Semangat Hari Santri Nasional tidak hanya tumbuh di lingkungan pesantren. Di SD Negeri 4 Kalimandi, Kecamatan Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara, peringatan ini menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai keislaman, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama melalui rangkaian kegiatan pada 20โ22 Oktober.
Selama tiga hari, seluruh warga sekolah turut memeriahkan peringatan dengan mengenakan busana muslim. Siswa dan guru laki-laki mengenakan atasan putih, sarung, dan peci, sehingga menambah suasana khas santri di lingkungan sekolah.
Berbagai kegiatan pun digelar, mulai dari pembiasaan ibadah, kultum tentang makna santri, lomba fashion show, hingga upacara dan pawai ta'aruf yang disertai aksi berbagi kepada masyarakat.
Peringatan Hari Santri Nasional pun tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Semangatnya dihadirkan melalui kebiasaan baik, keberanian berkarya, dan tindakan sederhana yang membawa manfaat bagi orang lain.
Mengenal Makna Santri melalui Pembiasaan Religius
Rangkaian kegiatan diawali pada Senin dengan pembiasaan pagi yang telah menjadi bagian dari rutinitas sekolah. Siswa membaca Asmaul Husna, surat-surat pendek Al-Qur'an mulai dari Surah An-Nas hingga At-Takatsur, serta doa sehari-hari. Kegiatan dilanjutkan dengan salat Duha berjamaah sebelum pembelajaran berlangsung seperti biasa.

Setelah pembelajaran selesai, siswa melaksanakan salat Zuhur berjamaah dan mengikuti kultum bertema makna Hari Santri Nasional. Kultum disampaikan oleh Zulfa Mustofa, mahasiswa Program Asistensi Mengajar dan Magang Terintegrasi UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang bertugas di SD Negeri 4 Kalimandi.
Dalam kultum tersebut, siswa diajak memahami makna filosofis kata SANTRI, yang terdiri atas lima huruf hijaiyah, yaitu Sin, Nun, Ta, Ra, dan Ya.
Makna tersebut mengajarkan bahwa santri merupakan pribadi yang menempuh jalan menuju rida Allah, meneruskan perjuangan para ulama, menjauhi perbuatan maksiat, gemar berbuat kebaikan, serta memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa menjadi santri bukan hanya tentang menuntut ilmu agama, tetapi juga mengamalkannya melalui akhlak mulia, kepedulian terhadap sesama, dan menjaga persatuan bangsa.
Nilai-nilai tersebut selaras dengan Pancasila dan menjadi bekal bagi generasi muda untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, santri diharapkan menjadi pribadi yangย โSanggup Amanah Neruskan Tuntunan Rasul Ilahiโ, serta mampu menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan hari pertama ditutup dengan latihan untuk mempersiapkan lomba fashion show yang akan dilaksanakan pada hari berikutnya.
Fashion Show menjadi Ruang Kreativitas Siswa

Pada Selasa, kegiatan kembali diawali dengan pembiasaan religius. Siswa membaca Asmaul Husna, surat-surat pendek mulai dari Surah Al-Qari'ah hingga Ad-Duha, serta bacaan salat.
Suasana sekolah kemudian menjadi lebih meriah melalui lomba fashion show yang melibatkan siswa dan guru. Kegiatan ini memberikan ruang bagi warga sekolah untuk berpartisipasi dalam peringatan Hari Santri Nasional dengan cara yang menyenangkan.
Bagi siswa, tampil di hadapan teman-teman dan guru menjadi kesempatan untuk melatih keberanian serta kepercayaan diri. Mereka juga belajar menghargai penampilan dan kemampuan peserta lain, sekaligus memahami pentingnya sportivitas dalam sebuah perlombaan.
Setiap kelas memilih peserta terbaik untuk mendapatkan hadiah sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan penampilan mereka. Kemeriahan kegiatan tidak hanya terletak pada perlombaan, tetapi juga pada kebersamaan yang terbangun di antara warga sekolah.
Melalui kegiatan tersebut, peringatan Hari Santri menjadi lebih dekat dengan dunia anak-anak. Nilai kedisiplinan, keberanian, dan penghargaan terhadap orang lain dapat dipelajari melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui penjelasan di ruang kelas.
Pawai Ta'aruf, Belajar Berbagi dari Lingkungan Sekitar
Puncak peringatan berlangsung pada Rabu, 22 Oktober, melalui upacara Hari Santri Nasional di Gedung NU Center/MWC NU Kec. Purwareja Klampok. Siswa dan guru SD Negeri 4 Kalimandi mengikuti upacara dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para ulama dan santri dalam sejarah bangsa Indonesia.
Setelah upacara, kegiatan dilanjutkan dengan pawai ta'aruf mengelilingi Desa Kalimandi. Sebelum kegiatan berlangsung, siswa diminta membawa barang yang dapat disumbangkan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti bahan kebutuhan pokok dan sabun cuci.

Dalam kegiatan ini, siswa tidak hanya mengikuti pawai bersama, tetapi juga berkesempatan menyalurkan bantuan kepada warga yang membutuhkan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran sederhana tentang arti kepedulian dan pentingnya memperhatikan kondisi orang-orang di sekitar mereka.
Kegiatan berbagi juga memperlihatkan bahwa nilai keagamaan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Ibadah dan pembelajaran agama berjalan beriringan dengan kepedulian sosial, sehingga siswa memperoleh gambaran bahwa kebaikan tidak cukup diucapkan, tetapi perlu dilakukan.
Bagi anak-anak, membawa bantuan dan memberikannya kepada orang lain dapat menjadi pengalaman bermakna untuk belajar bersyukur, berempati, dan memahami bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk membantu sesama sesuai kemampuannya.
Menguatkan Negeri Dimulai dari Kebiasaan Baik
Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional di SD Negeri 4 Kalimandi menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dibangun melalui berbagai pengalaman.
Pembiasaan ibadah menumbuhkan kedekatan spiritual, fashion show menjadi ruang kreativitas, sedangkan pawai ta'aruf dan aksi berbagi mengenalkan kepedulian sosial sejak dini.

Semangat santri tidak hanya relevan bagi mereka yang belajar di pesantren. Nilai ketekunan menuntut ilmu, menjaga akhlak, menghormati guru, dan membantu sesama juga penting bagi siswa di sekolah dasar.
Dari lingkungan sekolah, semangat menguatkan negeri dapat dimulai melalui hal-hal sederhana: membiasakan diri beribadah, belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga kerukunan, dan berbagi kepada orang yang membutuhkan.
Dengan demikian, peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk menghubungkan nilai keislaman dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, generasi yang berilmu, berakhlak, dan peduli terhadap sesama merupakan bagian penting dalam membangun masa depan Indonesia.


