Di tengah laut yang bergoyang, di atas kapal kayu yang sederhana, seorang dokter spesialis bedah berdiri dengan satu kaki menyesuaikan gerakan ombak. Ia sedang melakukan operasi. Bukan di ruang steril rumah sakit besar, melainkan di geladak kapal yang berlayar ke pulau-pulau terpencil. Namanya Dr. Lie Augustinus Dharmawan. Ia dikenal sebagai pelopor rumah sakit apung swasta pertama di Indonesia.
Banyak yang menyebutnya dokter gila. Bukan karena ia kehilangan akal, melainkan karena ide yang dianggap mustahil. Menjual rumah untuk membeli kapal bekas, merombaknya selama bertahun-tahun, lalu berlayar ke pelosok negeri hanya untuk mengobati orang-orang yang tak mampu datang ke kota. Apa yang mendorong seorang dokter lulusan Jerman melakukan semua itu?
Mengenal Sosok Dr. Lie Dharmawan dan Awal Mula Mimpinya
Lie Tek Bie lahir di Padang, Sumatra Barat, pada 16 April 1946. Ia anak keempat dari delapan bersaudara dalam keluarga yang sangat miskin. Ayahnya, Lie Goan Hoey, meninggal saat ia masih kecil. Ibunya, Pek Leng Kiau atau Julita Diana, bekerja serabutan. Mencuci baju, memasak, membuat kue, hingga mencuci piring demi menghidupi anak-anaknya.
Dari ibu inilah Lie mendapat pesan yang kelak menjadi kompas hidupnya. โKalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar berapa pun. Tapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras.โ
Pesan itu tertanam kuat. Lie sering melihat ibunya menangis ketika tak mampu memberi makan. Pengalaman itu membuatnya tak pernah lupa pada rasa lapar dan rasa malu orang yang tak punya.
Meski hidup serba kekurangan, Lie berhasil menempuh pendidikan. Ia sekolah di SD Ying Shi, SMP Katolik Pius, dan SMA Don Bosco di Padang. Kemudian ia berangkat ke Jerman.
Di sana ia menempuh pendidikan kedokteran di Free University, melanjutkan spesialisasi di University Hospital Cologne, dan meraih gelar Ph.D. di Free University Berlin. Ia menjadi ahli bedah umum, bedah toraks, bedah jantung, dan bedah pembuluh darah.
Setelah hampir dua dekade di Jerman, Lie kembali ke Indonesia. Ia bekerja di RS Husada Jakarta. Tahun 1992 ia berhasil melakukan bedah jantung terbuka pertama di rumah sakit swasta di Jakarta.
Kariernya menanjak. Namun, hatinya terus terusik. Setiap kali melihat pasien dari pelosok yang datang terlambat karena jarak dan biaya, ia teringat pesan ibunya.
Titik balik terjadi di tahun 2009. Saat itu Lie sedang bertugas di Pulau Kei, Maluku. Seorang ibu datang membawa anaknya yang ususnya terjepit. Mereka sudah berlayar tiga hari dua malam dengan sampan.
Anak itu hampir tak tertolong. Operasi berhasil, tetapi Lie terdiam. Betapa banyak orang di pulau-pulau kecil yang sama sekali tak punya akses ke layanan medis. Jika mereka tak datang, berarti mereka menunggu kematian di rumah.
Dari situ lahir ide gila itu: kalau orang tidak bisa datang ke rumah sakit, maka rumah sakit yang harus datang ke mereka.
Rumah Sakit Apung DoctorSHARE sebagai Solusi Akses Kesehatan di Pelosok
Lie menjual salah satu rumahnya. Uangnya dipakai sebagai uang muka untuk membeli kapal pinisi kayu bekas pengangkut barang. Kapal itu bobotnya sekitar 114 ton, panjang sekitar 23 meter. Selama tiga tahun ia merombaknya sepotong demi sepotong. Ruang operasi, tempat tidur pasien, laboratorium sederhana, dan fasilitas medis dasar dibangun di dalam kapal kayu yang tua.
Pada 16 Maret 2013, Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan resmi berlayar perdana. Pelayaran pertama menuju Pulau Panggang di Kepulauan Seribu.
Di sana ia melakukan operasi pertama di atas kapal. Sejak itu kapal yang dijuluki โBahenolโ mulai menjelajah. Dari Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, hingga Papua.
Yayasan Dokter Peduli atau doctorSHARE yang ia dirikan bersama Lisa Suroso menjadi wadah resmi. Organisasi nirlaba ini fokus pada pelayanan kesehatan gratis dan bantuan kemanusiaan. Selain rumah sakit apung, doctorSHARE juga mengembangkan program Dokter Terbang untuk daerah pegunungan, klinik gizi, program tuberkulosis, penanganan kaki pengkor, operasi katarak, dan berbagai inisiatif lain.
