bongaya ditandatangani setelah perang panjang antara Kesultanan Gowa dan VOC, dengan Kerajaan Bone berada di pihak Belanda. Perjanjian itu memaksa Gowa melepas kendali besar atas perdagangan di kawasan timur Nusantara. Tak lama kemudian benteng utama Gowa di Somba Opu jatuh ke tangan VOC, dan monopoli dagang rempah yang selama ini menghidupi saudagar Makassar praktis tertutup.
Ruang gerak mereka di jalur rempah pun makin sempit, jadi mereka beralih ke komoditas yang belum dimonopoli Belanda: teripang. Hewan laut sejenis timun laut ini dikeringkan lalu dijual sebagai bahan pangan mewah dan obat tradisional di pasar Tiongkok pada masa Dinasti Qing. Lukisan dinding batu kuno di situs Djulirri, Arnhem Land barat, memberi petunjuk bahwa kontak sebenarnya sudah dimulai sekitar 1640 sampai 1660-an, bahkan mungkin lebih dulu dari Perjanjian Bongaya sendiri.
Skalanya cukup besar untuk ukuran zaman itu. Pada masa puncak di abad ke-18 dan ke-19, tiap musim ada 30 sampai 60 perahu berlayar dengan total 1.000 sampai 2.000 pelaut musiman, angka yang tercatat juga dalam catatan navigator Matthew Flinders dan penjelajah Nicolas Baudin ketika berpapasan dengan armada nakhoda Pobasso di perairan Semenanjung Gove pada 1803.
Mereka menetap empat sampai lima bulan di pantai untuk mengumpulkan dan mengeringkan teripang, sebelum angin muson tenggara membawa mereka pulang. Praktik ini bertahan sampai awal abad ke-20 dan baru benar-benar berhenti pada musim 1906-1907, setelah pajak dan kebijakan proteksionis kolonial Australia menutup akses mereka.
Teknologi, Bahasa, dan Perkawinan Budaya
Kontak dua abad lebih ini meninggalkan bekas yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan dagang. Sebelum bertemu pelaut Sulawesi, orang-orang pesisir utara Australia mengandalkan kano kulit kayu yang rapuh dan hanya bisa dipakai di perairan tenang. Dari sinilah lahir lipalipa, kano kayu berongga bercadik yang namanya diserap dari kata Makassar lepa-lepa. Perahu ini membuka jalan ke laut lepas: orang Yolngu jadi bisa berburu duyung dan penyu, sekaligus memperluas jalur tukar-menukar antarpulau. Kapak besi menggantikan kapak batu, mata kail logam membuat hasil tangkapan ikan jauh lebih banyak.

Seorang peneliti memeriksa susunan batu peninggalan era perdagangan teripang di pesisir Arnhem Land, Australia. Situs semacam ini, yang tersebar di sepanjang pantai Arnhem Land dan Kimberley, diyakini sebagai sisa tungku perapian atau denah kamp pengolahan teripang yang dulu digunakan pelaut Makassar dan Bugis. Foto: Ray Norris/Wikimedia Commons (CC BY-SA 2.5).
Jejak paling gampang ditemukan justru ada di bahasa. Setidaknya 200 kosakata dari Makassar, Bugis, dan Melayu menyusup ke bahasa Yolngu-Matha, juga ke bahasa Iwaidja, Mawng, Tiwi, dan Anindilyakwa. Kata rupiya untuk uang, balanda untuk orang kulit putih, lipalipa untuk kano, semuanya masih dipakai sampai hari ini. Bahkan muncul bahasa pijin sendiri, Makassan Pidgin, yang tak cuma dipakai untuk komunikasi dengan pelaut, tapi juga jadi bahasa penghubung antarkelompok Aborigin yang bahasanya sendiri saling tidak dipahami.

