Sebagai seorang manusia, perlu adanya perjuangan demi meraih kehidupan yang lebih baik, tak terkecuali bagi Warga Negara Indonesia. Sejak zaman kerajaan bahkan hingga saat ini, perjuangan bangsa Indonesia tidak pernah berhenti dengan segala permasalahan yang ada.
Pola pikir, kepribadian, dan respon yang baik, perlu untuk terus dipelihara guna membentuk sosok manusia yang berkualitas terlepas dari permasalahan apapun yang sedang dihadapi. Mengingat sejarah perjuangan bangsa Indonesia, mungkin ada sebagian dari Kawan yang tidak sadar mengenai nilai-nilai kehidupan yang senantiasa dipelihara oleh para pejuang bangsa dibalik perjuangan mereka mengusir penjajah dari Tanah Air.
Beberapa peristiwa di bawah ini berkaitan dengan peritiwa yang terjadi pada masa pra kemerdekaan Indonesia yang mungkin bagi Kawan semua dapat mengambil nilai-nilai baik di dalamnya. Peristiwa apa sajakah itu? Ayo kembali ke masa itu, masa di mana bangsa Indonesia mulai menemukan arti dari kemerdekaan.
Sikap Nekat Golongan Muda, Sang Inisiator Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Peristiwa datangnya sekutu telah membuat Jepang yang saat itu menguasai wilayah Indonesia, menyerah tanpa syarat. Hal itu mengakibatkan terjadinya kekosongan kekuasaan (vacuum of power) sejak 14 Agustus 1945.
Merespon situasi itu, bangsa Indonesia terbagi atas 2 golongan dengan pandangan yang berbeda. Golongan tua yang berpandangan ingin memproklamasikan kemerdekaan melalui sidang PPKI (organisasi bentukan Jepang), sementara golongan muda ingin supaya proklamasi kemerdekaan segera digaungkan tanpa campur tangan atau pengaruh dari negara manapun termasuk Jepang.
Sikap nekat golongan muda kala itu yang sampai harus menculik Soekarno-Hatta membuahkan hasil yang sangat siginifikan.
Soekarno-Hatta menjadi terbebas dari pengaruh Jepang dan dapat sesegera mungkin mengikuti pandangan golongan muda, yakni memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di kala Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan.
Peristiwa ini dapat Kawan sikapi bahwa peran generasi muda sangatlah krusial bagi kemajuan bangsa. Satu hal yang jarang dimiliki oleh generasi terdahulu adalah bahwa mereka terkadang tidak mempunyai keberanian untuk mengambil resiko sebesar yang dimiliki oleh generasi muda.
Keberanian semacam ini yang dapat memperbesar kemungkinan untuk menciptakan bangsa yang mandiri sesuai dengan kepribadian dan terlepas dari pengaruh pihak manapun.
2. Golongan Muda, "Kelompok Nekat" dengan Kepribadian Bangsa yang Terus Melekat di Dalamnya
Sempat muncul perdebatan kecil mengenai siapa yang akan menandatangani teks proklamasi yang sudah ditulis oleh Soekarno. Soekarno yang kala itu ingin supaya semua yang hadir dalam proses penulisan teks proklamasi menandatangani teks tersebut, membuat Soekarni Kartodiwirjo mempunyai pandangannya sendiri.
Dilansir dari Kumparan.com, Soekarni sebagai pemimpin golongan muda berpendapat bahwa penandatanganan teks proklamasi kemerdekaan cukup Soekarno dan Hatta saja yang melakukannya.
Selain untuk mencegah perdebatan panjang seperti perjanjian-perjajian yang ada sebelumnya, beliau beranggapan bahwa melalui hal tersebut, teks proklamasi sudah sah mewakili seluruh bangsa Indonesia.
Situasi seperti ini perlu Kawan pahami bahwa di balik keberanian dan kebebasan yang pada dasarnya menjadi sifat yang sangat melekat pada generasi muda, jangan pernah mengabaikan tentang kepribadian bangsa. Bangsa Indonesia dibentuk menjadi bangsa yang ramah, saling menghargai, dan menghormati antar golongan.
Sikap yang ditunjukkan oleh Soekarni menjadi contoh nyata bahwa Soekarno dan Hatta yang termasuk golongan tua, pantas untuk menandatangani teks proklamasi kemerdekaan atas nama bangsa Indonesia.
Hal itu menunjukkan betapa besarnya rasa hormat Soekarni terhadap Soekarno dan Hatta serta kerendahan hati beliau untuk mewakilkan seluruh kepentingan bangsa Indonesia kepada Soekarno dan Hatta.
3. Laksamana Maeda, Sang Penjajah yang Tidak Pantas Disebut sebagai Penjajah
Laksamana Muda Maeda, nama yang tidak asing di sepanjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah. Beliau merupakan orang Jepang yang menjabat sebagai perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang perannya tidak perlu diragukan lagi bagi kemerdekaan Indonesia.
Selepas Ahmad Soebardjo menjemput Soekarno-Hatta dari Rengasdengklok usai diculik oleh generasi muda, dilansir dari Indonesiana.id, Laksamana Maeda yang notabene berasal dari kelompok penjajah, tanpa ragu meminjamkan rumah dinasnya di Jakarta untuk Soekarno-Hatta menyusun teks proklamasi kemerdekaan.
Hal itu dilakukannya sebagai wujud simpati atas perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajah. Selain itu, untuk memastikan keamanan Soekarna-Hatta tetap terjaga selama proses penyusunan naskah.
Peristiwa ini perlu Kawan sikapi bahwa terkadang kita jangan sampai memusuhi seseorang hanya karena orang tersebut berasal dari golongan yang buruk atau jahat.
Bisa jadi ia mempunyai pandangan yang jauh lebih mulia meskipun golongannya seringkali memperburuk keadannya.
4. Pendidikan Bukan Lagi Soal Belajar di Kelas, tetapi Faktor yang Membawa Suatu Negara Merdeka dari Keterpurukan
Hal ini bukanlah omong kosong. Tahun 1899, politik etis yang dicetuskan oleh Van Deventer sebagai politik balas budi, telah dimafaatkan dengan sangat baik oleh bangsa Indonesia lewat sektor pendidikan. Dua sektor lainnya, seperti emigrasi dan irigasi tidak sepenuhnya berdampak besar terhadap keadaan bangsa Indonesia kala itu.
Semua berawal dari adanya kesempatan pribumi untuk menempuh pendidikan, hingga lambat laun lahirlah organisasi kepemudaan pertama di Indonesia, Budi Oetomo.
Sejak saat itu, muncul berbagai organisasi di berbagai daerah yang semuanya mempunyai basis yang sama, yakni tidak selamanya perlawanan fisik efektif untuk mengeluarkan penderitaan bangsa Indonesia dari penjajahan.
Rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia, muncul sejak terbentuknya berbagai organisasi tersebut. Diperkuat dengan peristiwa sumpah pemuda yang seterusnya membuat bangsa Indonesia menjadi satu kesatuan yang utuh, mempunyai tujuan yang sama, tanpa adanya pandangan yang bersifat kedaerahan. Terbukti, Indonesia dapat meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Sebuah peristiwa yang dapat membuka mata kita bahwa sehebat itu pengaruh pendidikan atas kemerdekaan Negara Indonesia.
Meski dalam perjalanan sejarahnya, pendidikan berjalan beriringan dengan faktor lain dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari kondisi yang buruk, jangan sampai berpikir untuk menurunkan level pendidikan hanya untuk faktor lain yang tidak jelas pengaruhnya berdasarkan sejarah Indonesia selama ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


