Serangan hama menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi petani bawang merah. Untuk menjaga tanaman tetap sehat dan menghindari risiko gagal panen, sebagian petani masih mengandalkan pestisida kimia dengan frekuensi penyemprotan yang cukup tinggi.
Namun, penggunaan pestisida secara berlebihan justru dapat menimbulkan persoalan baru. Selain meningkatkan biaya produksi, residu bahan kimia berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem pertanian, menurunkan populasi musuh alami hama, hingga mendorong munculnya hama yang lebih tahan terhadap pestisida.
Sejumlah kajian tentang tanaman bawang merah juga menunjukkan bahwa penggunaan pestisida dengan frekuensi tinggi dapat memberikan dampak terhadap ekosistem dan pertumbuhan tanaman.
Kondisi tersebut mendorong sivitas akademika Universitas Negeri Malang (UM) untuk mencari pendekatan yang lebih ramah lingkungan dalam mengendalikan hama pertanian.
Salah satu solusi yang dikembangkan adalah metode farmscaping, yakni strategi pengelolaan lahan dengan memanfaatkan tanaman berbunga dan keberadaan musuh alami untuk membantu mengendalikan populasi hama.
Melalui pendekatan ini, petani tidak hanya berfokus pada pemberantasan hama menggunakan bahan kimia.
Ekosistem pertanian justru dirancang agar mampu mendukung keberadaan serangga predator dan parasitoid yang secara alami dapat membantu menekan populasi organisme pengganggu tanaman.
Kurangi Ketergantungan Pestisida Kimia
Penggunaan pestisida secara terus-menerus memang dapat memberikan hasil cepat dalam mengendalikan organisme pengganggu tanaman. Akan tetapi, ketergantungan dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan resistensi hama.
Penelitian mengenai keragaman serangga pada tanaman bawang merah mencatat bahwa penggunaan pestisida kimia dengan frekuensi tinggi dapat memunculkan sejumlah konsekuensi, seperti resistensi dan resurjensi hama, berkurangnya musuh alami, serta gangguan terhadap keseimbangan ekologi.
Karena itu, pengendalian hama terpadu menjadi salah satu pendekatan yang penting untuk dikembangkan.
Petani tidak harus sepenuhnya meninggalkan teknologi pengendalian hama, tetapi dapat mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia dengan mengombinasikannya bersama metode biologis dan ekologis.
Konsep tersebut menjadi salah satu dasar penerapan farmscaping yang diperkenalkan UM. Dalam praktiknya, tanaman refugia seperti bunga matahari, kenikir, dan bunga kertas dapat ditanam di sekitar lahan pertanian.Tanaman tersebut berfungsi menyediakan habitat dan sumber makanan bagi serangga yang berperan sebagai musuh alami hama.
Keberadaan kumbang koksi, laba-laba, dan tawon parasitoid, misalnya, dapat membantu mengendalikan berbagai jenis hama tanaman. Dengan demikian, petani dapat memanfaatkan mekanisme alami yang telah tersedia di lingkungan pertanian.
Farmscaping jadi Alternatif Pertanian Berkelanjutan
UM menilai farmscaping dapat menjadi salah satu alternatif untuk membangun sistem pertanian yang lebih berkelanjutan. Metode tersebut tidak hanya berorientasi pada pengendalian hama, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar lahan.
Pendekatan serupa telah diterapkan melalui riset dan pendampingan kepada petani di sejumlah wilayah Jawa Timur. Di Kabupaten Malang, keberadaan tanaman refugia dilaporkan dapat meningkatkan keberagaman arthropoda yang berperan sebagai pengendali hama. Sementara itu, petani di Pamekasan mulai mengombinasikan tanaman hortikultura dengan tanaman berbunga untuk menciptakan lingkungan pertanian yang lebih seimbang.
Bagi petani bawang merah, penerapan metode seperti ini memiliki potensi untuk membantu menekan biaya produksi. Pengurangan frekuensi penyemprotan pestisida dapat mengurangi pengeluaran sekaligus menekan risiko paparan bahan kimia terhadap lingkungan pertanian.
Selain farmscaping, berbagai inovasi pengendalian hama bawang merah juga terus dikembangkan. Salah satunya teknologi tepat guna berbasis tenaga surya yang dikembangkan tim dari UM untuk membantu mengatasi serangan hama pada malam hari.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian hama dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi, bukan hanya mengandalkan pestisida.
Petani Diajak Bekerja Sama dengan Alam
Pengendalian hama berbasis ekosistem membutuhkan perubahan cara pandang. Tidak seluruh serangga yang berada di lahan pertanian harus dimusnahkan. Sebagian serangga justru memiliki fungsi penting sebagai predator atau parasitoid bagi hama tanaman.
Konsep inilah yang menjadi salah satu prinsip utama farmscaping. Petani didorong untuk menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung keberadaan musuh alami, sehingga keseimbangan populasi hama dapat terbentuk secara lebih alami.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan perkembangan penggunaan pestisida nabati. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bahan alami dari tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengendalian organisme pengganggu tanaman. Misalnya, ekstrak kulit bawang merah diketahui memiliki senyawa seperti saponin, alkaloid, dan flavonoid yang berpotensi mengganggu hama tertentu.
Meski demikian, pestisida nabati tetap memiliki keterbatasan dan tidak serta-merta menjadi pengganti seluruh pestisida kimia. Karena itu, penerapannya lebih tepat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengendalian hama terpadu.
Dengan menggabungkan tanaman refugia, musuh alami, teknologi tepat guna, pemantauan hama, serta penggunaan pestisida secara bijak, petani dapat membangun sistem produksi bawang merah yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Upaya UM tersebut menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak selalu harus bergantung pada penggunaan bahan kimia. Melalui pemanfaatan kekuatan ekosistem dan teknologi yang tepat, pengendalian hama bawang merah dapat diarahkan menuju sistem pertanian yang lebih sehat, berkelanjutan, sekaligus berpotensi menekan biaya produksi petani.
Ke depan, pengembangan metode pengendalian hama ramah lingkungan menjadi semakin penting untuk menjaga produktivitas lahan pertanian. Farmscaping dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan pertanian dalam jangka panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


