mahasiswa s 1 teknik industri uns berkontribusi melalui sdg 4 melalui projek capital education di vietnam - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa S-1 Teknik Industri UNS Berkontribusi Melalui SDG 4 Melalui Projek Capital Education di Vietnam

Mahasiswa S-1 Teknik Industri UNS Berkontribusi Melalui SDG 4 Melalui Projek Capital Education di Vietnam
images info

Pengalaman Global Volunteer Abelard (Sumber: Dokumentasi Pribadi Abelard)


Abelard Rafael Jeremia Widlan, mahasiswa S-1 Teknik Industri Universitas Sebelas Maret, telah menyelesaikan program Global Volunteer AIESEC selama enam minggu di Vietnam. Melalui Proyek Capital Education yang mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, Abelard menjalankan peran utama sebagai pengajar bahasa Inggris. Kegiatan tersebut menjadi ruang baginya untuk berkontribusi secara langsung kepada para siswa sekaligus belajar menghadapi lingkungan dan pengalaman yang baru.

Selama menjalani proyek, Abelard bertemu dengan banyak orang yang memiliki latar belakang dan cara pandang berbeda. Interaksi tersebut membuka pemahamannya bahwa setiap orang mempunyai cara tersendiri dalam melihat kehidupan dan mengambil keputusan. Ia belajar mendengarkan perspektif lain dengan lebih terbuka, tanpa terburu-buru menilai berdasarkan pengalaman pribadi.

Dalam kegiatan mengajar, Abelard memahami bahwa peran pengajar tidak berhenti pada penyampaian materi. Seorang pengajar juga perlu kreatif, berenergi, ekspresif, dan ramah agar siswa merasa nyaman untuk belajar. Ia berusaha membangun suasana kelas yang hidup serta hubungan yang baik dengan para siswa. Menurutnya, hubungan yang terbentuk selama proses belajar menjadi bagian penting dari pengalaman pendidikan itu sendiri.

“Saya belajar bahwa menjadi pengajar yang baik bukan hanya soal menyelesaikan sesi belajar. Hal yang sama pentingnya adalah membangun hubungan dengan siswa, memahami respons mereka, dan menciptakan suasana yang membuat mereka mau terlibat,” ujar Abelard.

baca juga

Bagi Abelard, proses belajar di kelas berlangsung dua arah. Ia datang untuk membagikan pengetahuan, tetapi juga belajar membaca situasi, menyesuaikan cara penyampaian, dan menjaga interaksi dengan siswa. Pengalaman ini memperjelas bahwa kreativitas dan sikap terbuka diperlukan agar materi tidak hanya disampaikan, melainkan juga dapat diterima dengan lebih baik.

Hubungan yang hangat membuat siswa lebih nyaman untuk merespons, sedangkan pengajar memperoleh kesempatan untuk memahami kebutuhan mereka selama kegiatan berlangsung. Pengalaman tersebut menunjukkan baginya bahwa kolaborasi dalam pendidikan memerlukan kerja sama antara pengajar dan siswa. Kesediaan untuk saling mendengarkan dan memahami perbedaan menjadi dasar hubungan yang mendukung proses belajar bersama.

Pengalaman di Vietnam juga mengubah cara Abelard menghadapi tantangan. Sebelum mengikuti program ini, ia sering meragukan kemampuan diri dan membayangkan berbagai kemungkinan buruk sebelum mengambil langkah pertama. Setelah menjalaninya secara langsung, ia menyadari bahwa rasa takut sering kali tumbuh dari skenario yang belum tentu terjadi. Pengalaman tersebut membuatnya percaya bahwa seseorang dapat melampaui perkiraan terhadap dirinya sendiri apabila bersedia menerima rasa tidak nyaman dan terus belajar.

Penggunaan bahasa Inggris setiap hari turut meningkatkan kepercayaan dirinya. Abelard mengakui bahwa kemampuan bahasa Inggrisnya belum sempurna, tetapi lingkungan yang menuntutnya untuk terus berkomunikasi membuat ia semakin terbiasa berbicara. Seiring waktu, ia merasakan perkembangan pada keberanian menyampaikan ide dan berinteraksi dengan orang lain.

baca juga

Selain kemampuan berkomunikasi, berbagai situasi yang tidak biasa melatih Abelard menjadi pribadi yang lebih adaptif, tangguh, dan tekun. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, merespons keadaan yang tidak selalu dapat diprediksi, serta belajar lebih cepat dari pengalaman sehari-hari. Karena itu, perjalanan ini tidak ia pandang sebagai kunjungan ke luar negeri semata, melainkan sebagai pertukaran pengetahuan, kontribusi nyata, dan proses pembentukan diri.

Abelard berharap pelajaran yang diperolehnya dapat memberi dampak positif bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada AIESEC atas dukungan dan kesempatan yang diberikan selama program berlangsung. Baginya, selesainya Proyek Capital Education bukan menjadi akhir perjalanan, tetapi awal untuk terus memperbaiki diri, berani mengambil kesempatan baru, dan membagikan pengaruh positif melalui tindakan yang nyata. Ia ingin membawa keberanian, keterbukaan, dan kemampuan beradaptasi tersebut ke proses belajar serta berbagai pengalaman berikutnya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.