Kawan GNFI, pernahkah Kawan mendengar singkatan FSTeM? Itu adalah nama baru Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Malang.
Sejak Mei 2026, fakultas ini resmi menjadi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika, dan UB disebut sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang memiliki fakultas dengan konsepย Science, Technology, and Mathematics (STeM).
Bukan sekadar ganti nama. Di balik perubahan ini ada gagasan tentang masa depan ilmu dasar di Indonesia. Mari kita telaah bersama.
Lahirnya FSTeM
Menurut Times Indonesia dan Gebrak.id, empat fakultas di UB berganti nama berdasarkan Peraturan Rektor Nomor 44 Tahun 2026. Salah satunya FMIPA, yang kini menjadi FSTeM. Nama baru ini disepakati pada 21 April 2026, ditandatangani pada 2 Mei 2026 yang bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, dan diperkenalkan lewat soft launching pada Rabu, 20 Mei 2026 di MIPA Center. Ijazah, transkrip, dan dokumen lama dengan nama fakultas sebelumnya tetap sah.
Prosesnya tidak singkat. Menurut Disway, pembahasan perubahan nama berlangsung sekitar tiga tahun. Nama awal yang diusulkan adalah MST, sebelum akhirnya FSTeM disepakati. Dekan FSTeM, Prof. Sukir Maryanto, menyebut transformasi ini sebagai โevolusi strategis untuk memastikan sains dasar yang kita rintis bermuara pada inovasi teknologi yang berdampak.โ
Ia menegaskan perubahan ini bukan penolakan terhadap masa lalu fakultas. Ketua Senat UB, Prof. Sasmito Djati, menambahkan bahwa perubahan nama merespons cepatnya perubahan era pengetahuan dan teknologi, dengan identitas FMIPA tetap dipertahankan.
Menurut sekretaris UB, Dr. Tri Wahyu Nugroho, langkah ini bertujuan menyelaraskan perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan industri dan tren masa depan. Alasannya masuk akal: sains modern semakin erat dengan teknologi dan komputasi, dan batas antar disiplin semakin cair.
Prestasi Mahasiswa
Dalam program โSTeMโS APPLAUSEโ yang dilaporkan Disway pada 2 Juni 2026, sejumlah mahasiswa FSTeM mendapat apresiasi atas capaian mereka, antara lain:
- Arinda Ayu Rahma meraih medali emas dalam lomba esai di UBS Fest Competitions.
- Zahra Humairah meraih penghargaan Best Presentation di ajang yang sama.
- Tim lima mahasiswa (Achmad Euro Winrasaputra, Salsabila Az Zahrah, Sabbhihisma Putri Luwina, Kharisma Jaya Abdallah, dan Anisa Jannata Widyaningrum) menjadi semifinalis di 2026 SOA Research Institute Student Research Case Study Challenge, kompetisi internasional yang diselenggarakan Society of Actuaries.
Angkanya mungkin terlihat kecil dibanding daftar kampus secara keseluruhan, tetapi capaian di bidang aktuaria menarik. Aktuaria adalah profesi yang memadukan matematika, statistik, dan keuangan, dan menjadi salah satu bidang yang dibutuhkan industri asuransi dan keuangan. Semifinal di ajang internasional menunjukkan kemampuan mahasiswa bersaing di level global.
Menghadirkan Pakar Dunia
FSTeM juga memperkuat internasionalisasi. Pada Juni 2026, Program Studi Sarjana Matematika menggelar rangkaian kuliah adjunct professor secara daring. Pengajarnya Dr. Mohana Sundaram Muthuvalu dari Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia, dan Prof. Dr. Sohail Nadeem dari Quaid-i-Azam University, Pakistan, seperti dilaporkan BacaMalang.
Topiknya aplikatif: analisis termal dengan Finite Element Method, prediksi pertumbuhan tumor otak dengan metode komputasi, pemodelan pesawat bomber, dan simulasi aliran darah dengan Finite Volume Method. Mahasiswa juga mempraktikkan sebagian materi dengan MATLAB. Tujuannya memperkuat kolaborasi riset global dan memberi pengalaman menerapkan teori matematika pada persoalan nyata di bidang medis dan industri.
Menurut saya, ini contoh bagus tentang bagaimana ilmu dasar tidak berhenti di papan tulis. Matematika yang dulu terasa abstrak ternyata dipakai untuk memahami aliran darah dan mengembangkan teknologi medis.
Mengapa Ini Penting bagi Indonesia
Ada beberapa alasan yang membuat perkembangan FSTeM layak kita perhatikan.
- Pertama, ilmu dasar adalah fondasi inovasi. Banyak teknologi hari ini, dari kecerdasan buatan hingga bahan baterai, bermula dari riset sains dan matematika. Fakultas yang memadukan sains, teknologi, dan matematika bisa menjadi jembatan antara penemuan dan penerapan.
- Kedua, kebutuhan SDM sains dan teknologi terus meningkat. Lulusan yang paham sains sekaligus komputasi sangat dibutuhkan industri, riset, dan pemerintah.
- Ketiga, tantangan tetap ada. Mengganti nama hanya langkah awal. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah kurikulum yang adaptif, riset yang berdampak, laboratorium yang memadai, dan lulusan yang terserap. Dari sumber yang saya baca, belum ada penjelasan rinci tentang program studi atau program riset baru, sehingga publik perlu mengikuti perkembangannya.
Penutup
Kawan GNFI, FSTeM UB menunjukkan bahwa kampus bisa terus beradaptasi tanpa melupakan akarnya. Dengan nama baru, prestasi mahasiswa, dan kolaborasi internasional, fakultas ini menyiapkan diri menjadi bagian dari ekosistem sains Indonesia yang lebih terhubung. Semoga ke depan lahir lebih banyak penemuan dan inovasi dari ruang kelas dan laboratorium mereka.
Menurut Kawan, bidang sains apa yang paling dibutuhkan Indonesia saat ini?


