Nama saya Belgi Alhuda. Sebagai Ketua Karang Taruna Desa Ciburayut, gerbang diskusi saya selalu terbuka bagi gelombang energi muda mahasiswa yang datang setiap tahunnya untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Rekam jejak kolaborasi kami pun telah banyak disorot dan #KKNMenulis di berbagai media massa nasional, termasuk dalam laman Good News From Indonesia (GNFI).
Namun, di balik setiap program kerja yang sukses, ada proses pendampingan intensif yang terjadi sejak sebelum mahasiswa menapakkan kaki di desa kami.
Sinergi ini dimulai jauh sebelum pelaksanaan KKN dibuka. Bulan Agustus kemarin terasa sangat spesial bagi kami karena berkesempatan bergerak bersama mahasiswa dari Universitas Djuanda (UNIDA), rumpun FISIP, FAIPG, dan Faperta, serta Universitas 17 Agustus 1945 (UTA '45).
Sebagai pemuda lokal, saya mengambil peran aktif memberikan masukan kritis serta memetakan potensi riil wilayah. Kami tidak ingin program yang dibawa mahasiswa menjadi proyek menara gading yang asing bagi kebutuhan warga. Kami mengarahkan mereka agar seluruh rancangan program kerja benar-benar membumi.
Satu hal menarik yang kerap muncul dalam ruang diskusi awal adalah kegelisahan mahasiswa mengenai label "Kampung Janda" di Ciburayut. Banyak dari mereka mengaku merasa penasaran sekaligus canggung setelah mencari informasi di media sosial.
Narasi digital di luar sana sering kali mengemas istilah ini secara sensasional dan keliru. Sebagai Ketua Karang Taruna, saya meluruskan miskonsepsi ini. Saya tegaskan bahwa Ciburayut adalah desa yang religius dan guyub.
Julukan informal tersebut berakar dari realitas sosial masa lalu di salah satu sudut wilayah kami, yaitu Kampung Panyarang. Banyak kepala keluarga di sana yang dahulu berprofesi sebagai buruh harian lepas di sektor tambang pasir galian C konvensional di kaki gunung.
Pekerjaan dengan risiko keselamatan tinggi tersebut sempat memicu beberapa insiden kecelakaan kerja fatal yang menyebabkan para istri kehilangan suaminya.
Jadi, ini bukanlah sensasi murahan, melainkan potret ketangguhan para perempuan kepala keluarga yang harus berjuang mandiri menjadi tulang punggung demi menyekolahkan anak-anak mereka. Penjelasan ini seketika mengubah rasa penasaran mahasiswa menjadi rasa hormat dan empati.
Saat KKN berjalan sebulan penuh dari 27 Juli hingga 27 Agustus, kami memberikan pendampingan penuh di lapangan. Salah satu bentuk kolaborasi paling monumental adalah Program Penguatan dan Penghijauan di Desa.
Aksi konkret ini melahirkan gerakan gotong royong luar biasa di Kampung Panyarang, RW 08, dengan melakukan penanaman 500 pohon.
Selain itu, kami juga bergerak aktif dalam pembuatan banner APBDdes guna meningkatkan keterbukaan informasi publik, pengadaan tong sampah edukatif, hingga rebranding produk UMKM lokal seperti jamu tradisional dan rengining Ciburayut.
Sinergi intens juga ditunjukkan oleh Kelompok 2 UTA '45 Jakarta melalui aksi korve desa dan penyerahan peta inset serta buku program kerja berkelanjutan di Kecamatan Cigombong.
Seluruh rangkaian pengabdian ini ditutup dengan kehangatan lewat malam perpisahan makan dan menonton after movie bersama ibu-ibu PKK dan dihadiri pula oleh Sekretaris Desa dan Ketua RT serta RW. Bagi kami, rekan-rekan mahasiswa bukan lagi sekadar tamu KKN, tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar pemuda Ciburayut.
Kepada seluruh rekan mahasiswa, ingatlah bahwa Desa Ciburayut akan selalu menjadi rumah kedua kalian. Kelak, ketika toga telah terpakai dan kesuksesan besar telah berada di genggaman, jangan pernah melupakan tanah tempat kalian pernah belajar membumi.
Kami menunggu kepulangan kalian kembali ke desa ini sebagai profesional yang siap membawa perubahan lebih besar.


