Bimbo merupakah salah satu grup musik legendaris yang berasal dari Indonesia. Grup musik yang dipunggawai oleh trio bersaudara ini berasal dari daerah Bandung, Jawa Barat.
Pertama kali terbentuk pada 1966 silam, tidak terhitung lagi berapa banyak acara yang sudah diisi oleh grup musik legendaris tersebut. Tidak hanya di dalam negeri saja, Bimbo bahkan juga menghibur para penggemarnya yang berada di negara lainnya.
Singapura menjadi salah satu negara yang pernah disambangi oleh Bimbo. Salah satu pentas yang pernah diisi oleh grup musik ini di Singapura pernah terjadi pada 1971 silam.
Uniknya, penampilan pada Maret 1971 tersebut cukup berdekatan dengan lawatan terakhir kalinya ke Negeri Singa tersebut. Sebab beberapa bulan sebelumnya, grup musik yang diisi oleh trio Sam, Acil, dan Jaka ini juga baru saja melakukan kunjungan ke negara tersebut.
Walau sering tampil di negara tetangga, pundi-pundi uang bukanlah satu-satunya hal yang dicari oleh grup musik tersebut. Ada satu pengamatan unik yang diperhatikan oleh mereka, khususnya selera dari para penikmat seni yang ada di kedua negara.
Bagaimana momen saat Bimbo tampil di Singapura pada 1971 silam? Berikut ulasan lengkap terkait momen tersebut.
Bolak-balik Singapura dalam Waktu Dekat
Dikutip GNFI dari artikel "Mengapa Ramai Penyanyi2 Indonesia Berhijrah ka-Singapura?" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 14 Maret 1971, penampilan Bimbo di Singapura pernah terjadi pada Maret 1971 silam. Pada waktu itu, grup musik ini tampil di Hotel Ming Court yang ada di sana waktu itu.
Penampilan ini membuat Bimbo bolak-balik ke Singapura dalam waktu dekat. Sebelumnya pada Desember 1970, grup musik ini diketahui juga baru saja tampil di negara tersebut.
Walau begitu, banyak hal yang diperhatikan oleh para personel Bimbo saat melakukan lawatan dalam waktu dekat tersebut. Terlebih, pundi-pundi uang tidak menjadi satu-satunya tujuan yang mereka cari dalam kunjungan tersebut.
Lebih dari Sekadar Uang
Dalam pernyataannya kepada surat kabar Berita Harian, trio ini menjelaskan jika uang bukanlah tujuan utama mereka datang ke Singapura waktu itu. Sebab jika memang mereka hanya fokus untuk mencari uang, maka tampil di Indonesia saja sudah lebih dari cukup untuk grup musik tersebut.
Pengalaman tampil di Singapura menjadi hal berharga lain yang didapatkan oleh Sam, Acil, dan Jaka. Apalagi ketiganya masih berusia sangat muda pada saat melakukan lawatan tersebut.
Salah satu hal yang diperhatikan oleh grup musik ini adalah kebiasaan dari penikmat seni yang ada di Singapura dan Indonesia waktu itu. Mereka melihat ada perbedaan yang sangat jelas dari para penikmat yang berasal dari kedua negara tersebut.
Menurut para personel Bimbo, penikmat seni di Singapura lebih melihat nominal uang dari sebuah karya dibandingkan dengan nilai yang terkandung di dalamnya. Misalnya, jika ada sebuah lukisan berharga mahal, maka mereka akan menganggap karya tersebut menjadi sangat berharga dan mahal untuk didapatkan.
Hal ini berbeda dengan apa yang mereka lihat di Indonesia. Menurut grup musik tersebut, masyarakat Indonesia justru lebih memandang nilai yang dimiliki dalam sebuah karya seni.
Tidak heran, orang-orang Indonesia bisa saja membeli sebuah karya seni dengan harga mahal, walau terlihat biasa bagi masyarakat awam. Rasa bangga akan memiliki sebuah karya seni yang mereka anggap berharga menjadi salah satu pendorong mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Walau begitu, para personel Bimbo tetap memuji perkembangan seni yang ada di Singapura, khususnya dari kalangan generasi muda. Menurut mereka, pada waktu itu para generasi muda Singapura sudah banyak memegang peranan penting untuk mengembangkan seni dan budaya di negara tersebut.


