โDatang tak dijemput pulang tak diantar,โ ritual ini melambangkan keterbatasan manusia yang seringkali mengundang hal-hal yang tidak sepenuhnya mereka pahami, dan keharusan bertanggung jawab menyelesaikan segala sesuatu yang telah dimulai.ย
Familiar kan?tapi ini bukan tentang permainan horor masa kecil.ย
Di Jakarta, air hujan kadang rasanya seperti โtamu yang datang tak diundangโ akibat ulah kolektif yang kita perbuat sejak lama. Sesepele pembuangan sampah yang masih tidak pada tempatnya, misalnya.ย
Jakarta punya begitu banyak permukaan yang tertutup oleh material-material padat yang membuat air hujan kehilangan cukup ruang untuk meresap ke dalam tanah. Jika volume air meningkat dalam hitungan menit saja, saluran drainase dan sungai menerima beban yang melebihi kapasitasnya.
Akibatnya, genangan menjadi masalah berkala warga Jakarta. Mulai dari pengendara yang terjebak di jalan, sampai warga yang harus mengamankan barang-barangnya di rumah.
Melihat kondisi Jakarta yang sudah menjadi pelanggan tetap bencana banjir, Pemprov DKI Jakarta selalu mengupayakan yang bisa dilakukan. Kali ini, kabar baik datang dari wilayah Timur di Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta meresmikan Embung Bambu Hitam dan Embung Batu Bangkong yang dibangun oleh Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta pada tahun 2025 lalu.
Keduanya memiliki kapasitas tampungan gabungan sebesar 36.550 meter kubik. Embung Batu Bangkong mampu menampung 20.300 meter kubik air di atas lahan seluas 1,3 hektare.
Sementara itu, Embung Bambu Hitam memiliki kapasitas 16.250 meter kubik dengan luas lahan sekitar 2,1 hektar.
Kalau angka-angka itu terasa terlalu teknis, coba kita bayangkan saja dua ruang besar yang disiapkan agar air punya tempat tampungan layaknya sebuah ember.
Dalam pengelolaan banjir, menahan laju air melalui tampungan dapat menjadi opsi untuk memperlambat laju air, sehingga tidak cepat menyebar menjadi banjir.
Tentu saja, kita tidak boleh buru-buru menganggap dua embung ini sebagai jalan pintas untuk masalah banjir Jakarta. Kapasitas 36.550 meter kubik rasanya memang cukup besar, namun tetap perlu dilihat sesuai fungsi dan jangkauan infrastrukturnya.
Banjir Jakarta melibatkan begitu banyak faktor, mulai dari curah hujan, kondisi drainase, kapasitas sungai, hingga kemampuan kawasan menyerap air.ย
Sebagai konteks, embung adalah sebuah kolam atau bendungan buatan yang berfungsi menampung air hujan dan aliran permukaan saat musim hujan untuk dimanfaatkan kembali ketika musim kemarau. Selain membantu mengendalikan banjir, embung juga dapat menjadi sumber air irigasi bagi lahan pertanian dan perkebunan serta menyediakan air baku bagi kebutuhan masyarakat sekitar.
Kemudian, embung juga mendukung konservasi air dengan meningkatkan peluang peresapan ke dalam tanah dan menjaga kestabilan muka air tanah. Keberadaannya mampu membantu mengurangi aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi dan sedimentasi di wilayah hilir.
Di sejumlah daerah, embung bahkan dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar guna mendukung ketahanan pangan masyarakat.ย
Pembangunan embung baru di Cipayung, Jakarta TImur didesain agar tetap berguna bagi masyarakat luas. Terdapat beberapa fasilitas yang disediakan di sekitar embung, di antaranya adalah jalur jogging, taman bermain anak, balai warga, lapangan multifungsi, dan sunken plaza.
Kedua embung ini dilengkapi oleh instalasi pengolahan air limbah dengan kapasitas 250 meter kubik per hari di Embung Batu Bangkong dan 270 meter kubik per hari di Embung Bambu Hitam.
Sepertinya kita sudah banyak melihat bahwa Pemprov DKI Jakarta selalu mengupayakan pengendalian banjir. Setelah diresmikannya Embung Batu Bangkong dan Embung Bambu Hitam, keberadaan infrastruktur pengendalian banjir di Jakarta Timur diharapkan semakin optimal, baik untuk mendukung konservasi air maupun menyediakan ruang publik yang bermanfaat bagi masyarakat.ย