Kapal pertama memang sederhana. Ia hanya mampu menampung operasi terbatas. Tapi semangatnya menular. Kemudian muncul RSA Nusa Waluya I dan II, lalu RSA dr. Lie Dharmawan II dan III.
Saat ini doctorSHARE mengoperasikan beberapa unit rumah sakit kapal yang terus berlayar ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan umum, bedah mayor dan minor, perawatan gigi, USG kandungan, hingga penyuluhan kesehatan. Semua tanpa biaya.
Tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan memang besar. Rasio dokter di wilayah timur jauh lebih rendah dibanding Jakarta.
Banyak warga harus menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk mencapai puskesmas terdekat. Rumah sakit apung menjawab persoalan itu dengan cara paling praktis: datang langsung ke pelabuhan atau perairan dangkal di dekat desa.
Dampak Sosial dan Kemanusiaan: Transformasi Kehidupan Masyarakat Melalui Pelayanan Medis Gratis
Sejak beroperasi, doctorSHARE telah menyentuh puluhan ribu jiwa. Data yang tercatat menunjukkan ribuan operasi mayor dan minor, puluhan ribu pasien rawat jalan, ribuan pemeriksaan USG, serta penyuluhan kesehatan kepada warga di berbagai pulau.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap operasi ada anak yang bisa kembali bermain, ibu yang selamat melahirkan, atau lansia yang bisa melihat kembali setelah operasi katarak.
Di banyak desa, kabar kedatangan kapal tersebar dari mulut ke mulut. Warga datang membawa keluarga yang sudah lama menahan rasa sakit.
Ada yang menderita hernia selama bertahun-tahun, ada yang hidup dengan tumor yang terus membesar karena tak ada biaya. Di atas kapal, mereka mendapat perawatan yang selama ini hanya bisa dibayangkan.
Dampaknya tidak berhenti di ruang operasi. Program Dokter Kecil melatih anak-anak di desa untuk memahami kesehatan dasar. Klinik gizi di Pulau Kei membantu anak-anak yang stunting.
Program kaki pengkor memberi harapan pada anak-anak yang sebelumnya dianggap cacat permanen. Setiap kapal yang berlabuh membawa bukan hanya obat dan alat bedah, tapi juga rasa bahwa mereka tidak dilupakan.
Lie sendiri sering menekankan bahwa kapal itu bukan miliknya. โKapal ini milik masyarakat Indonesia yang membutuhkannya.โ Ia menolak menyebut dirinya pahlawan. Baginya, ini hanya cara sederhana untuk membalas pesan ibunya dan rasa syukur karena sempat mengecap pendidikan tinggi.
Membangun Generasi Penerus dengan Semangat Pengabdian Tanpa Batas
Kapal pertama โBahenolโ karam pada Juni 2021 di perairan Bima, Nusa Tenggara Barat. Kejadian itu sempat membuat banyak orang prihatin. Namun, pelayanan tidak berhenti. Tim tetap melanjutkan misi di puskesmas setempat, dan kapal-kapal baru terus diluncurkan. Semangat itu lebih kuat dari kayu yang tenggelam.
Lie kini sudah berusia lanjut. Ia tetap menjadi pembina doctorSHARE. Generasi dokter muda, perawat, relawan, dan tenaga kesehatan lain terus bergabung. Mereka datang dari berbagai latar belakang.
Ada yang cuti dari rumah sakit besar, ada yang baru lulus, ada yang datang hanya untuk satu misi. Semua digabung oleh satu keyakinan: kesehatan adalah hak, bukan hak istimewa.
Warisan Lie bukan hanya kapal-kapal yang berlayar. Ia meninggalkan contoh bahwa seorang dokter bisa memilih jalan yang berbeda. Bukan mengejar tarif tinggi atau jabatan, melainkan menjangkau mereka yang paling jauh. Pesan ibunya yang sederhana berubah menjadi gerakan yang terus bergerak dari pulau ke pulau.
Di tengah diskusi tentang pemerataan kesehatan di Indonesia, kisah Dr. Lie Dharmawan tetap relevan. Ia membuktikan bahwa solusi tidak selalu datang dari anggaran besar atau teknologi canggih. Kadang cukup dengan keberanian menjual rumah, merombak kapal kayu, dan berani disebut gila. Dari situ, ribuan orang di pelosok mendapat kesempatan untuk hidup lebih sehat.
Hingga hari ini, rumah sakit apung doctorSHARE masih berlayar. Setiap kali kapal itu berlabuh di pelabuhan kecil, ada ibu yang menggendong anaknya, ada lansia yang dibantu berjalan, ada anak muda yang menunggu giliran diperiksa. Mereka menunggu bukan karena ingin sesuatu yang mewah. Mereka hanya ingin dilayani dengan setara. Dan di atas kapal itu, mereka mendapatkannya.


