Arif Satria adalah akademisi terkemuka Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang pendidikan tinggi, kebijakan kelautan, pembangunan pedesaan, dan inovasi. Namanya semakin dikenal luas setelah memimpin Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai rektor pada 2017 hingga 2025.
Selama masa kepemimpinan Arif, IPB mampu mempertahankan reputasi internasional, termasuk berada di jajaran universitas terbaik dunia pada bidang Agriculture and Forestry menurut pemeringkatan QS World University Rankings. Di samping memimpin perguruan tinggi, ia turut aktif menyuarakan pentingnya penguatan ekosistem riset dan inovasi di Indonesia.
Kiprahnya di dunia pendidikan dan penelitian membuat karier Arif menanjak. Ia kemudian dipercaya memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 10 November 2025 lalu.
Perkembangan BRIN Hari Ini
BRIN menjadi lembaga riset dari pemerintah yang terus bekerja dalam keheningan. Diam-diam berbagai pembangunan dan pengembangan institusi terus dilakukan sejak 2001. Dari situ, BRIN berharap perangkat regulasi hingga organisasi bisa tesusun dengan kuat sehingga hasil penelitian bisa membawa dampak bagi masyarakat.
“Jadi karena perangkat regulasi, perangkat aturan, perangkat organisasi sudah relatif establish meskipun kita akan tersempurnakan. Akan tetapi, kita sekarang fokus bagaimana program-program BRIN bisa membawa impact besar karena BRIN harus memberi harapan baru,” ucap Arif kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Arif meyakini bangsa yang maju di segala sektor ditopang berdasarkan research and development (R&D) yang kuat. Ia pun merasa BRIN dalam hal ini bisa diandalkan sebagai sumber inspirasi walaupun tidak menutup kemungkinan butuh banyak dukungan termasuk dari pihak swasta.
“BRIN harus menjadi inspirasi baru bagi bangsa ini. Karena kita tahu bahwa negara maju manapun kemajuan itu selalu ditopang R&D yang kita. Bisa oleh negara, bisa oleh swasta. Swasta sekarang sudah punya investasi sangat besar di berbagai negara maju untuk memperkuat R&D-nya,” kata Arif.
AI di Tengah Kegiatan Riset
Penggunaan AI semakin marak pada era digital seperti sekarang ini. Dari sekadar hanya menjadi lucu-lucuan, AI juga mulai merembet ke ranah riset penelitian.
Peneliti yang memakai AI pun dipertanyakan integritasnya bila sepenuhnya memakai teknologi tersebut. Adapun bagi Arif Satria, sangat disayangkan bila ada peneliti memakai AI karena di BRIN sendiri kejujuran akademik adalah fondasi utama.
“Kejujuran akademik itu menjadi fondasi. Untuk bisa menghasilkan riset berkualitas sekaligus mendapatkan trust, praktik-praktik yang sudah disebutkan bahwa ada tanda kutip periset-periset Indonesia yang presentasi dengan memanipulasi data dengan menggunakan AI, mengubah identitas, dan sebagainya itu sangat kita sayangkan. Itu sangat mengganggu upaya kita memperkuat integritas akademik, integritas periset kita,” ucap Arif.
Arif juga menegaskan bahwa keputusan peneliti Indonesia mengerjakan riset sepenuhnya menggunakan AI akan sangat berbahaya. Oleh karena itu, BRIN akan meningkatkan kode etik penelitian supaya hasil riset memiliki kualitas dan kredibilitas saat diaplikasikan di dalam masyarakat.
“Yang jelas PR sebagai rumah para inovator, inventor, rumah para periset ini poin yang terus kita jaga reputasi ini sehingga memang kita akan terus perkuat ethical clearance-nya,” jelas dia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