Lukisan seni cadas di Arnhem Land yang menggambarkan sebuah perahu Makassan berwarna putih, dengan figur perempuan yang digariskan menggunakan lilin lebah (beeswax) di atasnya. Teknik penggarisan beeswax di atas lukisan seperti ini adalah salah satu ciri khas seni cadas Arnhem Land, dan motif perahu Makassan menunjukkan bagaimana masyarakat Yolngu turut merekam kehadiran pelaut Nusantara dalam karya visual mereka. Foto: Wikimedia Commons (Domain Publik).
Ada juga jejak yang lebih personal. Pemuda Yolngu kerap ikut berlayar ke Makassar, sebagian menetap, menikah, dan punya keturunan di sana. Baru pada 2023 bukti ini terkonfirmasi secara konkret, ketika arsip foto naturalis Italia Odoardo Beccari dari tahun 1873 ditemukan di Museum Pigorini, Roma. Foto itu memperlihatkan anak-anak dan pemuda Aborigin di Makassar, dan ketika diperiksa oleh tetua adat Yolngu di Arnhem Land, pola bekas luka ritual di tubuh mereka dikenali sebagai jejak leluhur klan mereka sendiri.
Ketika Islam Bertemu Dreamtime
Bagian paling dalam dari percampuran ini ada di ranah spiritual. Dalam kosmologi Yolngu, segala sesuatu, orang, benda, tempat, bahkan angin dan bintang, harus masuk ke salah satu dari dua kelompok besar yang disebut moiety: Dhuwa dan Yirritja. Pembagian ini menentukan siapa punya hubungan kekerabatan dengan siapa, upacara apa yang boleh diikuti, sampai tanggung jawab adat apa yang melekat pada seseorang. Perahu, jangkar, sampai angin Lunggurrma yang dibawa pelaut Makassar, semuanya dimasukkan ke moietyYirritja.
Dengan begitu, pelaut Nusantara dan segala yang mereka bawa tidak lagi dianggap asing, tapi jadi bagian resmi dari tatanan kekerabatan Yolngu sendiri.

Bark painting perahu prau karya Minimini Numalkiyiya Mamarika, pigmen alami di atas kulit kayu. . | https://www.aboriginal-bark-paintings.com/
Dari sinilah muncul Birrinydji, leluhur mitologis yang dipercaya menguasai besi dan teknologi pelayaran, digambarkan berpakaian seperti bangsawan Bugis-Makassar lengkap dengan badik terselip di pinggang, semacam personifikasi dari segala teknologi dan kekayaan yang datang bersama pelaut Sulawesi Selatan.
Yang lebih mencolok lagi, dalam ritual kematian klan Yirritja ada entitas pencipta bernama Walitha'walitha. Menurut kajian linguistik, nama ini kemungkinan besar berasal dari ucapan "Allahu Ta'ala". Dalam nyanyian kematian yang disebut manikay, pelantun melafalkan doa berirama mirip zikir, sementara penari melakukan gerakan yang menyerupai sujud dan rukuk, semuanya menghadap barat laut, arah kiblat sekaligus arah pulangnya perahu ke Makassar.
Jejak fisiknya masih bisa dilihat di situs susunan batu Wurrwurrwuy, dekat kota Yirrkala di Semenanjung Gove. Bukan formasi batu bermakna mistis seperti kebanyakan warisan adat Aborigin, situs ini justru semacam denah teknis yang disusun dari batu-batu kecil oleh tetua adat klan Lamamirri dan Gumatj pada abad ke-19, lengkap dengan gambaran ruang kemudi, tiang layar, sampai tangki air perahu padewakang. Ini bukti bahwa orang Yolngu betul-betul paham arsitektur kapal yang membawa mereka melintasi Laut Arafura.
Tidak semua warisan kontak ini baik. Wabah cacar yang menyerang populasi Aborigin di Teritori Utara pada dekade 1800-an dan 1820-an diduga kuat ikut menular lewat kontak fisik dengan awak kapal teripang, di samping jalur dari pemukiman Inggris di Sydney Cove. Penelitian genetika modern juga menemukan bahwa tingginya kasus Machado-Joseph Disease, gangguan saraf keturunan langka yang mengganggu koordinasi gerak dan keseimbangan, di komunitas Groote Eylandt dan pesisir Arnhem Land, berbagi mutasi genetik dengan populasi Asia Tenggara dan Asia Timur. Ini jejak biologis nyata dari perkawinan antara pelaut Sulawesi Selatan dan perempuan lokal berabad-abad lalu.
Jauh sebelum istilah "hubungan bilateral" dikenal, Nusantara sudah membangun ikatan lintas benua yang mengubah bahasa, teknologi, bahkan sistem kepercayaan sebuah bangsa lain, tanpa satu peluru pun ditembakkan untuk menaklukkan wilayah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


